Berpihaklah pada Angkutan Umum Massal - MENGURAI KEMACETAN DI JAKARTA

MENGURAI KEMACETAN DI JAKARTA

Berpihaklah pada Angkutan Umum Massal

Sekitar Maret 2013 lalu, PT Jasa Marga (persero) memasang spanduk besar-besar di beberapa jembatan yang melintang di jalan tol arah ke kota. Isinya adalah sayembara mengatasi kemacetan di jalan tol dalam kota. Hadiahnya menggiurkan, total Rp 100 juta.

Saat ini, sudah ada tujuh terobosan yang sudah diterapkan, tapi tetap saja jalan tol dalam kota, dan kini sudah merembet ke Jagorawi, Cikampek, dan Jakarta Outer Ring Road (JORR). Ketujuh terobosan itu adalah, menerapkan contra flow Cawang Semanggi, penutupan pintu keluar Tegal Parang dan Bukopin, penerapan contra flow Grogol-Slipi, penerapan contra flow Cawang Rawamangun, pelebaran tol Pluit-Kapuk, penambahan Gardu tol Pluit-Kapuk, dan penyelesaian proyek tol pelabuhan Tanjung Priok.

Panitia sudah memilih 10 nominator dari 1.016 pengirim proposal dan diumumkan dalam website Jasa Marga pada 21 Mei lalu. Namun hingga kini belum ada pengumuman siapa pemenangnya dan apa solusinya. Jumat pekan lalu (21/6), Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan, Jasa Marga membayar konsultan dari Jepang untuk membantu mengatasi kemacetan di jalan tol dalam kota Jakarta.

Konsultan itu diminta menilai gagasan yang dilontarkan para nominator sayembara tersebut. Menurut Dahlan, ada tiga konsep yang paling layak diterapkan. Pertama, membuat under pass atau terowongan bawah tanah sepanjang 1 KM dari pintu keluar tol di dekat persimpangan Jalan Tendean dan Jalan Gatot Subroto arah perempatan Kuningan.

Under pass ini akan diarahkan menuju Kuningan atau Jalan Rasuna Said. Untuk membangun underpass Kuningan, Dahlan memperkirakan dibutuhkan investasi sekitar Rp 140 miliar. Menurutnya, proyek itu dapat dibiayai bersama Pemprov DKI Jakarta dan Jasa Marga.

Kedua, menambah sayap-sayap atau tepian jalan yang bisa dilewati kendaraan pada jalan tol layang di sekitar Tomang. \\\"Daerah Slipi itu tepatnya Tomang, selama ini truk dari Tanjung Priok ke Tangerang hanya bisa dilewati 1 truk, itu pun sering termehek-mehek. Sudah di-studi, itu bisa diberi sayap. Sehingga sedan dan mobil kecil bisa lewat sayap,\\\" tutur Dahlan.

Ketiga, membuat jalan tol layang arah Cibubur-Semanggi. Jalan tol khusus ini, digunakan agar tidak ada tabrakan jalur antara kendaraan yang menuju ke arah Tanjung Priok.

Berbasis Angkutan Umum

Kemacetan di jalan tol tersebut memang sudah demikian akutnya. Khusus kemacetan di dalam kota Jakarta, rezim Gubernur Fauzi Bowo menetapkan dan berhasil memasukkan usulan proyek pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota dalam Perda Nomor 1/2012 tentang Rencana Tata Ruang 2030. Rencana itu banyak ditentang para pengamat transportasi.

Sebab, pembangunan jalan tol esensinya memanjakan para pemilik kendaraan pribadi,bukan mengutamakan pengembangan sarana dan jaringan transportasi umum massal. “Karena itu, pembangunan jalan layang di dalam ruas jalan tol seperti yang diungkapkan Pak Dahlan itu juga memanjakan kendaraan pribadi, artinya Jakarta akan tetap macet,” kata Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instrans) Darmaningtyas.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Muslich Zainal Asikin dan Kepala Laboratorium Universitas Indonesia Ellen Sophie Wulan Tangkudung. Muslich mengusulkan agar konsep mengatasi kesemrawutan lalu lintas dengan pola transit oriented development (TOD). Yaitu mensinergikan kawasan multifungsi dengan jaringan transportasi umum massal, baik monorel, mass rapid transit (MRT), juga jaringan KRL.

Menurut Muslich, pemerintah bertanggung jawab mengupayakan sarana transportasi umum massal yang aman, nyaman, cepat, dan terjangkau. “Contohlah Hong Kong dan Seoul. Di Hong Kong, 80% pergerakan orang menggunakan angkutan umum, yaitu MRT, dan di Seoul pengguna angkutan umum mencapai lebih dari 70%,” kata Muslich yang juga peneliti pada Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM.

Dalam catatan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, seperti dikutip dalam buku ‘Manajemen Transjakarta Busway’, pada 2010 terdapat sekitar 29,5 juta perjalanan setiap hari di Jakarta. Terbanyak perjalanan itu adalah urusan bisnis sebanyak 6,67 juta, disusul pergi ke tempat kerja sebanyak 6,63 juta, ke sekolah dan berbelanja sama-sama 6,27 juta, serta urusan pribadi 3,65 juta.

Sedangkan dari Masterplan Transportasi Massal Jabodetabek yang disusun Kementerian Perhubungan, untuk di kawasan Jabodetabek saat ini diperkirakan mencapai 50,05 juta perjalanan per hari. Hanya 14,42 juta perjalanan yang menggunakan angkutan umum atau 27%. Selebihnya menggunakan sepeda motor 28,12 juta atau 53%, dan mobil pribadi 10,50 juta atau 20%.

Sementara itu, Ellen setuju dengan usulan agar dibangun jaringan angkutan umum massal seperti KRL dan monorel yang memanfaatkan ruas jalan tol. Misalnya dari Ciawi hingga Cawang lalu bercabang ke Priok dan Pluit. Tak perlu membebaskan lahan, kaena lahan tersebut milik negara. Tinggal bagaimana koordinasi antarinstansi pemerintah saja. “Saya yakin, kemacetan di jalan tol dan sekitarnya akan berkurang drastis, karena orang akan lebih nyaman dan aman naik kereta di jalan tol, dijamin tidak macet,” tutur Ellen yang juga aktif di MTI. (saksono)

Related posts