RI Ajak Irak Bangun Kilang Minyak - Industri Migas

NERACA

Jakarta - Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Edy Hermantoro mengungkapkan bahwa Pemerintah akan menggandeng Irak untuk membangun kilang minyak baru di dalam negeri. Ia menjelaskan bahwa sebagian dana untuk pembangunan kilang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 90 triliun.

\"Pembangunan kilang minyak yang menggunakan dana APBN nanti akan menggandeng Irak,\" ungkap Edy di Jakarta, Rabu (26/6).

Menurut dia, sejauh ini pihak Irak akan menjamin dari sisi suplai minyak mentah ke kilang sebesar 300.000 barel per hari. Akan tetapi, lanjut Edy, bisa dimungkinkan suplainya bertambah menjadi 600.000 barel per hari. Ia mengaku bahwa tidak ada alasan khusus pemerintah memlih Irak untuk bekerjasama membangun kilang minyak di Indonesia.

Edy menuturkan pasca perang panjang yang melanda Irak sehingga membuat ekonomi Irak berjalan stagnan dan tidak ada kerjasama baru oleh negara yang dipimpin Jalal Talabani. \"Paska perang tidak ada kerjasama jangka panjang di Irak, kita masuk tujuannya untuk menjamin ketahanan energi negara kita, kebetulan produksi Irak mencapai 10 juta barel per hari, maka bisa dijadikan keterjaminan suplai ke kilang nantinya,\" jelasnya.

Sayangnya, Edy belum bisa memastikan kapan kilang minyak yang dibangun dari uang negara ini selesai dibangun. \"Kalau awalnya ditergetkan 2018 dengan dana Rp 90 triliun, tapi karena dulu kan sedang semangat-semangatnya mendorong pembangunan kilang yang dilakukan oleh pihak swasta (Pertamina-Saudi Aramco, Pertamina-Kuwait), tapi berhubung dua-duanya mandek, maka yang ini saja dulu didahulukan,\" kata Edy.

Edy juga masih merahasiakan lokasi tempat pembangunan kilang tersebut. \"Lokasinya masih RHS (rahasia), belum tentu di Plaju belum tentu juga di Bontang, nanti feasebility study (FS) akan dilakukan Pertamina dan tahun ini FS diharapkan selesai,\" tandasnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian, M.S Hidayat menilai bahwa Indonesia membutuhkan 2 kilang minyak atau refinery akan meningkatkan produksi minyak nasional hingga 1 juta barrel per hari. \"Indonesia measih membutuhkan minimal 2 refinery karena produksi minyak di dalam negeri bary 840.000 barrel per hari. Untuk membuat 2 refinery, dibutuhkan investasi sebesar US$23 miliar,\" katanya.

Saat ini, menurut Hidayat, dua investor asal Timur Tengah sedang melakukan perundingan dengan pemerintah untuk menanamkan modalnya membangun refinery di Indonesia. \"Perundingannya masih di Kementerian Keuangan dan diharapkan Menteri Keuangan yang baru, Chatib Basri bisa negosiasi dengan lancar. Jika pembangunan refinery dilakukan, 3 tahun lagi Indonesia akan mencapai produksi minyak sebesar 1 juta barrel per hari,\" paparnya.

Dengan adanya kilang minyak, lanjut Hidayat, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan impor minyak mentah. \"Nantinya, 2 refinery masing-masing menghasilkan 300.000 barel per hari minyak dan impor terus berkurang. Selama ini, importir semakin lama semakin besar keuntungannya,\" ujarnya.

Tidak Terintegrasi

Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina Afdal Bahaudin menjelaskan bahwa Proyek kilang minyak sulit terealisasi jika tidak terintegrasi dengan industri hilir minyak bumi. Selain itu, diperlukan insentif agar bisnis ini memberikan margin ideal bagi investor. \"Sekarang itu margin bisnis kilang relatif kecil. Dengan kapasitas 200 ribu - 300 ribu barel per hari, IRR sekitar 6 - 8%. Kalau bangun kilang tidak terintegrasi dengan sektor lain tidak akan ada yang mau,\" katanya.

Dalam pembangunan kilang minyak yang dimaksud internal rate of return (IRR) merupakan tingkat pengembalian investasi proyek. IRR ini berbeda antara satu proyek dengan yang lain. Pengembalian investasi terkait pengunaan jenis teknologi, lokasi pemboran (di darat atau laut dalam), jenis produk minyak dan gas bumi (migas) konvensional atau nonkonvensional. Sehingga bisa dikatakan, IRR bukan ditentukan per proyek melainkan per jenis.

Dengan pembangunan kilang minyak terpadu sampai ke downstream (industri hilir) diyakini bisa mendongkrak IRR. \"Investor selalu minta membangun kilang integrated sampai downstream. Kalau terintegrasi mungkin IRR bisa di atas 12%,\" tuturnya.

Related posts