Galakkan Transportasi Aktif

Belum genap satu tahun Jokowi menjabat Gubernur DKI Jakarta. Berbagai tindakannya yang extra ordinary membuat masyarakat salut. Kebijakan yang ditelorkan juga tidak biasa. Terakhir terkait kenaikan BBM, Jokowi memutuskan tidak menaikkan tarif Trans Jakarta. Tentu saja harga dan jumlah transportasi akan menentukan kebutuhan dan penggunaannya secara maksimal. Harapannya akan lebih banyak masyarakat yang memakai angkutan umum.

Dalam jangka panjang, kebijakan transportasi murah tidak hanya akan mengurangi kemacetan Jakarta. Tapi juga mampu menyehatkan masyarakat. Tentu saja dengan tingkat polusi udara yang lebih terkontrol. Bagaimana tidak? Untuk menjaga tubuh tetap sehat, untuk usia dewasa, World Health Organization (WHO) menganjurkan untuk melakukan aktifitas fisik sedang sebanyak 150 menit per minggu. Artinya, lima hari dalam seminggu selama 30 menit tiap hari. Waktu 30 menit tidak lama. Tapi nyatanya sulit dilakukan. Nah dengan transportasi umum, akan membantu masyarakat beraktifitas fisik saat pergi dan pulang kantor atau sekolah. Sesuai yang dianjurkan. Merubah sedentary lifestyle. Sebab beralih ke transportasi aktif dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi bisa menjadi solusi mengatasi risiko kesehatan akibat hidup tidak aktif.

Apa untungnya dari sisi kesehatan? kalori dari makanan yang dimakan pasti akan keluar, hingga lebih mudah untuk menjaga berat badan. Bahkan terhindar dari obesitas. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hidup lebih aktif akan menurunkan risiko terhadap semua penyebab kematian dini, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, stroke, kencing manis, kanker usus dan kanker payudara, serta depresi. Selain itu juga akan mengurangi risiko terhadap patah tulang. Siapa yang tidak mau terhindar dari penyakit yang akan membuat kita ‘miskin’ bila sudah terkena.

Selain berdampak terhadap kesehatan, sistem transportasi massal akan membantu negara dalam pembiayan terkait dengan Jamkesmas yang mulai berlaku 2014 nanti. Masyarakat yang aktif bergerak akan mencegah berbagai penyakit yang biaya pengobatannya harus ditanggung negara. Dampak lingkungan yang juga akan lebih sehat. Polusi suara dan polusi udara. Tersedianya kualitas udara yang lebih baik. Juga, menyediakan infrastruktur transportasi yang aktif dan sustainable akan lebih murah dibandingkan membangun jalan-jalan baru. Dan itu pun belum tentu memecahkan masalah.

Keuntungan transportasi aktif tidak berhenti disitu. Konservasi energi dan keuntungan dalam hal keselamatan berlalu lintas. Di negara dengan sistem transportasi yang baik, menggunakan transportasi umum jauh lebih aman dibanding kendaraan pribadi, bahkan hingga 79 kali lebih aman. Aman dari kecelakaan di jalan yang sekarang merupakan penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia berdasar WHO 2011.

Lalu kenapa tidak langkah Gubernur Jakarta untuk tidak menaikkan tarif Trans Jakarta diikuti oleh pemegang keputusan terhadap sistem transportasi? Jika belum bisa menyediakan transportasi yang nyaman dan terpadu, paling tidak memberi transportasi yang murah. Hingga akan mengurungkan niat masyarakat untuk tetap menggunakan kendaraan pribadi. Apalagi jika trotoar sangat baik tersedia dan terintegrasi dengan sistem transportasi. Akan lebih membuat masyarakat aktif bergerak. Tentu saja efisiensi dan strategi yang tepat dibutuhkan untuk menyediakan transportasi murah agar dapat menutup ‘biaya produksi’.

Related posts