Menabung, Dasar Investasi Yang Hampir Terlupakan

Investasi untuk masa depan merupakan hal yang sangat penting mengingat inflasi serta biaya kebutuhan hidup yang terus melesat naik,khususnya bagi karyawan. Apalagi dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang baru-baru ini terjadi. Dalam jangka panjang, risiko terberat yang sangat ingin dihindari adalah tidak mampu pensiun.

Ya, berinvestasi tidak hanya bisa dilakukan oleh para investor yang memiliki dana besar saja. Paling tidak, hal yang paling mudah dilakukan adalah menabung. Ya, terkadang bagi sebagian orang, berinvestasi dengan cara ini merupakan jalan aman yang dapat ditempuh. Pasalanya, untuk berinvestasi di tempat yang lain seseorang harus mengetahui point-point penting, dimana dengan menabung tidak serumit itu.

Setiap orang bijak pasti menyarankan agar kita memiliki kebiasaan yang satu ini. Menyisihkan sebagian kecil secara teratur sangat baik. Apalagi jika hal itu dilakukan untuk keperluan anak, pendidikan, hingga sampai menjaga hal-hal yang tidakyang tidak terduga. Namun jka dicermati lebih dalam, kebiasaan menabung justru menjadi sesuatu yang buruk jka dilihat dari sudut pandang investasi masa depan.

Pasalnya tujuan menabung untuk memakai sangatlah berbeda dengan menabung untuk investasi. Contoh menabung untuk “memakai” adalah menabung untuk membeli smartphone dengan berbagai macam tipe, mobil, liburan dan lain-lain. Jika seperti ini menabung diartikan, uang akan lenyap seketika.

Lantas seperti apa menabung untuk investasi? Investasi masa depan resiko kecil seperti bunga bank, deposito, cek, dan sebagainya merupakan strategi investasi masa depan yang pandai. Mengapa bisa seperti itu? Karena bank meminjamkan uang yang Anda tabung dengan mengenakan bunga 19% kepada kreditor dan membayar Anda dibawah 5%. Anggaplah Anda rajin menabung 10% dari gaji bulanan, alias Rp1 juta ke dalam tabungan dengan imbal hasil 5% per tahun. Di usia 55 tahun, saldo dana pensiun akan menjadi Rp644 juta. Jumlah yang cukup lumayan, bukan?

Related posts