BTN Mengejar Posisi Tujuh Besar Lewat Transformasi - Dari Mortgage Bank Menuju Consumer Bank

Layar sudah dikembangkan, sauh sudah diangkat. Nakhoda baru PT Bank Tabungan Negara (BTN) sudah melepas komando, bank milik pemerintah ini harus masuk dalam kelompok tujuh besar perbankan di Indonesia. Sebagai bank yang dominan di pembiayaan perumahan, BTN mulai memperkuat dan memperbesar pangsa pasarnya di industri properti, terutama properti menengah atas. Sebuah langkah transformasi pun digelar.

------------------------------------------------------------------------------------------------

Rumah murah, rumah BTN. Itu pameo yang muncul di kalangan masyarakat. Boleh dibilang, BTN adalah ikon rumah murah. Malah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat masih berpangkat mayor, bisa memiliki rumah di kawasan Bekasi dengan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari Bank BTN. Pameo itu begitu melekat kuat sejak beberapa dekade silam, sampai sekarang.

Namun seiring waktu, Bank BTN pun tak mau hanya menjadi penguasa dalam bisnis pembiayaan untuk hunian murah saja. Beberapa tahun belakangan ini, BTN mulai gesit berkiprah di dalam bisnis pembiayaan hunian menengah dan mewah. Tak hanya itu, bank pelat merah ini juga mulai gesit memasuki bisnis pembiayaan lain yang masih dalam lingkup industri properti.

Apalagi, backlog perumahan atau kekurangan pasokan rumah di tanah air sudah mencapai belasan juta unit. Paling kurang, ada 14 juta unit rumah yang dinanti konsumen. Tak heran, pasar properti pun rajin booming. Itu merupakan potensi bisnis yang besar bagi para pengembang dan perbankan.

Menyadari besarnya pangsa pasar di segmen hunian menengah dan atas, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sigap berbenah untuk mengejar pertumbuhan bisnis di pasar hunian menengah atas. Kendati sangat ahli dalam bisnis properti, terutama perumahan, namun Bank BTN tak mau sembarangan menggelar operasi bisnis.

Jurus pertama yang dilakukan justru memperbaiki diri agar semua unit bisnis dan sumberdaya manusia (SDM) Bank BTN siap melaju dengan target bisnis baru. Perbaikan dimulai lewat sebuah transformasi bisnis.Dalam “tubuh” transformasi itu berlaku sepenuhnya perubahan paradigma yang ditopang oleh inspirasi, kreativitas, inovasi dan invensi.

Malah, Menteri BUMN, Dahlan Iskan, sejak awal ingin mengubahmindsetBank BTN dengan mendudukkan prinsip dasarleadershipdanentrepreneurship, sebagai fundamental dasar dari transformasi itu sendiri. Keinginan Menteri BUMN itu diterjemahkan sang nakhoda, Maryono, dengan target membawa BTN menjadi world class bank.

“Transformasi bisnis merupakan fundamen untuk menjadi pemimpin pasar (market leader) di sistem pembiayaan KPR,” jelas Maryono, dalam suatu kesempatan. Itu sebabnya, Maryono sangat ingin transformasi bisnis Bank BTN, terutama masuk ke segmen menengah atas, bisa diketahui masyarakat. “Selama ini mereka hanya tahu bahwa Bank BTN adalah bank penyedia rumah kecil,” terang Maryono, pekan lalu.

Menuju World Class Banking

Dengan perkembangan perekonomian nasional saat ini, maka transformasi bisnis menjadi agenda wajib bagi Bank BTN. Maryono melihat stabilnya perekonomian nasional dengan pertumbuhan di kisaran 6% merupakan peluang sekaligus tantangan. Transformasi bisnis Bank BTN, imbuh Maryono, adalah salah satu cara untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan rumah bagi masyarakat.

“MakanyaBTN tidak hanya memfasilitasi KPR saja, namun juga memberikan kredit lain di sektor perumahan seperti kredit konstruksi dan kredit konsumsi seperti kredit pembelian furnitur, AC dan lain-lain. Jurus ini dilakukan agar Bank BTN makin dikenal masyarakat dan mendorong nasabah lebih aktif bertransaksi. Maryono meyakini bahwainovasi ini merupakan salah satu cara BTN agar nasabah semakin nyaman dan setia ke Bank BTN.

\\\"Pengembangan ini juga akan berimbas positif pada KPR kami. Masyarakat akan memilih KPR BTN karena layanannya lengkap.Kami ingin menjadi pemimpin bisnis ini di Indonesia. Apalagi, Indonesia diproyeksikan tumbuh terus hingga puncaknya tahun 2020. BTN juga ingin menjadi world class banking,” ujar Maryono.

Gebrakan menuju world class banking telah dilakukan BTN. Bahkanroadmap transformationsudah dimulai sejak awal 2013. Pelaksanaan transformasi itu sendiri dilakukan dalam tiga segi, mulai dari bisnis, fondasi, dan kultur. Selain untuk merubah paradigma publik terhadap BTN sebagai bank kelas dunia, juga untuk menjadikan BTN sebagai bank dengan aset terbesar dalam tiga sampai lima tahun ke depan.

\\\"Saat ini kami masih di posisi sembilan besar. Tiga sampai lima tahun, kami ingin masuk tujuh besar,” tegas Maryono. Demi mencapai target, Bank BTN telah meningkatkan sinergi dengan BUMN lain, seperti PT Telkom Tbk, PT Pegadaian (Persero), PT Pos Indonesia (Persero) dan PT Jamsostek (Persero). “Kami juga terbuka bekerjasama dengan pemerintah daerah (pemda), perpajakan, agen properti dan lainnya. BTN jugaakan melakukan perubahan di sisi sumberdaya manusia (SDM), teknologi informasi, dan tentu saja, proses bisnis itu sendiri,” terang Maryono.

BTN juga membidik aset-aset properti dan tanah yang milik BUMN yang bisa dibiayai. BTN juga akan menyempurnakan layanannya dengan meluncurkan portal properti. Ke depan, portal ini akan menjadibusiness centerdandigital marketingBTN. Melalui portal ini pula, BTN akan membidik pangsa pasar anak muda.

Maryono menambahkan, transformasi tersebut sudah mulai berjalan sehingga diharapkan menopang kinerja BTN. Dengan demikian, BTN menargetkan kredit dan aset tumbuh antara 25%-30% tiap tahunnya.

SDM Berkualitas

BagiChief Executive OfficerdanFounderMarkPlus, Inc. Hermawan Kartajaya, transformasi bisnis yang dilakukan Bank BTN sangat bagus. Menurut Hermawan, melalui transformasi ini, bisnis bank BTN bakal melesat. Alasannya, Bank BTN tetap padacore business-nya, yaitu properti. “Itu yang tidak bisa hilang. Bahasa marketingnya, persepsi kalau BTN itu bank perumahan sudah menancap dalam,” terang Hermawan.

Hanya saja, imbuh Hermawan, harus ditambah penyediaan teknologi informasi yang mumpuni. Oleh karena itu, BTN saat ini mau masuk duniadigital marketinguntuk memperluasvaluemereka. Ke depan, “BTN Baru” ini, sesuai perintah Menteri BUMN Dahlan Iskan, bahwa istilah ataumindset“BTN Lama” tidak ada lagi, di mana hanya membiayai kredit perumahantok.

“Indonesiakanpunya nilai kepercayaan diri (confident) yang tinggi untuk sektor properti. Bahkan lebih tinggi dari China. BTN punya peluang bagus di sini asalkan bisnis intinya diperkuat. Setelah itu tinggal dibuktikan bahwa BTN tidak hanya bank dengan konsep 6L (lu lagi, lu lagi, lu lagi),” papar Hermawan.

Hanya saja, tetap harus diakui kalau BUMN rata-rata bermasalah dengan SDM. Oleh sebab itu, untuk mengembangkan teknologi informasi, Bank BTN wajib memiliki SDM yang mumpuni. “Itu mutlak dilakukan. Prinsip dasarleadershipdanentrepreneurship, mesti ditanam dalam-dalam untuk mewujudkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG),” tutur Hermawan.

Baginya, masalah yang menghambat perkembangan Bank BTN hanyacultural work(budaya bekerja) saja. Itu sebabnya, Bank BTN harus mengubah gaya bekerjanya. “Saya melihat BTN sudah memenuhi 3 segi, yaknibusiness transformastion, foundation transformation, danculture transformation. Khususfoundation transformation, teknologi dan SDM dalam posisi sentral. Dengan pencitraaan “BTN Baru” harapannya tentu akan berbeda dan lebih baik lagi,” jelas Hermawan [kamsari]

Related posts