Tidak Sesuai Target, Proyek Spindo Terhambat - Perolehan Dana IPO

NERACA

Jakarta – Perusahaan baja, PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (SPINDO) hingga tahun 2015 akan menganggarkan dana belanja modal (capital expenditure/capex) multiyear mencapai Rp 1,3 triliun. Tahun ini, dana yang akan digunakan sebesar Rp 200 miliar.

Wakil Direktur Utama PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk, Tedja Sukmana Hudianto mengatakan, keseluruhan dana capex berasal dari dana penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) dan dari kas internal perseroan, “Untuk IPO ada range atas dan range bawah. Sebelumnya kami prediksikan range atas mencapai Rp1,5 - 1,6 triliun, namun karena yang tercapai hanya Rp 800 miliar kami merevisi capex multiyear menjadi Rp 1,3 triliun,”ujarnya di Jakarta, Selasa (25/6).

Menurutnya, dengan adanya revisi capex tersebut ada beberapa proyek yang ditunda oleh perseroan dan lebih mengutamakan proyek-proyek yang lebih cepat menghasilkan uang. “Karena target IPO tidak terpenuhi, ada proyek-proyek yang tertunda seperti rencana pemindahan mesin ke Gresik dari Pasuruan. Selain itu, melihat demand yang tinggi kami lebih memilih untuk membangun pabrik di Karawang dan Surabaya,”tuturnya.

Lanjutnya, dana dari hasil IPO juga telah melunasi seluruh utangnya di Indonesia Exim Bank sebesar Rp 209 miliar dan menurunkan saldo hutang bank jangka pendek, sehingga rasio total kewajiban/total modal (Debt to Equity/DER) turun drastis, dari 3,3x di tahun 2012 menjadi 1,1x di periode maret 2013.

Tambah Kapasitas

Sementara penggunaan belanja moda tahun ini sebesar Rp 200 miliar akan digunakan untuk menambah kapasitas pabrik di Karawang dan Surabaya serta perbaikan mesin. Kata Tedja, untuk Karawang akan ditambah dari 3500 ton pipa baja per bulan menjadi 8.000-10.000 ton pipa baja per bulan dan pabrik Surabaya total kapasitasnya akan mencapai 100ribu ton pipa baja per bulan.

Kemudian hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) juga memutuskan untuk tidak membagikan dividen untuk tahun buku 2012 dan baru akan membagikan pada tahun buku 2013. Hal ini disebabkan sepanjang 2012 laba bersih hanya naik 0,46% atau menjadi Rp 111,19 miliar naik dari kinerja tahun sebelumnya Rp 110,68 miliar.

Sementara laba bersih per saham dasar juga hanya alami kenaikan 0,11 menjadi Rp 25,94 per saham dari tahun sebelumnya Rp 25,83 per saham. Namun demikian, berdasarkan laporan keuangan konsolidasi perseroan per 31 Desember 2012 pendapatan perseroan naik 19,99% menjadi Rp 3,09 triliun dari kinerja tahun sebelumnya Rp 2,58 triliun. Margin laba bersih dilaporkan turun sebesar 16,28% menjadi 3,6% pada 2012 dari tahun sebelumnya 4,29%.

Beban pokok pendapatan perseroan pun naik 23,4% menjadi Rp 2,69 triliun dari tahun sebelumnya Rp 2,18 triliun. Sementara itu, laba usaha perusahaan yang terafiliasi dengan PT Saranacentral Bajatama Tbk itu dilaporkan naik 9,81% menjadi Rp 296,23 miliar dari kinerja tahun sebelumnya Rp 269,77 miliar.

Kinerja Kuartal Satu

Sebagai informasi, hingga kuartal pertama tahun ini perseroan berhasil meraih penjualan bersih mencapai Rp 713 miliar dan laba bersih konsolidasi setelah pajak meningkat tajam menjadi Rp 79,37 miliar atau naik 876% dibanding dengan periode yang sama tahun 2012 lalu yang hanya sebesar Rp 8,13 miliar.

Disamping itu, laba bersih per saham pun naik dari Rp 1,9 per lembar saham menjadi Rp 11,05 per lembar saham. Beberapa proyek besar juga sudah didapatkan, antara lain proyek pengadaan pipa gas Cimanggis – Bitung bekerjasama dengan PGN dengan nilai kontrak Rp 350 miliar, dermaga peti kemas Semarang senilai Rp 63,7 miliar, dan proyek PLN untuk pengadaan tiang listrik di daerah Kalimantan, Sulawesi dan Maluku senilai Rp 32,7 miliar. “Kami sangat optimis dapat mencapai target penjualan pada tahun 2013 sebesar Rp 3,7 triliun atau naik 20 % dari realisasi penjualan tahun 2012 dan proyeksi laba bersih setelah pajak mencapai lebih dari Rp 300 miliar pada tahun ini,” ungkapnya. (nurul)

Related posts