Kenaikan BBM Picu Indospring Tingkatkan Efisiensi - Catatkan Produksi Tumbuh 19,9%

NERACA

Surabaya - Pasar otomotif yang terus membaik selama tahun 2012 memberikan dampak bagi PT Indospring Tbk karena mampu mencatatkan pertumbuhan produksinya sebesar 114 ton atau tumbuh 19,9% dibandingkan tahun lalu. Perseroan yang bergerak di bidang industry pegas mampu mencatatkan pertumbuhan dipicu karena telah beroperasi pabrik ketiga perseroan.

Direktur Utama PT Indospring Tbk Ikawati Nurhadi mengatakan, di tengah ancaman fluktuasi harga komoditas dan krisis Eropa, sektor otomotif nasional masih dapat bertahan meski menghadapi tantangan dampak kenaikan harga bahan bakar bersubsidi, “Tidak hanya itu, dampak kenaikan upah minimum dan uang muka pembayaran juga memberikan pengaruh bagi perseroan dengan pengendalian ketat terhadap persedian bahan baku,”katanya di Surabaya kemarin.

Dia menuturkan, pengetatan bahan baku khususnya untuk billey dan flat bars yang kemungkinan stabil pasokannya di masa mendatang. Dijelaskannya, pengendalian juga dilakukan perseroan terhadap investasi dan kenaikan biaya dengan meningkatkan efisiensi yang intensif di semua bagian melalui terobosan-terobosan baru di pasar ekspor,”Perseroan akan terus intensifikasi pasar lokal serta menjajaki pengembangan bisnis baru dengan mengantisipasi pasar seiring dengan indikator ekonomi makro yang tetap tumbuh,”ujarnya.

Sebagai informasi, sepanjang tahun 2012 perseroan berhasil membukukan penjualan sebesar Rp 1, 476 triliun atau tumbuh 19,6% dibandingkan tahun 2011 Rp 1.234 triliun. Namun, pecapaian tersebut masih dibawah target yang diharapkan perseroan sebesar 6,3% atau senilai Rp 1,576 triliun.

Meskipun demikian, perseroan berusaha memperbaiki efisiensi dan produktivitas sehingga laba kotor mencapai Rp 294 miliar atau 3,4% dibawah budget dan laba usaha mencapai Rp 213 miliaratau 4,6% dibawah budget. Penjulaan lokal Rp 1,064 triliun atau meningkat 17,8 % dari tahun 2011 yang mencapai Rp 903 miliar. Sedangkan penjualan ekspor meningkat 24,2 % menjadi Rp 413 miliar se4dangkan tahun sebelumnya hanya mencapai Rp 332 miliar.

Kata Ika, beban keuangan tahun 2012 lebih kecil dibandingkan budget karena berkurangnya beban bunga. Perseroan membukukan laba bersih sebelum pajak sebesar Rp 134 miliaratau 10,3% dibawah budget yakni rp 149 miliar. Dengan perhitungan beban pajak penghasilan. Maka laba bersih yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai 133 miliar atau 10,6% di bawah budget yang telah ditetapkan perseroan sebesar Rp 149 miliar.

Bagikan Dividen

Hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) juga menyetujui penggunaan laba bersih tahun buku 2012 sebesar Rp 133,2 miliar sebagian besar atau senilai Rp 132,3 miliar sebagai deviden tunai atau sebesar Rp 420/saham. Selain itu, perseroan juga menggunakan kapitalisasi saldo laba per 31 Desember 2011 senilai Rp 17, 325 miliar sebagai deviden tunai sebesar Rp 55 persaham atau senlai Rp 315 miliar.

Dengan demikian pembagian deviden tunai mencapai Rp 149,6 miliar atau sebesar Rp 475 persaham. Sementara sisa laba tahun buku 2012 disisihkan sebesar 881,2 miliar sebagai cadangan wajib. Selain itu, perseroan juga bakal menerbitkan penawaran saham umum terbatas (PUT II) atau rights issue dengan nilai nominal Rp 1.000 persaham akan ditawarkan dengan harga Rp 1.700 setiap sahamnya sehingga seluruhnya bernilai Rp 357miliar

Nantinya, dana yang diperoleh dari PUT II ini setelah dikurangi biaya emisi sekitar 51.41% atau sebesar Rp 182 miliar digunakan untuk pengembangan usaha yakni pembelian mesin leaf spring untuk menambah 1 line produksi lesf spring di pabrik III-B. Sekitar 31,07 % atau senilai Rp 110 miliar digunakan untuk pengembangan usaha perseroan yaitu pembelian mesin dan pembbangunan gedung pabrik coil spring khusunya hot coil spring dan sisa hasil PUT II sekitar 17,52% atau senilai Rp 62 miliar akan dimanfaatkan untuk modal kerja perseroan. (Shanty)

Related posts