Ketika Asuransi Mikro Jadi Penopang Ekonomi - Sejuta Manfaat Bagi Masyarakat Kecil

Ahmad Nabhani - NERACA

Jakarta–Tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia turut membuat prospek industri asuransi terbuka lebar. Tak ayal pertumbuhan industri asuransi saat ini bersaing ketat. Hal ini sangat beralasan, karena semakin tinggi kesejahteraan masyarakat memicu pertumbuhan kesadaran masyarakat akan berasuransi semakin besar. Karena pada dasarnya, semakin sejahtera seseorang, maka kebutuhan akan asuransi semakin baik. Bahkan, pada tahap itu seseorang yang kesejahteraanya tinggi akan peka terhadap proteksi diri dan aset yang dimiliki oleh asuransi.

Kendati pun demikian, dampak pertumbuhan ekonomi yang positif tidak selamanya seirama dengan kesadaran masyarakat berasuransi, apalagi bagi masyarakat kelas bawah kendatipun pemerintah selalu mengklaim saat ini masyarakat ekonomi kelas menengah mengalami pertumbuhan. Faktanya, penetrasi pasar asuransi di Indonesia masih rendah hanya175.000 warga yang memiliki polis asuransi jiwa atau sekitar 1,1% dari jumlah populasi penduduk Indonesia yang mencapai 230 juta jiwa. Angka ini tertinggal dari negara-negara tetangga, yaitu Malaysia dengan penetrasi 3% dan Singapura 4,3%. Bahkan di Inggris penetrasi asuransi di Inggris sebesar 9,5%.

Pentingnya berasuransi tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah atas, tetapi juga masyarakat kelas bawah. Artinya, asuransi tidak selamanya harus mahal atau dimonopoli kelas atas dan sulit di jangkau masyarakat kelas bawah. Karena asuransi juga menjadi kebutuhan bagi masyarakat semua golongan dan termasuk kelas bawah, baik petani, nelayan ataupun pelaku usaha kecil dan menengah. Biasanya, masyarakat kelas bawah ketika menghadapi bencana yang sulit diprediksi, umumnya mereka belum memiliki simpanan atau perencanaan keuangan menghadapi bencana seperti kecelakaan, cacat, gagal panen hingga menigggal dunia. Alhasil, bencana-bencana seperti itu mengancam kelangsungan rumah tangga miskin dan biasanya membuat mereka makin terperosok ke dalam kemiskinan dan keputusasaan.

Maka kini untuk menopang masyarakat ekonomi kelas bawah, peran asuransi mikro sangat penting menjadi katup penyelamat dari kemiskinan dan keputuasaan disaat musibah yang tak terduga menimpa. Pasalnya,asuransi mikro’ dapat menjadi penolong utama bagi para keluarga berpenghasilan rendah dan mencegah mereka untuk makin terperosok ke dalam jurang kemiskinan.

Asuransi mikro bukanlah suatu jenis produk khusus atau terbatas kepada jenis pemberi layanan tertentu. Asuransi ini menyediakan alternatif pengalihan risiko untuk keluarga berpenghasilan rendah dan ditawarkan dalam berbagai bentuk: sebagai contoh, untuk membiayai pendidikan anak bila tulang punggung pencari nafkah keluarga meninggal; untuk membiayai rumah sakit anak-anak; atau untuk melindungi petani kecil terhadap ancaman gagal panen karena kekeringan atau kejadian iklim ekstrim lainnya.

Dukungan OJK Begitu pentingnya asuransi mikro untuk menopang masyarakat kelas bawah, menggugah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator untuk memasyarakatkan asuransi mikro dan terlebih hampir saat ini sekitar sepertiga penduduk Indonesia, atau 77 juta jiwa, tidak memiliki simpanan yang dapat diandalkan jika mendapatkan musibah yang tak terduga. Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan, asuransi mikro sebenarnya sudah diterapkan oleh banyak negara, namun Indonesia belum diberlakukan. “Oleh karena itu, kami mendorong akan bertumbuhnya asuransi mikro agar bisa lebih dekat dengan masyarakat,”ujarnya.

Menurutnya, asuransi mikro merupakan bagian dari financial inclusion yang akan digagas oleh OJK dan Bank Indonesia. Ada banyak manfaat yang akan didapatkan masyarakat jika asuransi mikro ini diberlakukan. Sebut saja, asuransi mikro di bidang pertanian berupa crop insurance. Petani dapat mengasuransikan tanamannya sehingga kalau terjadi gagal panen maka dia dapat dana dari asuransi.

Di negara Jepang, India dan sejumlah negara lain, asuransi mikro jenis asuransi tanaman panen berjalan sangat baik. Juga asuransi bencana misalnya asuransi gempa bumi atau asuransi banjir,”Turki dan Meksiko contoh negara yang mengoptimalkan asuransi bencana gempa bumi karena negara itu sering kena gempa. Indonesia saya kira bisa dikembangkan jenis asuransi gempa karena negeri ini ada di sabuk gempa pasifik yang kapan pun bisa terguncang,\" tandasnya.

Besarnya pasar micro insurance yang belum di garap di Indonesia, menjadi peluang bagi industri asuransi untuk merebut pasar dengan marak merilis produk micro insurance dengan tawaran premi yang lebih kompetitif dan inovasi polis yang menjadi tangggungan. Direktur Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Julian Noor mengatakan, siapa yang menjadi pemimpin pasar micro insurance di Indonesia sangat ditentukan oleh ketepatan merancang produk dan ketepatan memilih jalur distribusi.

Produk yang inovatif dan fleksibel serta distribusi yang luas dengan menjalin banyak mitra bisnis baik perbankan, koperasi dan lembaga keuangan mikro menjadi unggulan PT Asuransi Allianz Utama Indonesia fokus bisnis micro insurance. Pasalnya, strategi tersebut diyakini menjadi sasaran yang tepat memasarkan produk asuransi mikro dan sekaligus memasyarakatkan masyarakat akan pentingnya asuransi hingga level bawah.

Memahami Kebutuhan Apalagi bisnis asuransi mikro ini diklaim perseroan tidak hanya mencari untung semata tetapi juga kepedulian sosial perusahaan dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi kelas bawah. Allianz ingin terus menjangkau masyarakat ekonomi mikro dan lebih memahami kebutuhan mereka dalam hal perlindungan akan risiko yang terjadi.

Belum lama ini, Allianz meluncurkan produkTAMADERA, kombinasi perlindungan asuransi jiwa, mencakup penyakit kritis dan manfaat simpanan. Untuk premi minimum sebesar Rp10.000 per minggu selama 5 tahun, nasabah mendapatkan jaminan asuransi jiwa minimum Rp2.500.000.

Jika terjadi salah satu dari lima penyakit kritis yang dijamin (kanker, stroke, serangan jantung, gagal ginjal, dan luka bakar serius) asuransi juga membayar Rp2.500.000. Jika tidak ada klaim, nasabah akan menerima kembali premi secara penuh setelah lima tahun, yang minimal sebesar Rp2.500.000. Nantinya, keluarga dapat mempergunakan manfaat ini misalnya untuk membiayai biaya pendidikan anak-anak mereka.

Selain itu, juga meluncurkan produk asuransi kesehatan mikro untuk memperbesar porsi bisnis asuransi ritel. Produk yang diberi nama Dana KesehatanKu ini merupakan produk asuransi kesehatan dengan nilai premi Rp300.00 pertahun dengan masa pertanggungan selama 1 tahun.\"Kami menargetkan penjualan sekitar 1.000 polis per bulan dengan memanfaatkan berbagai jalur distribusi. Kami akan kerja sama dengan retailer, jaringan apotik, yang akan dimulai pada bulan depan,\" kata Inkes Lukman, Chief Sales Officer Allianz Utama.

Sebagai informasi, tahun 2012 Allianz mencatatkan total Pendapatan Premi Bruto (GWP) sebesar Rp63,12 miliar atau tumbuh 40% dibandingkan dengan periode sama 2011 yaitu Rp44,95 milliar.Pertumbuhan GWP asuransi mikro disebabkan oleh pertumbuhan jumlah tertanggung yang telah mencapai 1.398.607 tertanggung, meningkat 121% dibandingkan dengan 2011 yaitu 633.311 tertanggung, “Pertumbuhan jumlah tertanggung ini menunjukkan bahwa kami berada di jalur yang tepat untuk memperluas dan mengenalkan manfaat asuransi kepada seluruh lapisan masyarakat,” ujar Wakil Direktur Utama Allianz Life Indonesia, Handojo Kusuma.

Dia mengungkapkan, untuk memasarkan produk-produk asuransi mikro, saat ini asuransi mikro Allianz bekerja sama dengan 3 mitra perbankan, 5 koperasi dan 61 Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang tersebar mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi hingga Jayapura. Dengan kerja sama yang dilakukan oleh mitra-mitra bisnisnya, untuk terus menjangkau masyarakat ekonomi mikro sesuai yang dibutuhkan*

Related posts