BI Mengaku Pelemahan Rupiah Akibat Faktor Eksternal - Beli SBN Senilai Rp1,2 Triliun

NERACA

Jakarta - Mata uang rupiah kembali tersungkur. Nilai tukar rupiah pada Jumat (21/6) pekan lalu, melemah 20 poin menjadi Rp9.980 per dolar AS posisi sebelumnya yang sebesar Rp9.960 per dolar AS. Sementara Bank Indonesia (BI) mengklaim bahwa kebijakan Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) di mana mereka akan membatasi aliran stimulus moneter (quantitative easing/QE), membuat rupiah semakin melemah lantaran telah memberi tekanan yang kian besar.

“Tidak hanya rupiah saja, tetapi pengaruhnya juga dirasakan oleh nilai tukar mata uang di kawasan (Asia Pasifik). Jadi, saya melihat kalau nilai tukar ini masih wajar, dan ini juga mencerminkan suplai dan permintaan pasar valas. Pada intinya, faktor eksternal yang paling berpengaruh,\" ujar Kepala Eksekutif Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, Dody Budi Waluyo, di Jakarta.

Meskipun begitu, lanjut dia, bank sentral tetap melakukan intervensi dan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk menjaga pergerakan nilai tukar sesuai dengan fundamental pertumbuhan ekonomi. Namun, Doddy tak menjelaskan berapa kisaran kurs yang ingin dicapai. \"Tidak punya target level. Tapi kami tetap menjaga di fundamental ekonomi yang sekarang supaya mengarah ke pertumbuhan ekonomi,\" ungkapnya. Sebagai informasi, BI mengintervensi pasar valas dengan menjamin ketersediaan pasokan dolar AS di pasar, dan menjaga rupiah sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo, mengaku jika membaiknya perekonomian AS akan berdampak positif bagi sejumlah negara, seperti China dan India, yang pada akhirnya akan membantu peningkatan kinerja ekspor nasional. \"Akhir-akhir ini pertumbuhan ekonomi AS memang menunjukkan pemulihan dan sesuai dengan jalur. Ini akan berdampak positif bagi China dan India, dan pada akhirnya membantu kinerja ekspor kita,\" kata Perry. Dampak positif itu, kata dia, karena China dan India merupakan negara tujuan ekspor Indonesia.

Menurut perhitungan Perry, membaiknya perekonomian AS akan meningkatkan perekonomian China serta India sehingga permintaan ekspor dari kedua negara ini akan meningkat. Dia juga mengatakan bahwa pada gilirannya peningkatan ekspor nasional juga akan mengurangi defisit transaksi berjalan, yang diperkirakan akan semakin membaik setelah melalui triwulan II 2013. \"Defisit (neraca transaksi berjalan) itu memang umumnya lebih tinggi di triwulan kedua. Namun, setelahnya akan kembali naik hingga triwulan empat. Dan, ini juga didukung dengan kebijakan The Fed serta kebijakan di domestik kita,\" cetus Perry.

Meredam pelemahan

Tak hanya memasok dolar AS di pasar valas, Perry juga mengungkapkan telah membeli Surat Berharga Negara (SBN). Upaya ini, imbuh Perry, bertujuan untuk meredam melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang semakin terpuruk. \"Kami membeli SBN dari pasar sekunder, karena sebagian menarik dana dari pasar SBN. Kemarin (Kamis, 20/6) kami membeli SBN Rp1,2 triliun. Oleh karena itu, SBN di pasar sekunder mulai stabil. Untuk posisi (outstanding) BI saat ini Rp101,3 triliun,\" terang dia.

Pembelian SBN oleh BI rinciannya sebagai berikut. Pada pagi hari atau pembukaan Rp400 miliar, dan sore hari atau penutupan Rp800 miliar. Bahkan, BI juga telah bekerjasama dengan pemerintah untuk membeli SBN sebesar Rp500 miliar. Kebijakan bank sentral membeli SBN ini jika ada investor asing yang melakukan penarikan dana guna menjaga stabilitas nilai tukar serta pasar SBN. Apabila arus modal keluar oleh investor asing telah mereda dan investor domestik telah mampu menyerap SBN, BI tidak melakukan intervensi dengan membeli SBN terlalu banyak. [ardi]

Related posts