Bahu Membahu Tingkatkan Gizi Masrakat NTT - Kerjasama Lintas Sektor

Program RANTAI atau Rapid Action on Nutrition and Agriculture Initiatives (Aksi Cepat Inisiatif Gizi dan Pertanian) merupakan Program pemberdayaaan perempuan dan pendidikan gizi yang diberikan kepada 4.000 Rumah Tangga di Kabupaten Timor Tengah Selatan.

NERACA

Permasalahan gizi pada kenyataannya masih menghantui masyarakat Indonesia, seperti di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) misalnya, propinsi ini merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang masih rawan terhadap permasalahan gizi. Kedaan ini terlihat dengan adanya berbagai permasalahan yang terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), seperti terbatasnya keragaman pangan, faktor geografis yang kurang mendukung, hingga tradisi yang yang menghambat praktik asupan gizi seimbang, terutama bagi anak serta ibu hamil dan menyusui.

Ahli Gizi dari Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir. Hadi Riyadi, MS mengungkapkan bahwa NTT merupakan provinsi yang mengalami kerawanan pangan dan kekurangan gizi pada balita. Ada 3 jenis masalah kekurangan gizi yang terjadi di TTS, yaitu stunting (kekurangan tinggi badan), underweight (kekurangan berat badan), dan wasting (perpaduan antara kekurangan berat dan tinggi badan).

“Ada 63% yang mengalami underweight, 69% mengalami stunting, dan 24% yang mengalami wasting,\" kata dia.

Karena itu, pemerintah bersama Kraft Foods Indonesia dan Helen Keller International (HKI) dengan didukung oleh Mondelēz International Foundation, berupaya saling bahu membahu untuk mengentaskan masalah malnutrisi di TTS yang masih sangat memperihatinkan itu. Maka muncullah sebuah Inisiatif bernama Program RANTAI atau Rapid Action on Nutrition and Agriculture Initiatives (Aksi Cepat Inisiatif Gizi dan Pertanian)

Program senilai US$2,7 juta yang merupakan komitmen kerjasama lintas sektor yang dimulai sejak Oktober 2011 ini ditujukan untuk membantu sekitar 4.000 keluarga kurang mampu di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Mereka akan diberikan pelatihan gizi, pelatihan pertanian, peternakan dan perikanan, promosi pertumbuhan, dan edukasi gizi dan praktik demo memasak. Program ini juga menargetkan untuk menciptakan 200 kebun contoh yang berfungsi sebagai tempat pelatihan, sumber informasi, sumber inspirasi, serta sumber untuk pemasaran bagi masyarakat sekitarnya.

“Komitmen dan perhatian kami terletak pada masalah kesehatan, terutama gizi pada anak serta ibu, tidak hanya diberikan kepada wilayah yang dekat dengan area bisnis kami, namun juga wilayah-wilayah yang memang membutuhkan bantuan lebih seperti Kabupaten Timor Tengah Selatan,” tutur Head of Corporate Affairs Kraft Foods Indonesia, Devy Yheanne.

Sementara itu, Nutrition Program Manager HKI-Indonesia, Mardewi menjelaskan, program RANTAI dirancang untuk mendorong keluarga kurang mampu di wilayah TTS untuk memanfaatkan pekarangan sehingga mendapatkan akses dan konsumsi pangan yang bergizi yang tersedia sepanjang tahun. Para penerima bantuan akan diberikan benih, sayuran, anak ayam dan ikan lele sebagai tahap awal program juga irigasi skala kecil untuk ketua kebun contoh. Selain itu, program ini menekankan pada pendidikan gizi, termasuk cara mengelola makanan yang bergizi.

“Melalui program ini, kami terutama menyasar perempuan dimana mereka mempunyai beban ganda dalam keluarga untuk mendapatkan pelatihan dan asistensi teknis terkait tanaman pangan bergizi, cara beternak ayam dan ikan, serta pemasaran hasil panen rumah tangga berlebih untuk membantu meningkatkan pendapatan keluarga,” papar dia.

Sasar Kaum Sepuh

Selain memberdayakan perempuan melalui penanaman tanaman bergizi dan ternak hewani, Program RANTAI juga menyasar anggota keluarga seperti nenek, nenek mertua dan suami. Berdasarkan hasil studi formatif yang dilakukan oleh HKI, nenek dan nenek mertua memiliki peranan besar dalam pemberian asupan makanan pada ibu dan bayi.

Salah satu bentuk peran nenek dapat dilihat ketika ibu baru saja melahirkan. Praktik tradisional Se’i atau tidak boleh keluar rumah setelah persalinan adalah hal yang umum di TTS, NTT. Selama jangka waktu yang ditetapkan setelah melahirkan, ibu dan bayi harus tinggal di sebuah pondok dan anggota keluarga lain seperti nenek lah yang mengatur asupan makanan ibu, serta praktik pemberian ASI pada bayi.

Tradisi lain yang diterapkan oleh banyak nenek di wilayah ini adalah membuang kolostrum karena dianggap kotor dan dapat membuat perut anak bengkak atau menyebabkan diare. Selain itu, nenek juga akan memperkenalkan cairan dan makanan lain selain ASI secepatnya satu minggu setelah melahirkan. Hal ini dikarenakan mereka percaya bahwa ASI umumnya mengandung air dan tidak memberikan gizi yang cukup untuk bayi.

“Para nenek menganggap diri mereka sebagai pelindung cucu sekaligus pembawa tradisi. Mereka akan melakukan apa yang diajarkan kepada mereka secara turun-temurun. Tidak hanya untuk memastikan kesejahteraan dan kebutuhan dasar anak tercukupi, namun juga untuk memastikan si anak terlindungi secara spiritual,\" jelas Dewi.

Bahkan para nenek ini akan bertindak keras jika menantu atau anak mereka tidak mematuhi aturan-aturan dan melanggar hal-hal yang dianggap \"pamali\". Inilah yang terkadang membuat para Ibu sulit untuk mengikuti praktik pemberian asupan makanan yang lebih baik, meskipun mereka sebenarnya ingin untuk melakukan hal ini. Karena itu, pendekatan juga harus dilakukan kepada anggota keluarga lain, terutama nenek dan nenek mertua, agar ibu bisa mendapatkan dukungan yang dibutuhkan untuk bersama-sama meningkatkan asupan gizi anak.

Related posts