Pasar Bergejolak, IPO Suram Tahun Ini - PELAKU PASAR BANYAK MENUNDA JADWAL IPO

Jakarta- Masih bergejolaknya harga pasar saham yang dipicu derasnya dana asing yang keluar hingga Rp 24 triliun selama 21 hari terus memicu terkoreksinya indeks BEI dan bahkan ditutup anjlok 85,912 poin (1,90%) ke level 4.429,460 pada awal pekan ini (24/6). Alhasil, kondisi ini memicu perusahaan untuk menunda penawaran saham perdana (initial public offering-IPO) tahun ini seperti yang dilakukan Bank Muamalat. Kalaupun dilakukan, persero terpaksa harus mengurangi jumlah saham ke publik seperti yang dilakukan Grup Saratoga dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk.

NERACA

Menurut analis saham dari PT Buana Capital, Alfred Nainggolan, investor akan berpikir dua kali untuk melaksanakan IPO ditengah cukup besarnya tekanan dana asing yang keluar,”Investor akan lebih mempertimbangkan saham-saham lama yang murah dibandingkan penawaran saham baru,”ujarnya kepada Neraca di Jakarta, Senin (24/6).

Menurut dia, banyak alasan investor menunda IPO tahun ini disamping dana asing yang keluar juga ancaman inflasi tinggi serta sentimen global. Dimana pesimisme pelaku pasar terhadap kebijakan stimulus The Fed, lanjut dia, menjadi pemicu utama yang mendorong jatuhnya IHSG sejak akhir Mei hingga Juni.

Terlebih dengan pasar Amerika Serikat yang saat ini mencatatkan pertumbuhan positif sehingga mengindikasikan bahwa investor asing masih akan menarik dana-dananya dari negara-negara emerging market seperti Indonesia. Pihaknya mencatat, akumulasi net sell asing selama 21 hari sekitar Rp24 triliun. Karena itu, dia pun memperkirakan IHSG masih berpotensi mengalami koreksi yang cukup dalam setelah dua hari ini. \"Satu dua hari bisa naik, tapi kemudian koreksi lagi dan potensi koreksinya akan cukup dalam.\" ucapnya.

Alfred mengatakan, sentimen negatif yang membawa pelemahan indeks akan mempengaruhi perusahaan-perusahaan yang akan melaksanakan IPO maupun yang sedang dalam proses untuk IPO. Sebagai contoh, PT Bank Muamalat Tbk yang akan menawarkan sahamnya senilai US$ 177 juta dikabarkan ditunda karena koreksi pasar yang terjadi saat ini cukup dalam.

Selain itu, PT Saratoga Investama Sedaya yang menurunkan porsi saham yang dilepas dari sebelumnya 15% menjadi 10% di kisaran harga 5.500-5.600 per saham. Padahal sebelumnya Saratoga Investama secara confident dapat menawarkan sahamnya di harga Rp 6.100-7.800 per saham.

Pengaruhi Underwriter

Dia pun menilai, penjamin emisi (underwriter) juga akan tertekan akibat kondisi ini. Pasalnya, jika penawaran saham tidak mampu terserap pasar dengan baik maka sebagai pelaksana penjamin emisi efek, pihak underwriter yang akan menanggung risiko ini. Karena itu, strategi yang bisa diterapkan perusahaan untuk tetap melaksanakan IPO ditengah pasar yang tidak menentu dan sangat berisiko ini, kata dia, dengan menurunkan harga dan volume transaksi saham yang ditawarkan.

Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal dari FE Univ. Pancasila, Agus Irfani, tahun menjadi tahun yang suram untuk IPO secara sistemik. “Memang dalam IPO ada yang namanya resiko sistemik seperti kenaikan BBM, tahun politik namun ada resiko dari masing-masing perusahaan itu sendiri atau stimulus dari perusahaan itu sendiri yang menjadikan IPO nya dapat berjalan baik,”jelasnya.

Dia menambahkan, keberhasilan IPO suatu perusahaan tidak selalu disebabkan resiko sistemik tetapi juga tergantung perusahaan tersebut. Karena itu, jika suatu perusahaan yang melakukan pengurangan jumlah saham yang akan dilepas untuk IPO adalah langkah yang kurang tepat apalagi jika mereka mengatakan hal tersebut karena adanya risiko pasar (sistemik).

Kendatipun demikian, dirinya mengungkapkan, pasar IPO di Indonesia masih yang terbaik di ASEAN dengan jumlah lebih dari 5 perusahaan di tahun ini, hanya saja dana hasil IPO yang didapat (raising fund) masih terkecil di Asia untuk tahun ini. “Seharusnya jangan hanya memikirkan kuantitas perusahaan yang akan melakukan IPO saja, akan tetapi jumlah raising fund yang didapatkan dari hasil IPO tersebut,”tandasnya.

Tercatat sejak tahun 2010, dana hasil IPO terus merosot hingga saat ini meski jumlah perusahaannya meningkat yang melakukan IPO. Maka untuk menggairahkan pasar saham lagi, perusahaan-perusahaan berkapitalisasi besar seperti BUMN harus ikut serta menjadi perusahaan publik. Karena perusahaan seperti BUMN dapat memberi contoh bagi perusahaan berkapitalisasi besar yang notabenenya adalah swasta.

Sentimen Lokal

Sementara pengamat Pasar Modal Budi Frensidy tetap menyakini, tahun ini merupakan tahun yang sulit bagi perusahaan untuk melakukan Initial Public Offering/IPO mengingat beberapa kendala masih mendera pada Indonesia seperti kenaikan harga bbm, dampak inflasi dan akan masuk ke dalam tahun politik. \"Perusahaan bakal menunda IPO. Bahkan target IPO sebanyak 30 emiten tidak akan tercapai jika kondisinya seperti ini,”ungkapnya.

Meski akan tetap ada emiten yang melakukan IPO ditengah kondisi seperti ini, lanjut dia, pelaku pasar diharapkan bisa melihat dari fundamental perusahaan mulai dari kinerja keuangan, penetapan harga saham perdana dan penjamin emisi efek. \"Kadang pelaku pasar juga menanyakan siapa penjamin emisi efeknya. Bila penjamin emisi efeknya mampu menjaga harga sahamnya dengan baik maka itu juga jadi pertimbangan pelaku pasar,\" tutupnya.

Direktur Penilaian Perushaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Hoesen mengakui, ada beberapa perusahaan yang berniat menunda pelaksanaan penawaran umum saham perdana tahun ini gara-gara kondisi pasar saham sedang bergejolak. “Dikabarkan ada beberapa perusahaan yang berniat menunda IPO karena gejolak saat ini,” katanya.

Namun, lanjutnya, kondisi pasar yang bergejolak bukan menjadi alasan calon emiten menunda untuk IPO. Pasalnya, dalam pekan ini saja ada beberapa perusahaan yang akan melakukan pencatatan saham BEI dan kondisi itu menunjukan masih cukup positifnya industri pasar modal Indonesia. lia/bari/nurul/bani

Related posts