Pasar Terus Tertekan, Sektor Konsumer Berpeluang Positif

NERACA

Jakarta- Hingga perdagangan kemarin, Indeks tercatat jeblok akibat tertekan aksi jual saham yang dilakukan investor di seluruh sektor, khususnya sektor properti dan perdagangan yang anjlok di atas 3%.

Analis dari PT Buana Capital, Alfred Nainggolan mengatakan, kinerja Indeks dan beberapa sektor saat ini masih cenderung terkena tekanan aksi jual. Selain sentimen kebijakan Bank Sentral AS, dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM ) menimbulkan kekhawatiran secara psikologis terhadap lonjakan inflasi. “Sektor yang paling sensitive terhadap kenaikan BBM dan suku bunga, utamanya sektor perbankan dan manufaktur.” katanya di Jakarta, Selasa (25/6).

Kenaikan harga BBM dan BI rate, lanjut dia, secara otomatis juga akan menaikkan tingkat suku bunga perbankan sehingga berpengaruh terhadap kinerja perbankan. “Dengan kenaikan suku bunga, tentu yang paling berpengaruh pinjaman dan simpanan perbankan.” ucapnya.

Bahkan dia memproyeksikan pada tahun 2013-2014 laju pertumbuhan perbankan akan cukup tertekan menjadi 15%, lebih kecil dari pertumbuhan yang dicatatkan perbankan sepanjang 2011-2012 yang mencapai 23%. “Kita punya prediksi di 2007-2008, perbankan bisa tumbuh mencapai 25%, namun pada 2009 turun 10% sebagai dampak kenaikan BBM yang dilakukan pemerintah pada Mei 2008.” jelasnya.

Dampak BBM Naik

Sementara untuk sektor manufaktur, di mana kontribusi BBM terhadap sektor tersebut cukup signifikan, kata dia, tentu akan memicu kenaikan biaya produksi usaha. Namun, dengan adanya kebijakan pemerintah untuk memberikan bantuan langsung tunai sementara, hal ini akan mendukung kemampuan daya beli masyarakat menengah ke bawah.

Meski demikian, lanjut dia, pelaku pasar dapat melirik sektor konsumer. Sektor ini dinilai menjadi salah satu sektor yang berpeluang mencapai tren positif di tengah kekhawatiran psikologis terhadap inflasi. “Untuk sektor konsumer yang merupakan konsumsi pokok dan menyasar pada middle low masih akan positif untuk proyeksi jangka pendek.” elasnya.

Saham sektor konsumer yang dapat dipertimbangkan, menurut dia, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dengan target harga di level 7600 dan PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) yang ditargetkan bisa masuk ke level 1.300.

Dia pun memproyeksikan, kinerja indeks masih cenderung terkena tekanan aksi jual yang dilakukan oleh investor asing yang notabene mendominasi perdagangan. Karena itu, dia memperkirakan IHSG masih akan mencatatkan koreksi ke depan. “Market kita memang di-drive oleh sentimen asing, dan salah satu penopangnya saat ini hanya investor lokal, dan potensi terjadinya koreksi cukup dalam masih akan terjadi.” paparnya.(lia)

BERITA TERKAIT

DPRD Jabar Apresiasi Capaian Pendapatan Sektor Pajak

DPRD Jabar Apresiasi Capaian Pendapatan Sektor Pajak  NERACA Bandung - DPRD Provinsi Jawa Barat (Jabar) mengapresiasi capaian pendapatan dari sektor…

Rp7,1 Triliun Dana Asing Masuk Ke Pasar Keuangan

  NERACA Jakarta - Modal asing yang masuk ke pasar keuangan terutama melalui Surat Berharga Negara mencapai Rp7,1 triliun dalam…

Produk Atlet Nabung Saham Dirilis di Pasar - Dukung Atlet Melek Investasi

NERACA Jakarta –PT MNC Sekuritas menilai program atlet nabung saham bisa menjadi investasi jangka panjang bagi para olahragawan di Tanah…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

WTON dan WEGE Raih Kontrak Rp 20,22 Triliun

NERACA Jakarta – Di paruh pertama 2018, dua anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mencatatkan total kontrak yang akan…

Gelar Private Placement - CSAP Bidik Dana Segar Rp 324,24 Miliar

NERACA Jakarta – Perkuat modal dalam mendanai ekspansi bisnis, PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) berencana melakukan penambahan modal tanpa…

Luncurkan Dua Produk Dinfra - Ayers Asia AM Bidik Dana Kelola Rp 500 Miliar

NERACA Jakarta –  Targetkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) hingga akhir tahun sebesar Rp 350 miliar hingga Rp…