OCBC NISP Dorong Penetrasi Wealth Management - Pangsa Masih Besar

NERACA

Jakarta - Mencuatnya kasus pembobolan uang nasabah premier Citibank senilai Rp40 miliar oleh Relationship Manager Citigold, Malinda Dee, pada 2011 lalu telah menyebabkan 23 bank dipaksa Bank Indonesia (BI) menutup sementara layanan nasabah kaya itu. Meskipun layanan tersebut sudah diizinkan beroperasi kembali, namun Bank Indonesia (BI) selaku pengawas bank dinilai tidak dapat membedakan antara layanan wealth management dan priority banking.

Oleh karena itu, persepsi yang terbentuk di masyarakat adalah wealth management sama dengan priority banking. Sementara sisi lain, wealth management harus dikembangkan karena memiliki pangsa pasar (market share) yang besar, di mana Indonesia booming jumlah kelas menengah, diikuti dengan bonus demografi dan tingkat konsumsi masyarakat tinggi.

Ketika ditemui, Senior Corporate Executive Consumer Banking PT Bank OCBC NISP Tbk, Ka jit, mengatakan pihaknya telah beberapa kali dipanggil otoritas perbankan terkait definisi wealth management dan priority banking. Dia meminta agar dibedakan pemahaman kedua layanan tersebut.

“Wealth management berbeda dengan priority banking. Kalau diartikan, wealth itu kekayaan (uang) dan management adalah pengelolaan. Sedangkan priority banking itu nasabah yang memiliki uang lebih. Nah, kasus Citibank kemarin merupakan kasus nasabah priority banking, dan bukan wealth management,” terang Ka Jit kepada Neraca, Rabu (26/6).

Singkatnya, lanjut Ka Jit, wealth management adalah layanan yang memberikan solusi produk investasi keuangan dan menyasar tidak hanya nasabah premier tetapi juga nasabah general. Sedangkan priority banking lebih segmentasi, lantaran hanya melayani nasabah konglomerat. “Meski begitu, wealth management identik dengan priority banking karena mayoritas memang orang kaya,” jelasnya.

Mengenai penetrasi, Ka Jit mengungkapkan bahwa penetrasi wealth management di Indonesia sangat rendah, di bawah satu persen. Pasalnya, karena selama ini masyarakat hanya menabung dan mendepositokan saja uangnya di bank. Selain itu, imbuh Ka Jit, masyarakat yang tergolong middle class ini terdapat dua macam, yaitu memiliki access income dan tidak memiliki access income.

“Middle class yang punya access income pun terbelah dua lagi, apakah kelebihan uang yang mereka punya dibelanjakan atau ditabung? Kalau dipakai belanja, ya, pasti koleksi kartu kredit. Artinya kan ngutang. Nah, kelebihannya inilah untuk bayar cicilan utang konsumtif,” ungkap dia. Berbeda lagi jika middle class yang memiliki tabungan.

Ka Jit memprediksi jumlah kelas menengah itu sekitar 60 juta jiwa. Dari angka sebesar itu, dia memetakan sebanyak 16 juta jiwa memiliki income (pendapatan) di atas Rp10 juta per bulan hingga akhir 2012.

“Jadi mereka ini masuk golongan di atasnya middle class. Makanya, kita memprediksi sampai tahun 2015, angkanya bisa tembus 50 juta jiwa,” ujar Ka Jit, optimis. Sementara middle class tak memiliki access income adalah masyarakat yang menerima gaji di awal bulan kemudian habis pada akhir bulan.

Jauh tertinggal

Artinya, kata Ka Jit, mereka hanya berfikir memenuhi kebutuhan sehari-hari karena tidak memikirkan memiliki tabungan. Ini yang dinamakan miss market. “Jadi wajar saja (penetrasi) rendah. Mindset-nya harus diubah. Ini memang butuh waktu tapi kalau edukasi dilakukan secara kontinyu saya optimis. Kita juga memberikan masukan atau solusi agar memanfaatkan produk-produk pasar keuangan supaya uang mereka berputar,” ulasnya.

Ka Jit kemudian mencontohkan penetrasi wealth management di Hongkong dan Jepang, di mana di kedua negara ini 60% masyarakatnya menjadi nasabah wealth management. Apalagi di Amerika Serikat (AS) sendiri sudah mencapai 80%. Artinya, kata dia, 8 dari 10 individu menjadi nasabah wealth management untuk mengelola keuangan secara aktif.

Untuk Indonesia, bankable account atau individu yang memiliki rekening di bank sebanyak 90 juta jiwa. Tetapi, lanjut Ka Jit, kalau dilihat dari indikator untuk wealth management, seperti reksa dana misalnya, individu yang punya tercatat jumlahnya 200 ribu jiwa.

“Dari 200 ribu itu ada multiple order. Artinya, satu orang memiliki dua account atau lebih. Jadi, nasabah orang kaya ini account sengaja dipecah-pecah dan mengatasnamakan orang lain. Padahal sebenarnya pemiliknya satu orang. Yang seperti ini, menurut hitungan saya, jumlahnya sekitar 100 ribu yang tercatat,” tukas Ka Jit.

Dengan demikian, dari 90 juta jiwa bankable account, yang melakukan investasi aktif, baik reksa dana atau produk keuangan lainnya di pasar, Ka jit memperkirakan jumlahnya kurang lebih 200 ribu jiwa, atau tak sampai satu persen. [ardi]

Related posts