Kesigapan dan Kesiapan Pasar Modal Hadapi Krisis - BEI Siapkan Management Krisis

NERACA

Jakarta – Krisis ekonomi keuangan tidak pernah ada yang tahu kapan datangnya. Karena krisis datang secara tiba-tiba. Tengok saja, krisis ekonomi yang terjadi tahun 1998 dan krisis ekonomi Amerika tahun 2008 lalu, menjadi gambaran jelas krisis yang terjadi jauh disana bisa begitu hebat dampaknya terhadap ekonomi dalam negeri. Maka belajar dari pengalaman, Indonesia perlu segera mengimplementasikan protokol management krisis.

Setidaknya langkah inilah yang telah di lakukan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terhadap industri pasar modal seiring dengan terus terkoreksinya indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia hingga akhir pekan kemarin di level 4.500 atau turun tajam dari peringkat sebelumnya berada di level 5.000. Hal ini dipicu derasnya dana asing yang keluar.

Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Uriep Budhi Prasetyo mengatakan, pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap pergerakan pasar saham domestik dengan menjalankan protokol manajemen krisis,”Bursa Efek Indonesia memiliki indikator dan tahapan yang dapat dilakukan ketika pasar bergejolak seperti saat ini yakni dengan menjalankan CMP,\"ungkapnya.

Dia mengemukakan, jika IHSG BEI mengalami tekanan hingga lima persen maka otoritas Bursa akan memonitor pergerakan saham dan menunjukkan sinyal tanda bahaya. Oleh karena itu, BEI mempunyai alat untuk memberikan sinyal itu pop up. Kemudian jika IHSG turun sampai tujuh persen, maka direksi BEI akan mengadakan rapat dan akan mengambil keputusan, sambil terus melaporkan kepada pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Selanjutnya, jika IHSG turun 10% direksi dapat mengambil keputusan untuk melakukan penahanan perdagangan saham di bursa domestik (hold), dan biasanya dilakukan selama 30 menit.\"Dalam situasi seperti itu semua transaksi saham tidak dapat dilaksanakan tapi tidak di-\'withdraw\',\" kata Uriep.

Setelah 30 menit dilakukan \"hold\", lanjut dia, jika indeks BEI kembali melanjutkan pelemahan maka pihak Bursa akan melakukan suspensi terhadap perdagangan saham.\"Jika IHSG turun hingga 10% lebih maka kebijakan tidak lagi berada di Direksi BEI melainkan langsung ditangani oleh OJK,”tandasnya.

Uriep mengatakan, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan OJK dalam hal protokol manajemen krisis. Sementara BEI memiliki indikator pergerakan indeks BEI diantaranya, tahapan status yang diberikan yakni netral, waspada dan krisis. Sebagai informasi, dampak krisis ekonomi di Amerika 2008 lalu, BEI pernah melakukan suspensi perdagangan (suspensi). Hal ini dilakukan otoritas BEI untuk menyelamatkan pasar saham dari keterpurukan.

Kala itu, IHSG berada di level 1.546,93 atau turun tajam 68,36 poin. Indeks saham berada pada level paling rendah sejak 2 Oktober 2006. Saat itu indeks saham berada di posisi 1.549,629. Namun, masih lebih tinggi ketimbang 9 Oktober yang tercatat 1.572,198. Indeks LQ45 turun 15,82 poin ke posisi 306,67 dan Jakarta Islamic Indeks (JII ) turun 8,47 poin ke posisi 240,1

Bersifat Sementara

Namun saat ini suspensi pasar belum perlu dilakukan, lantaran penurunan indeks BEI masih disikapi wajar. Bahkan Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad menegaskan, pelemahan IHSG beberapa hari ini lebih disebabkan faktor global dan hanya akan berlangsung sementara, “Ini lebih disebabkan faktor global, karena keluarnya investor-investor asing dari bursa, dan itu juga terjadi di pasar-pasar saham negara lainnya,”tegasnya.

Muliaman menjelaskan, pernyataan The Fed yang menyebutkan bahwa perekonomian Amerika Serikat ke depan akan segera membaik sehingga AS akan mengurangi stimulus ekonominya yang telah dijalankan melalui Quantitative Easing memicu pembalikan modal dari negara-negara emerging market.\"Pembalikan modal asing tidak hanya terdiri di bursa saham, tetapi juga di rupiah dan surat berharga negara,\" katanya.

Muliaman meyakini IHSG akan kembali menguat setelah terjadinya keseimbangan baru pasar keuangan global didukung kekuatan investor domestik yang selama ini menopang tumbuhnya IHSG. Pasalnya, kekuatan ekonomi domestik diyakini bakal kembali memperkuat IHSG, karena sejak lima tahun yang lalu IHSG telah tumbuh sangat positif meski perekonomian dunia berada dalam keadaan krisis.

Asal tahu saja, tahun 2009 IHSG hanya berada di posisi 1.355, dan tahun 2013 IHSG tumbuh pada kisaran 4.300-5.200. Muliaman menambahkan, OJK akan terus memantau perkembangan pasar saham di dalam dan luar negeri, dan mengharapkan investor dalam negeri untuk meyakini perkembangan perekonomian nasional yang masih membaik tercermin dari pertumbuhan kinerja emiten-emiten nasional.

Selain itu, OJK juga akan terus berkoordinasi dengan pihak BEI, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan untuk membicarakan berbagai kebijakan yang bisa dilakukan untuk tetap menjaga stabilitas perekonomian nasional. (bani)

Related posts