Asuransi Menjadikan Hidup Lebih Hidup - Menggugah Kesadaran Masyarakat

Ahmad Nabhani - NERACA

Jakarta–Keluarga adalah segalanya, maka apapun akan dilakukan seorang kepala rumah tangga untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Namun tidak sedikit kepala rumah tangga belum mempersiapkan perencanaan keuangan yang matang sejak dini untuk masa depan keluarga dan termasuk perencanaan proteksi kesehatan bagi dirinya.

Dampak buruknya, ketika sang ayah sebagai pencari nafkah jatuh sakit tentunya kondisi ini akan menjadi beban keluarga karena biaya pengobatan cukup besar. Apalagi tiap tahunnya, biaya kesehatan selalu naik. Bila demikian,percuma hasil kerja sekian tahun, jika hasil income yang didapat tidak disisihkan untuk mempunyai proteksi diri.

Banyak terjadi sebuah keluarga harus menerima kenyataan hidup pahit. Sang Ayah sebagai kepala keluarga sekaligus pencari nafkah jatuh sakit dan sampai meninggal dunia sehingga meninggalkan sang istri yang tidak bekerja dan dua anaknya yang masih kecil. Namun kehidupan tetaplah harus dijalani, tentunya sang istri akan sangatlah kesulitan biaya untuk membesarkan ke dua anak-anaknya.

Solusinya, saatnya menjaga keluarga dari risiko diatas dengan memiliki asuransi jiwa dan asuransi lainnya sesuai kebutuhan. Pasalnya, jika keluarga sudah memiliki asuransi jiwa tentunya secara materi lebih meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Apalagi, saat ini ada asuransi dengan menawarkan investasi, tentunya akan menjadi nilai lebih untuk mengembangkan aset selain mencover biaya kesehatan.

Karena itu, bila selama ini alergi mendengar penawaran asuransi dari agen, alangkah baiknya untuk mempertimbangkan kembali pentingnya berasuransi sebagaikatup penyelamat dari risiko yang dihadapi nanti. Bagaimana pun juga musibah ataupun penyakit akan datang dengan tiba-tiba tanpa lagi menanyakan apakah sudah siap atau belum.

Disamping itu, semakin muda semakin bagus untuk segera memproteksi diri dan memiliiki proteksi income dan investasi untuk perencanaan keuangan di masa depan. Belum teredukasinya masyarakat Indonesia secara untuh akan pentingnya berasuransi, masih menjadi persoalan klasik mengapa penetrasi asuransi di Indonesia masih sangat rendah, yakni 1,1%.

Angka tersebut tertinggal dari negara-negara tetangga, yaitu Malaysia dengan penetrasi 3% dan Singapura 4,3%. Bahkan di Inggris penetrasi asuransi di Inggris sebesar 9,5%. Bahkan di Indonesia masih terjadi kesenjangan yang cukup lebar antara populasi masyarakatnya dengan jumlah peserta asuransi di Indonesia.

Potensi Pasar

Data dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyebutkan, penetrasi asuransi jiwa hanya 3% dari jumlah penduduk, namun untuk angka pemegang polis sendiri masih di level 1% dari jumlah penduduk. Kemudian penetrasi agen asuransi jiwa, yang kini mencapai 175.000, masih sangat minim dibandingkan jumlah populasi penduduk Indonesia yang mencapai 230 juta jiwa.

Sementara kajian AIA Financial menyebutkan, hanya ada sekitar 10.5 juta keluarga yang terlindungi oleh asuransi, sementara secara individual 60% individu belum memiliki asuransi. Disamping itu, mayoritas penduduk Indonesia tidak memiliki asuransi atau bentuk proteksi yang memadai. Oleh karena itu, penetrasi asuransi jiwa di Indonesia baru mencapai 17,5% dari sekitar 60 juta keluarga di Indonesia. Sementara kesenjangan proteksi masyarakat Indonesia diperkirakan sebesar Rp105.7 juta per keluarga.

Kesenjangan ini akan terus bertambah karena biaya kesehatan di Indonesia meningkat sebesar 10 hingga 14% dalam dua tahun terakhir. Manager Corporate Communication PT Allianz Indonesia, Adrian DW mengakui, minat masyarakat terhadap asuransi masih rendah ketimbang keinginan masyarakat untuk mengenal asuransi hanya 4%.

Umumnya, rendahnya minat masyarakat berasuransi lantaran belum mengenal produk-produk asuransi lebih jauh dalam upaya meningkatkan kehidupan di masa depan, “Padahal potensi pasar industri asuransi sangat besar untuk dilacak lebih jauh dan terlebih pasar asuransi di kelash bawah masih belum banyak di kenal,”ungkapnya.

Jeli Memilih Produk

Begitu banyak jenis asuransi, tentunya harus jeli memilih produk asuransi yang sesuai dengan kebutuhan dan mengenali produknya. Alasannya, tidak semua produk asuransi perlu dimiliki. Karena setiap orang punya kondisi keuangan yang berbeda sehingga kebutuhan akan produk asuransi pun belum tentu sama.

Berikutnya, jeli pula memilih polis dari setiap produk asuransi. Bacalah klausul polis dengan seksama supaya benar-benar memahami biaya dan perlindungan yang akan diperoleh. Seringkali terjadi kesalahan, perlindungan dari polis yang dipilih ternyata kurang memenuhi kebutuhan, atau sebaliknya melebihi kebutuhan sehingga sia-sia.

Selain itu, perhatikan nilai premi yang ditawarkan antara suatu perusahaan asuransi dengan lainnya berbeda-beda dan pilihlah yang menawarkan nilai pertanggungan dan pelayanan yang setara namun nilai preminya cukup bersaing. Disamping itu, perhatikan penyebab utama terjadinya risiko. Pasalnya, perusahaan asuransi hanya akan mengganti klaim atas kerugian yang disebabkan oleh faktor yang telah menjadi kesepakatan.

Terakhir amati rekam jejak perusahaan asuransinya, apakah telah terdaftar di Kementerian Keuangan atau tidak. Itulah strategi untuk mendeteksi kualitas perusahaannya apakah cukup sehat sehingga mampu melayani klaim nasabah. Banyak kasus nasabah merasa kecewa karena sulit mendapatkan klaim yang menjadi haknya.

Kini semakin ketatnya persaingan industri asuransi, tentunya perusahaan asuransi dituntut untuk mengembangkan produk yang lebih inovatif sesuai dengan kebutuhan nasabah dan jeli membaca peluang pasar. Langkah inilah yang terus dilakukan Allianz Indonesia dengan memperkenalkan produk baru membidik segmen kelas atas SmartLegalcy.

Produk asuransi jiwa ini menetapkan minimum uang pertanggungan sebesar US$300 ribu dengan premi US$100 ribu,”SmartLegalcy memberikan garansi dengan tingkat pengembalian minimum 4% pada dua tahun pertama dan 2,5% pada tahun berikutnya,\" kata Wakil Direktur Utama Allianz Life Indonesia, Handojo G Kusuma.

Selain itu, Allianz juga menambah jumlah penyakit kritis yang masuk dalam daftar perlindungan dari sebelumnya hanya 49 jenis penyakit kritis. Disamping itu, Allianz juga meluncurkan produk asuransi kesehatan mikro untuk memperbesar porsi bisnis asuransi ritel.

Pada 2012, porsi bisnis ritel di Allianz Utama mencapai sekitar 34% dari total bisnis. Produk yang diberi nama Dana KesehatanKu ini merupakan produk asuransi kesehatan dengan nilai premi Rp300.00pertahun dengan masa pertanggungan selama 1 tahun*

Related posts