Revitalisasi Mandek, Produksi Karet Nasional Stagnan

NERACA

Jakarta – Geliat industri karet dalam negeri rupanya masih terganjal beberapa masalah. Salah satunya adalah program penanaman kembali (replant) atau revitalisasi pohon karet yang saat ini tidak berjalan dengan baik. Padahal pohon karet yang ada saat ini sudah terbilang cukup tua dan tidak produktif.

Ketua Dewan Karet Indonesia Aziz Pane mengungkap rata rata pohon karet yang ada di perkebunan sudah tua dan sudah dikelupas kulitnya dari atas sampai bawah pohon tersebut. Hal ini, kata Aziz, menandakan kalau pohon karet tersebut memang sudah sangat tidak layak lagi untuk diambil getahnya (sadap). Sehingga produksi karet dalam negeri tidak meningkat alias stagnan.

Saat ini, ujar Azis, produktivitas karet Indonesia masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan Thailand dalam memproduksi karet setiap tahunnya. \"Akan tetapi, dengan memiliki tanah seluas tiga juta hektare lahan, Indonesia cuma mampu memproduksi tiga juta ton karet per tahunnya, sedangkan Thailand yang punya dua juta ha lahan bisa memproduksi tiga juta ton lebih dalam setiap tahunnya,\" ujar Aziz saat usai acara diskusi kesiapan industri karet menghadapi perdagangan bebas ASEAN 2015 di Jakarta, Senin (25/6).

Menurut dia, dengan memiliki tanah seluas tiga juta ha, seharusnya Indonesia bisa memproduksi lebih dari empat juta ton karet per tahunnya. Hal itulah yang harus difokuskan pemerintah dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas karet tiap tahunnya.

Ia menjelaskan, kalau pemerintah bisa memberikan bibit unggul dan revitalisasi yang baik kepada petani, dalam dua tahun ke depan Indonesia bisa jadi nomor satu sebagai penghasil karet.\"Berikan bibit yang terbaik kepada para petani, berikan keistimewaan kepada para petani, dan berikan revitalisasi yang terbaik kepada petani. Saya yakin kalau itu diberikan oleh pemerintah, Indonesia bisa jadi nomor satu dalam memproduksi karet per tahunnya,\" katanya.

“Jangan ada prosedur-prosedur yang mempersulit petani sehingga bisa memperlambat hasil produksi karet tiap tahunnya. Dengan langkah itu, saya yakin kita bisa menjaga produktivitas karet lebih maju,\" ujar dia.

Terapkan SNI

Sementara itu, Direktur Industri Kimia Hilir Toeti Rahajoe mengatakan bahwa Kementerian Perindustrian menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) secara wajib untuk mengembangkan industri berbasis karet alam dalam menghadapi pasar bebas ASEAN.

\"Sampai saat ini, Kemenperin telah memberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) secara wajib terhadap tiga jenis produk barang karet, yaitu ban kendaraan bermotor, selang LPG, dan rubber seal regulator LPG,\" ujar Toeti Rahajoe.

Selain itu, lanjut dia, penerapan standar tersebut diharmonisasikan dengan standar internasional.\"Dalam rangka persiapan pasar bebas ASEAN/AEC, khususnya untuk bidang standardisasi produk berbasis karet alam, ASEAN Consultative Committee for Standards and Quality (ACCSQ)-Rubber based Products Working Group (RB-PWG) saat ini dalam proses harmonisasi standar yang difokuskan harmonisasi standar internasional (ISO, ASTM, EN) secara identik,\" ujar dia.

Dia berharap industri berbasis karet alam mengikuti penerapan standar tersebut dan menerapkannya secara konsisten. Dalam kesempatan yang sama, Toeti Rahajoe juga mengungkap kalau produsen ban nasional telah mampu memenuhi kebutuhan nasinal untuk kendaraan roda 4 dan roda 2 meskipun masih ada beberapa jenis ban khususnya untuk kendaraan off-the road yang belum diproduksi di dalam negeri.

\"Sayangnya kita banyak mendapatkan ban dari China dan India dimana impornya lebih murah. Ban dibuat dari beberapa jenis bahan yang meliputi karet alam, karet sintesis, carbon black, nylon tyre cord, RPO dan rubber chemical,\" ujar dia.

Meskipun ada beberapa jenis ban, ia mengatakan, khususnya yang digunakan untuk kendaraan off the Road serta ban pesawat terbang, masih belum diproduksi dalam negeri, perkembangan ekspor ban roda 4 dan roda 2 mencapai US$ 1,46 miliar Serikat pada 2012. \"Itu hampir 75 % dari perolahan devisa ekspor barang jadi karet,\" kata dia.

Adapun Direktur Industri Kimia Dasar Kementerian Perindustrian Tony Tanduk mengatakan, pemerintah dapat memberikan fasilitas bebas pajak (tax holiday) kepada industri karet sintetis. \"Kita bisa buatkan insentif berupa fasilitas bebas pajak (tax holiday) mengingat investasinya sangat besar dan memberi dampak besar bagi ekonomi,\" katanya.

Tony mengatakan, produk karet sintetis dipergunakan dalam pembuatan ban radial kandungannya hampir 40%. “Sehingga dengan pertumbuhan sektor otomotif demikian pesat di Indonesia maka penggunaan ban radial juga semakin meningkat ini yang membuat industri karet sintetis sangat prospektif,” katanya.

Menurut dia, apabila pabrik syntetic rubber patungan anak usaha PT Chandra Asri Petrokimia Tbk dengan Compagnie Financire Groupe Michelin jadi direalisasikan pada awal tahun 2017 maka akan dapat memberi kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi.

Related posts