Peringkat Moody's Hanya Omong Kosong - IHSG Masih Jeblok

NERACA

Jakarta- Munculnya berita positif Moody’s yang menaikkan outlook peringkat Indonesia dari positif menjadi stabil dinilai belum berdampak positif terhadap kinerja pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin anjlok 85.912 poin (1,90%) ke level 4,429.460.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, selain pelaku pasar yang masih cenderung melakukan aksi jual, laju IHSG terimbas laju variatif bursa saham Asia, terutama laju Hang Seng Index (HSI) . “Tidak hanya masalah krisis likuiditas di China, dari sisi internal pun juga mempengaruhi laju IHSG.” ucapnya di Jakarta, Selasa (25/6)

Menurutnya, sejauh ini kenaikan harga BBM yang merembet ke kenaikan biaya transportasi dan harga bahan pangan yang menimbulkan kekhawatiran secara psikologis terhadap lonjakan inflasi juga ikut mempengaruhi laju Indeks. Meskipun, Indeks mulai mencoba untuk rebound seiring menghijaunya bursa saham Eropa.

Pergerakan nilai tukar rupiah pun, lanjut dia, gagal melanjutkan kenaikannya seiring masih terimbas pelemahan Yuan yang dipicu adanya rilis tambahan berita bahwa pemerintahan China menolak untuk menambah likuiditas pada perbankan. “PboC masih beranggapan bahwa likuiditas yang ada bernilai cukup dan meminta perbankannya untuk mengendalikan risiko dari ekspansi kredit.” jelasnya.

Selain itu, kata dia, sentimen dari dalam negeri juga masih kurang mendukung untuk terapresiasinya rupiah sehingga penilaian positif dari Moody’s belum banyak berdampak pada rupiah. Kekhawatiran pelaku pasar lainnya, yaitu terkait dengan keputusan The Fed yang akan mengurangi stimulusnya dan juga menunggu adanya intervensi dari The Fed untuk mengatasi lonjakan yield obligasi AS.

Dia memperkirakan, IHSG akan berada pada support 4350-4400 dan resistance 4468-4500. Diharapkan laju pelemahan IHSG mulai dapat terbatas yang diiringi dengan mulai berkurangnya aksi jual. Dalam kondisi ini, Reza menyodorkan empat saham yang dapat diakumulasi antara lain PGAS dengan target support di level 4600-4775 dan resistance di level 5000-5150, ARNA dengan target support di level 2825-2975 dan resistance 3025-3125, MAIN dengan target support 3225-3300 dan resistance 3500-3575, dan SMCB dengan target support di level 2450-2525 dan resistance 2650-2700.

Selain keempat saham tersebut, sambung dia, pelaku pasar juga dapat mencermati saham PNLF, MPPA, BDMN, PTBA, CTRP, BKSL, dan MNCN untuk menerapkan strategi buy dan sell. (lia)

Related posts