Realitas Pasar

Realitas pasar adalah sebuah keniscayaan, karena sifatnya sangat dinamis dengan bergerak naik dan turun seiring dinamika kemajuan ekonomi antarbangsa sedunia. Realitas pasar tidak pernah akan mati karena alasan apapun. Yang ada adalah adalah pergerakan, kadang bergerak cepat dan kadang bergerak lambat, tergantung dari naik turunnya pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ada atau tidak adanya globalisasi dan perdagangan bebas, kebutuhan barang dan jasa tetap ada dan memang diperlukan untuk menopang kebutuhan hidup masyarakat, mendukung pelaksanaan pembangunan dan investasi, yang dilaksanakan oleh setiap negara di dunia.

Selain itu, ada kebutuhan pangan, energi, alat transportasi dan sebagainya. Fenomena semacam ini menggambarkan bahwa realitas pasar itu ada dan akan terus hidup di sepanjang waktu. Realitas pasar tidak bisa dibatasi oleh sekat ruang dan waktu karena bisa menimbulkan distorsi dan hambatan. Tetapi juga tidak bisa dibiarkan bergerak liar tanpa kendali karena bisa berdampak merugikan bagi pihak yang dirugikan. Sehingga karena itu perlu ada campur tangan pemerintah untuk mengatasi kerugian yang timbul. Secara demografis, realitas pasar itu sangat besar sekali.

Perserikatan Bangsa-Bangsa membuat proyeksi bahwa pada tahun 2025 jumlah penduduk dunia akan mencapai 8,1 miliar jiwa. Saat ini jumlah penduduk dunia mencapai 7,2 miliar jiwa. Pada tahun 2050, jumlahnya diperkirakan bisa mencapai 9,6 miliar jiwa. Indonesia, yang berpenduduk 240 juta jiwa, tahun 2025 diperkirakan akan bisa mencapai 282 juta jiwa, lalu bertambah menjadi 321 juta jiwa pada tahun 2050. Dan dunia pun berkata, “It is a big market,” berdasarkan pertimbangan demografis.

Kita tahu Indonesia pasti menjadi incaran investor dan menjadi perburuan bagi para pedagang kelas dunia untuk meraup keuntungan dan melakukan kapitalisasi aset di Indonesia. China sangat responsif melihat fenomena ini dan karenanya wajar jika China dapat mengambil manfaat dengan cara menjadi pemasok barang kelas dunia. Bukti China bergerak cepat merespon realitas pasar adalah ketika Deng Xiaoping pada tahun 1980 menjadikan Shenzhen menjadi salah satu Zona Ekonomi Eksklusif. Daerah ini semula hanya desa yang karena menjadi zona ekonomi eksklusif berubah menjadi kawasan yang tumbuh cepat.

Kemudian, pada tahun 1985- 2005, jumlah penduduk semula hanya 13 ribu jiwa melonjak drastis menjadi 11 juta jiwa. Pertumbuhan ekonominya meningkat rata-rata 28% sepanjang tahun 1980-2004. Ekspor pun ikut terdongkrak US$101,5 miliar pada tahun 2005, atau 13% dari total ekspor China kala itu.

Nah, agar tidak ketinggalan kereta, maka Indonesia, baik pemerintah maupun dunia usaha, harus bersikap satu suara untuk mencermati realitas pasar yang ada. Daya saing jawaban satu-satunya untuk ikut merespon pasar. Jangan berdebat soal menang dan kalah dalam melihat realitas pasar, karena apapun kondisinya Indonesia pasti akan kebagian untuk ikut mengambil manfaat dari realitas pasar yang ada.

Des, kita harus berhasil mengefisienkan ekonomi nasional agar kita tidak dalam posisi merugi. Surplus neraca keuangan dan modal serta surplus dalam neraca transaksi berjalan harus menjadi target utama. Jangan sampai saling membuat distorsi atau saling menciptakan trade off akibat banyaknya terjadi disharmonisasi regulasi sehinga melemahkan koordinasi.

Related posts