Bisnis Bajatama Dihambat Kenaikan Harga Baja - Targetkan Pendapatan Rp 1,3 Triliun

NERACA

Jakarta - PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) optimis mencapai target pendapatan sebesar Rp 1,32 triliun meski terjadi kenaikan harga pada bahan bakar minyak (ВВМ) bersubsidi dan tarif dasar listrik (TDL). “Kami optimis dapat merealisasikan target tersebut meski telah ada kenaikan harga ВВМ, TDL dan juga pelemahan nilai rupiah. Selain kenaikan tersebut, harga bahan baku dari Krakatau Steel juga ikut naik,”kata Direktur Utama BAJA, Handaja Susanto di Jakarta, Senin (24/6).

Pada tahun ini, untuk baja lapis seng atau galvanis mencapai 61.554 ton dengan nilai Rp 597 miliar. Sedangkan saranalume perseroan menargetkan peningkatan produksi mencapai 55.000 ton atau senilai Rp 578 miliar. Maka untuk memenuhi target, perseroan dihadapi dengan naiknya harga bahan baku pembuatan baja. Dimana salah satu pemasok bahan baku BAJA, Krakatau Steel telah mengumumkan kenaikan harga jual baja.

Namun demikian, dia menyatakan, pihaknya belum berencana untuk menaikan harga produk. Karena selain bahan baku dari Krakatau Steel, BAJA juga mengimpor bahan baku dari beberapa negara di Asia seperti Taiwan, Korea dan Malaysia dan juga melakukan penekanan terhadap biaya produksi.“Harga bahan baku mentah impor lebih rendah antara 5% - 7% dibandingkan dengan pembelian di Krakatau Steel. Komposisi pendistribusian bahan baku antara Krakatau Steel dan impor seimbang, yaitu masing-masing porsinya 50%,”ujarnya.

Selain itu, perseroan juga menganggarkan belanja modal tahun ini sebesar Rp 48,68 miliar atau 50% dari dana penawaran umum (IPO) pada 2011 lalu sebesar Rp97,38 miliar yang akan digunakan untuk pembelian mesin colour“Dari dana IPO yang kami dapat sebesar RP 97,38 miliar akan dibagi rata untuk pembelian mesin pelapis warna dan modal kerja. Realisasi penyerapannya hingga saat ini mencapai Rp 68,09 miliar atau telah terserap 70%. dan sisa IPO menjadi Rp 29,30 miliar atau 70%”, jelas dia.

Bagikan Dividen

Hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) memutuskan untuk membagikan dividen sekitar 30% dari laba bersih perseroan dengan total Rp 5,67 miliar atau setara dengan Rp 3,15 per saham. Sisa laba bersih disimpan sebagai laba di tahan,”Sisa dari Laba bersih dijadikan laba ditahan untuk memperkuat modal perseroan. Untuk tahun ini tidak ada dana cadangan wajib dari laba bersih, karena tahun lalu kita sudah ada dan di rasa masih cukup,”kata Direktur tidak Terafiliasi Suryani Kamil.

Dari segi operasional, BAJA berhasil menaikan produksi baja lapis seng (BjLS) 10,80% atau setara Rp 639,13 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp 576,87 miliar. Penjualan BjLS juga naik 7,42% atau sebesar Rp 638,19 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp 594,10 miliar. Untuk baja lapis alumunium seng (BjLAS), pada tahun 2012 berhasil menaikan produksi sebanyak 66,29% atau setara Rp 426,35 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp 256,39 miliar. Penjualannya juga alami kenaikan cukup tinggi, mencapai 42,25% atau setara Rp 432,65 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp 432,65 miliar.

Sementara dari sisi keuangan, perseroan berhasil membukukan penjualan bersih sebesar Rp 1,07 triliun atau naik 18,94% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 900,35 miliar. BAJA juga mencatatkan kenaikan laba bersih untuk tahun buku 2012 lalu sebesar 13,18% menjadi Rp 18,88 miliar dari Rp 16,61 miliar. (nurul)

Related posts