Penjualan Mamin Bisa Tembus Rp 150 Triliun - Momen Puasa dan Lebaran

NERACA

Jakarta - Omzet penjualan industri makanan dan minuman (mamin) di bulan Ramadhan bisa meningkat hingga 30% ketimbang bulan biasa. Namun, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi membuat industri terpaksa merelakan margin keuntungannya berkurang.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman menuturkan, saat puasa dan Lebaran, permintaan produk makanan dan minuman secara historis meningkat sekitar 30% ketimbang bulan biasa. \"Kemungkinan omzet saat Ramadan dan Lebaran tahun ini bisa mencapai Rp 100 triliun-Rp 150 triliun,\" jelasnya, kemarin.

Namun, kenaikan harga BBM membuat ongkos produksi meningkat. Di sisi lain, para produsen tak bisa serta merta menaikkan harga jual produknya. Pasalnya, para produsen makanan dan minuman telah mengikat kontrak dengan retailer modern sekitar tiga hingga lima bulan ke depan sehingga mereka sulit untuk menaikkan harga jual.

Tak hanya itu, pada awal tahun ini, pertumbuhan omzet industri makanan dan minuman tak secepat yang diperkirakan. Sehingga, industri makanan dan minuman mencoba untuk mempertahankan harga jual agar omzet tetap terjaga.

Pada kuartal I 2013, omzet penjualan industri makanan dan minuman sekitar Rp 152 triliun. Nah, sampai akhir tahun ini, Adhi memperkirakan omset industri makanan akan tumbuh sekitar 8% - 9% ketimbang tahun lalu menjadi sekitar Rp 756 triliun - Rp 763 triliun. Sebagai gambaran, pada tahun 2012, omzet penjualan makanan dan minuman di Indonesia mencapai Rp 700 triliun.

Karena sulit untuk menaikkan harga jual produk, Adhi bilang, para produsen makanan dan minuman harus merelakan margin keuntungannya tergerus. Rata-rata margin keuntungan industri makanan dan minuman sekitar 6% - 10%. Sayangnya, ia enggan menyebutkan berapa besar penurunan margin keuntungan yang harus ditanggung oleh para produsen makanan dan minuman. Yang jelas, \"Karena kenaikkan beban tidak terlalu besar, maka sebagian besar beban ini kami serap sendiri,\" papar dia.

Adhi menggambarkan, kenaikan harga BBM bakal mendongkrak beban biaya pada pos biaya distribusi bahan baku, biaya kemasan dan beban biaya pada produk jadi. Rata-rata kenaikan beban biaya produksi ini sekitar 2%.

Asal tahu saja, beban bahan baku untuk industri makanan dan minuman masing-masing bisa berkontribusi sekitar 60% dan 30% terhadap total biaya produksi. Sementara untuk biaya bahan kemasan, pada industri makanan kontribusinya mencapai 30% dari total produksi. Sedangkan pada industri minuman, kontribusinya sekitar 50% dari total biaya produksi.

Kenaikan Produksi

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani menambahkan, kenaikkan beban produksi karena kenaikkan BBM memang tak terlalu besar. Namun, secara umum lonjakan beban terjadi untuk biaya transportasi dan logistik yang mencapai 30%. \"Kenaikkannya terjadi secara mendadak,\" tutur Franky.

Karena itu, ia meminta pemerintah untuk secepatnya membangun infrastruktur penunjang logistik yang lebih baik. Ia menilai, dengan infrastruktur yang baik, maka biaya logistik bisa ditekan meski ada kenaikkan harga BBM.

Beberapa waktu lalu,kenaikkan harga berbagai komponen bahan baku yang ramai terjadi saat ini macam bawang merah dan bawang putih akhir-akhir ini menyusul kenaikkan upah buruh dan energi yang harus mereka tanggung.

Adhi bilang ada beberapa pelaku industri mamin yang menahan kenaikkan harga. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari turunnya permintaan di pasar. Meski langkah ini dipastikan akan mengurangi margin keuntungan perusahaan.

Namun dengan makin naikknya beban industri akibat ketidakstabilan harga bahan baku, ia memprediksi semua produsen mamin akan menaikkan harga pada bulan depan. Menurut Adhi, langkah mengorbankan margin sudah tidak bisa ditolelir dengan ketidakstabilan harga bahan baku ini. Dengan terus menurunkan margin maka industri ini berpotensi sakit. \"Sehingga di April saya rasa sudah naik semua hingga\' 10%,\" ujarnya.

Di industri mamin sendiri, margin keuntungan para produsen disebut bervariasi mulai dari 5% hingga 12%. Saat ini saja, Adhi melanjutkan kenaikkan harga mamin sudah terjadi di tingkat retail sekira 5% hingga 10%. Beberapa produk mamin yang sudah naik harga diantaranya adalah produk turunan terigu dan jus buah.

BERITA TERKAIT

150 ASN Pemkot Sukabumi Raih Penghargaan Satya Lencana

150 ASN Pemkot Sukabumi Raih Penghargaan Satya Lencana NERACA Sukabumi - Sebanyak 150 aparatur sipil negara (ASN) pemerintah Kota (Pemkot)…

MMKSI Raih Capaian Positif dan Lampaui Target Penjualan di GIIAS 2018

MMKSI Raih Capaian Positif dan Lampaui Target Penjualan di GIIAS 2018 NERACA Jakarta - PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales…

ADHI Kantungi Kontrak Baru Rp 7,45 Triliun

NERACA Jakarta — Sampai dengan Juli 2018, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mengantongi kontrak baru Rp7,45 triliun dengan kontribusi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

INSA Minta Dukungan Pemerintah Majukan Pelayaran

NERACA Jakarta – Indonesian National Shipowners Association (INSA) minta dukungan pemerintah untuk mendorong daya saing serta membuka peluang pasar bagi…

Menteri Susi Imbau Masyarakat Ikut “Menghadap Laut”

NERACA Jakarta – Dalam rangka memeriahkan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama dengan organisasi…

Niaga Internasional - Ekspor Tumbuh 12 Persen, Industri Minol RI Rambah Pasar Amerika

NERACA Jakarta – Industri minuman beralkohol (minol) berupaya memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Selain mampu menyumbang cukai yang cukup…