Pendidikan Perkuat Ikatan Bisnis Indonesia-Australia

Demi memperkokoh hubungan Australia dan Indonesia di masa depan, pemerintah negara bagian Victoria perkuat ikatan bisnisnya dengan memberikan AU$ 1 Juta untuk mendorong siswanya belajar bahasa dan budaya Indonesia

NERACA

Setelah peresmian Kantor Bisnis Pemerintah Victoria (The Victorian Government Business Office (VGBO)) di Jakarta pekan lalu, lebih dari 300 perusahaan dan 450 delegasi dari negara bagian Victoria berpartisipasi untuk yang pertama kalinya dalam Misi Perdagangan Terbesar (Super Trade Mission (STM)) Asia Tenggara yang dipimpin langsung oleh Premier Victoria yang baru, Dr Denis Napthine.

Selain itu, masih ada sembilan sektor lainnya yang menjadi fokus mereka, antara lain seperti otomotif, penerbangan, makanan dan agribisnis, kesehatan dan lansia, ICT, pariwisata, manajemen dana dan kekayaan, wine, desain perkotaan dan infrastruktur, sektor pendidikan merupakan salah satu sektor perekonomian utama Victoria yang ditampilkan melalui Super Trade Mission di Asia Tenggara. Ekspor terbesar Victoria ke kawasan Asia Tenggara adalah pendidikan internasional yang bernilai lebih dari US$1 miliar per tahun. Tahun lalu, institusi pendidikan Victoria menerima lebih dari 130,000 mahasiswa internasional, atau 30% dari total mahasiswa yang berada di Australia.

Perdana Menteri Negara Bagian Victoria, Denis Napthine menuturkan Ikatan pendidikan antara Victoria dan Indonesia harus terus dibina. Salah satu caranya dengan pertukaran guru dan murid antara Victoria dan Indonesia. Upaya ini juga terkait dengan fakta bahwa Indonesia adalah mitra dagang utama bagi Victoria, dimana perekonomian Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara, meningkat lebih dari 6% setiap tahunnya dan diprediksikan menjadi negara dengan perekonomian terbesar keempat di dunia pada tahun 2050.

“Kunjungan ke SD Kebon Jeruk 11 Jakarta merupakan bagian dari Misi Perdagangan Terbesar (Super Trade Mission) Pemerintah Koalisi Negara Bagian Victoria ke Asia Tenggara. SD Kebon Jeruk 11 Jakarta adalah sister school Point Cook College di Victoria,” kata Denis.

Lebih lanjut, Denis mengatakan, untuk mendorong siswa Victoria Belajar Bahasa dan Budaya Indonesia, serta memberikan mereka kesempatan untuk mengenyam pendidikan di Indonesia, Pemerintah Koalisi Victoria akan menginvestasikan dana sebesar AU$ 1 juta (sekitar Rp 9,2 miliar).

Dana ini digunakan membangun ikatan dengan Indonesia melalui berbagai upaya, seperti meningkatkan jumlah program pembelajaran budaya di sekolah-sekolah di Victoria, menyediakan kesempatan belajar di luar negeri bagi siswa SMP, dan menunjuk seorang ahli Bahasa Indonesia untuk memberikan pendampingan bagi sekolah dan guru. “Mendorong siswa di Victoria untuk belajar Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua kelak akan sangat bermanfaat bagi hubungan bilateral kedua negara,” tamba dia.

Sesuaikan dengan Kebutuhan

The University of Melbourne akan membuka gelar pascasarjana baru jurusan inovasi makanan (food innovation), sebagai hasil konsultasi dengan para mitra dari industri pangan serta disesuaikan dengan kebutuhan industri. Program pascasarjana ini akan menghasilkan lulusan dengan kemampuan berwirausaha yang dibutuhkan oleh industri pangan Victoria dalam upaya untuk memenuhi pasokan pangan di pasar Asia. Jurusan ini meliputi dasar-dasar ilmu pangan, kemasan dan desain produk, pemasaran internasional, serta tren dan pandangan konsumen Asia.

Para mahasiswa akan memiliki akses ke Confectionary Centre for Excellence Kraft Asia-Pacific di Melbourne. Lembaga ini dikelola oleh tim penelitian dan pengembangan (R&D) terbesar di Australia dan menekankan pada pengembangan produk pangan berkualitas tinggi dan inovatif untuk pasar Asia.

Program baru ini akan menjadi jurusan ilmu pangan terbaik di kawasan Asia-Pasifik. Tujuannya adalah untuk tidak hanya menarik minat mahasiswa dari Australia, tetapi juga dari perusahaan pangan terkemuka di Asia (termasuk Indonesia) dan membangun reputasi Melbourne sebagai pusat inovasi makanan untuk wilayah Asia Pasifik. Program pascasarjana baru ini berada dalam tahapawal perencanaan, dan rencananya akan siap diluncurkan pada tahun 2015.

PM Negara Bagian Australia, Dr. Denis Napthine juga mengumumkan beasiswa pascasarjana dalam upaya mendorong anak muda di Victoria, Australia untuk melanjutkan pendidikan Master mereka di Indonesia. Sebanyak 50 Beasiswa Hamer diberikan setiap tahunnya selama 4 tahun terakhir (total 200 penerima beasiswa). Program ini akan terus berlanjut, dan mengikutsertakan mahasiswa yang ingin mengambil jurusan Sastra Indonesia secara langsung di Indonesia.

Related posts