BBM Naik, Menperin: Biaya Produksi Hanya Bertambah 1,2%

NERACA

Jakarta - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi terhadap industri nasional nampaknya akan mengerek terhadap ongkos produksi. Namun kenaikan harga BBM bersubsidi ini tidak berdampak signifikan, karena industri nasional sudah lama tidak menggunakan BBM bersubsidi.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terhadap industri sebesar 1,2% dalam penambahan ongkos produksi. \"Sudah dihitung dampak kenaikan harga BBM terhadap industri yaitu ada penambahan biaya produksi sebesar 1,2%,\" ujar Hidayat saat ditemui seusai penyaluran BLSM di Kantor Pos cabang Tegal Alur, Jakarta, Sabtu (22/6).

Menurut dia, dampak kenaikan harga BBM terhadap sektor industri tidak terlalu signifikan karena memang menggunakan BBM yang tidak bersubsidi.\"Pemerintah mau tidak mau harus menaikkan harga BBM untuk mengurangi subsidi, dengan pengurangan tersebut maka kita bisa saving Rp90 triliun dan sehingga bisa menyelamatkan APBN kita,\" kata dia.

Selain itu, ia mengatakan, pengurangan subsidi tersebut untuk pemerataan kesejahteraan kepada kelompok masyarakat yang lebih berhak karena selama ini subsidi BBM tidak tepat sasaran. \"Subsidi BBM khan selama ini banyak dinikmati kelompok masyarakat menengah ke atas,\" ujar dia.

Di tempat yang sama, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Ansari Bukhari optimis bahwa target pertumbuhan industri pada tahun ini sebesar 6,5 % dapat tercapai. \"Saya tetap optimis target pertumbuhan industri kita dapat tercapai,\" kata dia.

Kementerian Perindustrian mengoreksi target pertumbuhan industri 2013 dari sebesar 7,14 % menjadi 6,5 % karena berbagai faktor seperti suku bunga yang kurang kondusif dan nilai tukar rupiah yang melemah. \"Ini memang ada dalam 2-3 minggu ada kenaikan sementara, tapi nanti dia akan decline lagi,\" katanya.

Hitungan Kemenperin tersebut berlaku jika kenaikan harga BBM premium menjadi Rp 6.500 dan solar menjadi Rp 5.500/liter. Sektor industri yang paling terkena dampak ialah industri tekstil dan alas kaki yang akan biaya produksinya meningkat sebesar 1,54%. Beberapa komoditi strategis seperti makanan dan minuman hanya naik sebesar 0,63%, semen sebesar 0,66%, serta tekstil dan alas kaki sebesar 1,54%,\" papar Ansari.

Sedangkan untuk kenaikan solar menjadi Rp 5.500/liter akan berdampak kenaikan biaya produksi rata-rata sebesar 0,6%. Beberapa komoditi stretegis seperti industri makanan dan minuman hanya akan naik sebesar 0,31%, semen sebesar 0,33%, serta alas kaki dan tekstil sebesar 0,77%. \"Saya sih masih optimistis,” kata dia.

Menurut dia, koreksi tersebut didasarkan atas beberapa hal yakni adanya beberapa kendala menyangkut regulasi, tingkat efisiensi yang belum sesuai harapan, suku bunga yang kurang kondusif dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang melemah.

Terkait dengan turunnya target pertumbuhan industri, pihaknya saat ini terus melakukan koordinasi dengan beberapa menteri ekonomi untuk mengatasi kendala-kendala yang bisa menghambat pertumbuhan industri.

Dia menambahkan pihaknya saat ini tengah mendorong upaya hilirisasi mineral. Saat ini bidang agroindustri seperti kelapa sawit dan kakao sudah berhasil melakukan hilirisasi. Sementara untuk karet saat ini masih dalam proses.\"Yang sedang kami coba upayakan itu hilirisasi mineral,\" katanya.

Related posts