Saatnya Karyawan Berinvestasi

Sebagian orang menganggap menjadi karyawan itu adalah sebuah pilihan yang keliru. Padahal, menjadi karyawan itu sangat banyak manfaatnya. Tetapi, disisi lain menjadi karyawan sampai tua renta juga bukan merupakan hal yang baik. Ya, saat orang menjadi karyawan, dia harus memikirkan bahwa akan ada waktu dia tidak lagi menjadi karyawan. Suka atau tidak, waktu itu pasti akan datang.

Apalagi saat ini Inflasi menjadi musuh karena selain menyebabkan kenaikan harga barang, juga membuat “nilai” dari uang yang kita simpan berkurang. Cara mengatasi inflasi bagi setiap individu adalah dengan berinvestasi. Investasi adalah suatu cara dimana uang kita dapat berkembang melebihi tingkat inflasi setiap tahunnya.

Pertanyaannya sekarang adalah investasi apa yang dapat mengejar inflasi dan investasi apa yang cocok untuk karyawan pada umumnya. Beberapa yang bisa dicadikan peluang untuk investasi bagi karyawan adalah saham. Saham memiliki karakter, dimana saham merupakan instrumen yang likuid dan biaya transaksi yang rendah. Dalam hal ini, seorang karyawan hanya perlu meluangkan waktu untuk mempelajari pasar saham dan saham yang akan beli.

Pada saat seseorang masih menjadi karyawan adalah waktu yang tepat untuk membeli saham secara berkala sesuai ketersediaan dana. Adapun saham yang cocok untuk karyawan adalah dengan karakteristik perusahaan yang untung dan akan selalu untung, perusahaan yang dikelola manajemen yang professional, perusahaan dengan bidang bisnis yang gampang dianalisa, dan beberapa aspek fundamental lainnya.

Sebaiknya berinvestasi di saham tidak mengejar keuntungan capital gain jangka pendek, tetapi sebaiknya fokus kepada aspek fundamental jangka menengah panjang. Hal ini karena pada saat menjadi karyawan, fokus utama adalah pada pekerjaan agar keuntungan menjadi karyawan tidak hanya sebatas gaji dan bonus saja.

Namun, agar mampu menghasilkan laba di pasar saham, harga saham harus bergerak keatas karena “pembatasan jual” dibanyak Bursa Saham. Untuk itu, Trainer dan pendidik valas dunia,Mario Sant Singh menyarankan valas sebagai investasi yang lebih menjanjikan. Pasalnya, kata dia, dunia valas berada dalam keadaan yang selalu berubah berkat kombinasi likuiditas tanpa tandingan dan tingkat utang nasional dunia.

“Tidak hanya ia berfluktuasi sebagai respon terhadap faktor ekstern, peraturan baru, instrumen baru, teknologi baru, serta strategi baru selalu membuat perubahan revolusioner untuk industri ini.Seorang pelaku yang baik akan menghadapi faktor-faktor tersebut dan mampu memanfaatkannya, mengingat perdagangan yang baik dan sukses tidak semata tentang alat bantu tetapi juga pemahaman mendalam tentang industri dan pasar,” kata Mario pada Neraca belum lama ini.

Menurut dia, agar mampu menghasilkan laba di pasar saham, harga saham harus bergerak keatas karena “pembatasan jual” dibanyak Bursa Saham.Tetapi, dalam hal perdagangan pasar valas, pelaku dapat berdagang di sisi Beli (Long) dan Jual (Short).Hal ini menawarkan pelaku pasar valas suatu fleksibilitas yang memungkinkan mereka mencetak laba terlepas dari pergerakan harga.

“Saya dan pelaku yang saya latih memperoleh laba dengan menerapkan prinsip beli murah jual mahal.Potensi laba berasal dari perubahan nilai pasar penggurup uang.Tidak seperti pasar saham, di mana saham dibeli secara fisik, perdagangan valas tidak mengharuskan pembelian mata uang secara fisik.Alih-alih, pasar ini melibatkan jumlah dan nilai tukar pasangan mata uang,” ujar dia.

BERITA TERKAIT

Karyawan Telkomsel Bangun Jembatan Berdaya - Permudah Akses Masyarakat di Pelosok Garut

Sebagai wujud kepedulian bagi masyarakat sekitar tempat beroperasi, Telkomsel bersinergi bersamaan salah satu komunitas keagamaan karyawan, Majelis Taklim Telkomsel (MTT)…

Menteri Keuangan - Saatnya Universitas Sebagai Penggerak Inovasi

Sri Mulyani Menteri Keuangan Saatnya Universitas Sebagai Penggerak Inovasi Depok - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan menghadapi revolusi industri 4.0,…

OJK Nilai 2018 Saatnya Perbankan Pacu Pertumbuhan

      NERACA   Palembang - Tahun 2018 ini menjadi saat yang tepat bagi kalangan perbankan untuk memacu pertumbuhan…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…

Pemerintah Permudah Bank Ekspansi di Asean

Pemerintah berupaya mempermudah kesempatan perbankan nasional untuk melakukan ekspansi di kawasan ASEAN seperti Singapura dan Malaysia dengan mendorong ratifikasi protokol…