Kenaikan Inflasi Mengancam Pasar Obligasi

NERACA

Jakarta- Ancaman keluarnya aliran dana asing (capital outflow) tidak hanya berdampak buruk bagi pasar saham, namun juga akan mempengaruhi performa pasar obligasi di tahun ini. Sementara dari sisi supply, penerbitan obligasi saat ini dipengaruhi kenaikan imbal hasil (yield) obligasi, terlebih apabila terjadi kenaikan inflasi secara signifikan. “Dari sisi penerbit, dengan kenaikan yield atau kupon, biasanya diikuti oleh turunnya target penerbitan obligasi dari emiten yang bersangkutan, karena pertimbangan cost of fund yang lebih tinggi.\" kata analis obligasi dari Lembaga Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa kepada Neraca di Jakarta, Minggu (23/6).

Menurutnya, dengan kenaikan inflasi tentu investor akan meminta kupon yang lebih tinggi dari sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan deposito masih akan lebih tinggi bunga obligasi sehingga dari sisi permintaan sebenarnya tidak akan ada masalah. \"Justru ini bisa menjadi kesempatan bagi investor untuk kembali masuk ke pasar, karena saat ini kupon atau yield bergerak naik dan harga obligasi cukup murah.\" ucapnya.

Selain ancaman inflasi, lanjut dia, capital outflow karena rencana pemberhentian stimulus The Fed juga akan berdampak bagi kinerja obligasi ke depan. Oleh karena itu, pemerintah atau Bank Indonesia harus mulai mengantisipasi agar harga obligasi tetap stabil dan tidak terlalu bergejolak sehingga dapat menarik pemodal maupun investor bermain di pasar obligasi.

Menyikapi kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai sinyal lesunya pasar saham akibat sentimen ketidakpastian, kata dia, secara umum seharusnya dapat membawa berkah bagi pasar obligasi. Namun, akibat ketidakpastian kebijakan pemerintah, hal yang terjadi justru sebaliknya. \"Data historis membuktikan bahwa memburuknya pasar saham, akan menjadi berkah bagi pasar obligasi, namun dengan asumsi kalau tidak ada ketidakpastian soal kebijakan pemerintah, sementara tahun ini pasar obligasi tertekan ketidakpastian plus kenaikan BI rate.\" jelasnya.

Potensi Bubble

Sementara pengamat ekonomi, Yanuar Rizky menambahkan, ditengah pelemahan rupiah dan inflasi yang tinggi akibat dampak kenaikkan BBM akan terjadi potensi bubble di pasar saham dan obligasi pada semester ke 2 tahun ini. Oleh karena itu, menurutnya, investor harus selalu waspada terhadap pelemahan rupiah ini. \"Pasar uang itu walaupun di recovery akan seperti itu lagi, karena itu investor harus waspadai hal ini,\" katanya.

Soal penarikan dana masyarakat dari deposito ke obligasi, lanjutnya, tidak akan terjadi apa-apa. Pasalnya, pasar obligasi masih disitu-situ saja dan tidak berubah. Sebelumnya, Direktur Utama BCA Sekuritas, Mardi Henko Sutanto pernah bilang, kenaikan BBM akan memaksa emiten menghitung kembali rencana penerbitan obligasi karena dikhawatirkan penyerapannya rendah, “Kenaikan BBM tentu ada dampaknya dan termasuk pasar obligasi karena bunganya akan bersaing dengan deposito,”katanya.

Bahkan menurutnya, dengan kenaikan BBM tersebut, investor akan lebih memilih investasikan dananya di deposito dan Surat Utang Negara (SUN) yang dinilai lebih aman. Oleh karena itu, dirinya mengakui, nantinya akan banyak dana masyarakat beralih ke deposito dan Sukuk pemerintah karena suku bunganya yang tinggi seiring inflasi yang naik akibat dampak kenaikan BBM.

Hal senada juga disampaikan, analis dari PT Remax Capital, Lucky Bayu Purnomo, isu kenaikan harga BBM memang mempengaruhi pasar obligasi di Indonesia. Bahkan dia memperkirakan akan ada penurunan volume transaksi sebesar 2%-4%.

Sebaliknya, Direktur Utama PT Bahana Securities, Eko Yuliantoro menegaskan, prospek penerbitan obligasi di Indonesia masih cukup baik. Berdasarkan catatan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga 20 Juni 2013, emisi obligasi dan sukuk telah mencapai Rp31,14 triliun dari 28 emisi atas 25 emiten. (lia, slyke)

Related posts