Mobil Murah atau Angkutan Umum Massal - KARUT-MARUT DUNIA TRANSPORTASI KITA

KARUT-MARUT DUNIA TRANSPORTASI KITA

Mobil Murah atau Angkutan Umum Massal

Tumbuh berkembangnya perekonomian satu negara atau kota untuk lingkup yang lebih kecil, antara lain ditunjang oleh infrastruktur dan jaringan transportasi. Satu daerah seakan terisolasi jika tak memiliki sarana transportasi yang mudah dan memadai.

Sebaliknya, jika keberadaan sarana transportasi tak ditata secara sinergis dan integratif, juga akan menjadi bumerang, karena yang terjadi adalah lalu lintas yang semrawut dan kemacetan di mana-mana. Tidak hanya di Jakarta dan sekitarnya, tapi kini sudah merembet ke kota-kota lainnya. Puncak kemacetan terjadi di saat musim mudik Lebaran Idul Fitri setiap tahun.

Nyaris semua kendaraan bermotor tumpah ruah di jalanan menuju ke kota-kota tujuan mudik. Terbanyak di kawasan Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kemacetan mengular hingga ribuan kilometer. Mayoritas pemudik menggunakan kendaraan pribadi. Sangat sedikit jumlah kendaraan umum massal yang mengangkut mereka.

Khusus kendaraan yang ada di Jakarta dan sekitarnya, pada 2012 tercatat sebanyak 14 juta unit. Sebanyak 59% di antaranya terdapat di Jakarta atau sebanyak 8,4 juta unit. Dari jumlah itu, 91% adalah kendaraan pribadi, yaitu 67% sepeda motor dan 24% mobil pribadi. Tak sampai 4% saja kendaraan umum massal.

Yang jadi persoalan saat ini adalah sejauh mana pemerintah aware menolong masyarakat dari penyakit macet setiap hari. Apa saja yang sudah dilakukan untuk mengurangi beban jalan hingga orang melintas di jalanan dengan aman, nyaman, murah, dan cepat. Memang ada sedikit progress yang telah dilakukan pemerintah, tapi apakah itu sudah signifikan?

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo bekerja keras mewujudkan mimpi gubernur pendulunya, yaitu membangun sistem dan jaringan transportasi umum massal yang baik sehingga masyarakat mulai meninggalkan kendaraan pribadinya. Program itu juga disinergikan dengan program pemerintah pusat. Di antara program itu adalah mewujudkan jaringan busway dengan bus Transjakarta hingga 15 koridor, serta membangun jaringan kereta cepat baik mass rapid transit (MRT) dan monorel.

Jokowi masih mempunyai pekerjaan rumah (PR), selain menggarap 15 koridor busway, MRT, dan monorel, juga bagaimana membatasi jumlah kendaraan pribadi yang melintas di Jakarta agar jalanan di Jakarta dapat dilalui secara nyaman dan lancar. Rencananya, pembatasan kendaraan pribadi itu dengan cara menerapkan nomor polisi ganjil dan genap yang boleh melintas pada hari dan jam tertentu. “Menunggu penambahan jumlah bus Transjakarta,” kata dia.

Menteri BUMN Dahlan Iskan sudah berbusa-busa mempromosikan monorel produk PT Industri Kereta Api (Inka) yang berkolaborasi dengan PT Adhi Karya. Monorel itu ditawarkan untuk membangun jaringan monorel lintas daerah dari Bekasi-Cawang- Cibubur-Kampung Rambutan, dan jaringan monorel dalam kota baik blue line (Taman Anggrek-Kuningan- Casablanca) maupun green line (Tanah Abang-Kampung Melayu- Bekasi). Monorel made by Inka akan bersaing dengan monorel buatan Bekasi dan China yang dipromosikan PT Jakarta Monorail.

Kontraproduktif

Sementara itu, pengamat masalah transportasi Achmad Izzul Waro dari Institut Studi Transportasi melihat ada inkonsistensi yang dilakukan pemerintah terkait penataan lalu lintas jalan raya. Di satu sisi, salah satu instansi pemerintah tengah berjuang bersama pemerintah daerah membangun sistem dan jaringan transportasi umum massal.

“Namun, di sisi lain, instansi pemerintah lainnya justru membuat peraturan yang kontradiktif, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2013 tentang kendaraan hemat energi dan berwawasan lingkungan (low cost green car/LCGC),” kata Izzul yang juga anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ).

Apa kaitannya? Menurut alumnus Teknik Sipil UGM ini, kebijakan kendaraan yang murah dan ramah lingkungan itu justru memicu membanjirnya mobil pribadi di jalanan. Dia tak bisa membayangkan berapa banyak kendaraan baru yang akan memadati jalanan dibandingkan berapa banyak orang yang memarkirkan mobil dan sepeda motornya dan beralih naik angkutan umum.

Yang terang, sejak diluncurkan pada Indonesia International Motor Show (IIMS) 2012 pada September lalu, sudah ada 15 ribu unit Toyota Agya dipesan. Masih banyak lagi mobil baru berkarakter LCGC yang ditawarkan kalangan agen tunggal pemegang merek (APTM) asing. “Penambahan kapasitas angkutan umum massal masih tak bisa melewati pertumbuhan kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor,” kata Izzul lagi.

Salah satu contoh kurang seriusnya pemerintah pusat membangun sistem dan jaringan transportasi umum massal sesuai dengan UU Nomor 26 Tahun 2009 tentang LLAJ, hingga kini Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Angkutan Umum yang sudah diajukan sejak 2009, belum juga turun, yang duluan tujut justru PP yang menguntungkan ATPM asing,” kata Izzul. (saksono)

Related posts