Harga Mamin Diperkirakan Naik 10% - Biaya Distribusi Meningkat

NERACA

Jakarta - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gappmi) memprediksi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium dan solar bakal mendorong naiknya harga makanan dan minuman sekitar 5%-10%.

Menurut Ketua Gappmi Adhi S Lukman, kenaikan harga BBM subsidi akan berpengaruh ke biaya transportasi dan distribusi di industri makanan minuman menengah besar. Kegiatan distribusi dan transportasi tidak hanya untuk produk jadi, namun juga bahan baku. \"Kalau ditotal dampaknya, kami harapkan tidak lebih dari 5%,\" jelas Adhi saat berbincang dengan Neraca, akhir pekan lalu.

Adhi menuturkan, kenaikan harga BBM paling berat bagi pelaku usaha kecil mikro (UKM). Pasalnya, usaha kecil tidak hanya memakai BBM untuk transportasi dan distribusi, tapi juga untuk kegiatan produksi. \"Untuk makanan dan minuman yang diproduksi usaha kecil, harganya bisa naik hingga 10%,\" tutur dia.

Namun, Adhi berjanji kenaikan harga makanan kemasan tidak akan terjadi dalam waktu dekat karena mendekati bulan Ramadan dan lebaran. Kenaikan harga, lanjut dia, terpaksa dinaikkan setelah lebaran. \"Kenaikan 5% itu opsi terakhir, tapi kalau untuk UKM itu langsung naik,\" kata Adhi.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Franky Sibarani mengungkap kenaikan harga itu akan mendorong kenaikan harga makanan dan minuman sebesar 5%.

Pemerintah rencananya akan menaikan harga BBM subsidi sebesar Rp1.500-Rp2.000 per liter. Namun, karena jenis solar lebih banyak digunakan untuk angkutan umum dan angkutan barang, kenaikannya akan lebih kecil dari harga premium. \"Pengaruh ke biaya produksi tidak, tapi lebih kepada biaya distribusi. Kecuali untuk industri rumah tangga, baik biaya produksi maupun distribusi pasti terkena,\" ujar Franky.

Saat ini industri makanan dan minuman untuk kategori menengah ke atas telah menggunakan BBM non subsidi. Sementara bagi industri kecil, masih menggunakan BBM subsidi. Total pendapatan industri makanan dan minuman Indonesia 75% bergantung dari industri menengah ke atas. Sementara 25% hanya disumbangkan dari industri kecil.

Sementara itu,menjelang bulan puasa dan Lebaran, kenaikan harga makanan dan minuman tak bisa dihindari. Kementerian Perindustrian (Kemperin) memperkirakan harga produk olahan makanan dan minuman berpotensi naik 5%-7%.

Bagi produsennya, momen tersebut tentu merupakan momen yang ditunggutunggu. Soalnya, menurut Faiz Ahmad, Direktur Industri Makanan dan Minuman, Kemperin, momen tersebut akan meningkatkan utilisasi produksi industri sekitar 15%20% dari biasanya. \"Selain meningkatnya permintaan, kenaikan harga ini juga dipengaruhi beban biaya produksi industri yang diprediksi akan naik menjelang Lebaran,\" kata Faiz Ahmad.

Biaya tambahan itu terutama dari gas. Peningkatan produksi mengakibatkan industri harus mengonsumsi gas lebih banyak, bahkan melampaui kuota yang dialokasikan untuk makanan dan minuman. Akibatnya, industri terkena charge tambahan sehingga harga gas akan menjadi 150%250% lebih mahal dibanding harga gas biasa.

Maka, kenaikan harga makanan dan minuman tidak selalu karena ingin mendongkrak keuntungan, tetapi karena biaya produksi juga naik.Biaya yang harus ditanggung perusahaan dan mengakibatkan kenaikan harga ini antara lain kenaikan harga bahan baku dan juga kenaikan harga kemasan makanan dan minuman. Begitupun pada pos distribusi.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan, diperlukan investasi sebesar Rp 65 triliun untuk memenuhi target pertumbuhan industri makanan dan minuman sebesar 8,1%. Menurut Kemenperin, saat ini, industri makanan dan minuman membutuhkan investasi Rp65 triliun bagi pembangunan pabrik baru, perbaikan infrastruktur serta pembangunan klaster khusus.

“Saat ini, industri makanan minuman dan tembakau merupakan salah satu kelompok industri strategis yang memberikan kontribusi paling besar terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 6,96% dibandingkan dengan kontribusi sektor lainnya,” Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin, Abdul Rochim.

Untuk investasi industri makanan dan minuman pada tahun lalu, menurut Rochim, mencapai Rp63,65 triliun dan pada 2011 mencapai Rp60,53 triliun. Dalam rangka meningkatkan investasi kelompok industri makanan dan minuman pada tahun ini, pemerintah akan terus menjalankan program penghiliran industri berbasis agro.

“Beberapa contoh program penghiliran industri berbasis agro seperti peningkatan produksi minyak goreng kelapa sawit dan kakao. Penghiliran industri minyak goreng kelapa sawit mampu meningkatkan utilisasi industri sebesar 45% pada 2010 menjadi lebih dari 70% pada tahun berikutnya,” paparnya.

Related posts