Perstasi Tentukan Kesejahteraan Karyawan

Tuntutan kesejahteraan karyawan yang selama ini mengarah ke HRD (Human Resource Development) itu boleh dibilang salah sasaran. Maklum, seringkali bagian HRD menjadi bagian sampah karena segala problem menyangkut masalah karyawan dilempar ke sana.

Seperti masalah kenaikan gaji banyak karyawan yang menuntut ke HRD, masalah pemogokan karyawan dimasukkan ke HRD, masalah lembur, masalah disiplin juga dilempar ke HRD.

Alasannya, atasan langsung merupakan pihak yang mengetahui persis prestasi anak buahnya, bukan manajer HRD, bukan direktur, bukan teman sejawat, atau bahkan tetangganya. Atasan langsung juga merupakan pihak yang mengisi lembar penilaian kerja (performance appraisal) mengenai anak buahnya, maka ia wajib mengajukan kenaikan gaji, tunjangan, atau promosi anak buahnya kalau memang dinilai layak dan berprestasi.

Selama ini para pimpinan adalah seorang pimpinan sudah menjalankan kewajibannya untuk mengajukan promosi dan kenaikan gaji/tunjangan anak buahnya yang dinilai berprestasi. Kemudian hal paling penting mengenai kesejahteraan karyawan yang perlu diperhatikan adalahkesejahteraan karyawan bukan beban, melainkan target. Memang, dalam pembukuan, pembayaran gaji karyawan dicatat dalam beban perusahaan.

Meski demikian, secara folosofis, kesejahteraan karyawan harus dilihat sebagai target, karena target perusahaan didirikan adalah untuk kesejahteraan manusia, bukan kesejahteraan gedung, mesin, alat-alat, danfixed assetlainnya.

Manusia-manusia yang perlu disejahterakan itu pertama-tama adalah pemilik atau pendiri perusahaan, karena mereka merupakan pihak yang bekerja keras di awal, banting tulang dengan mengorbankan apa saja demi berdiri dan berjalannya perusahaan yang dirintisnya. Mereka adalah pembuka jalan dan orang lain yang meneruskannya.

Jika perusahaan bangkrut, mereka pula yang menanggung beban kerugian besar. Urutan selanjutnya adalah pemegang saham, direksi, dan karyawan. Akhirnya, negara juga menjadi pihak yang ikut sejahtera, karena negara mendapat pajak dari perusahaan. Yang paling akhir adalah umant manusia keseluruhan. Mereka ikut sejahtera, karena produk dan jasa yang dibuat oleh perusahaan pada dasarnya ditujukan untuk berguna dan bernilai bagi kehidupan manusia.

Oleh karena itu, ketika perusahaan menjadi besar dan mendapat laba yang besar, maka ketika menetapkan gaji pokok (take home pay) bagi karyawannya, hendaknya tidak hanya menggunakan patokanUpah Minimum Regional(UMR) yang ditetapkan oleh pemerintah. Dengan kata lain, ketika pencapaian laba perusahaan besar, maka pengupahan karyawan tidak seharusnya didasarkan pada UMR saja.

Cara meningkatkan kesejahteraan karyawan perusahaanbisa dilakukan dengan meningkatkan nilai tambah industri (industry value added) atau kualitas industri. Seiring dengan meningkatnya produktivitas, keuntungan perusahaan juga diharapkan bertambah, sehingga keuntungan tersebut akan dapat digunakan untuk meningkatkan penghasilan karyawan.

Related posts