Pasar Masih Tak “Bergeming” - Terpukul Defisit Kembar

NERACA

Jakarta- Meskipun pemerintah telah menaikkan suku bunga acuan dan FASBI untuk mengendalikan laju pelemahan rupiah, namun sepertinya tidak memiliki banyak berpengaruh. Pada akhir pekan kemarin, kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta ditutup stagnan di level 9.920/9.930.“Dari sisi internal makroekonomi, terutama neraca perdagangan dan neraca berjalan, juga belum terlalu membaik sehingga pelaku pasar merasa belum ada trigger untuk pegang rupiah.” jelas Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurutnya, pergerakan nilai tukar rupiah yang masih nyaman di zona merah seiring dengan aksi pelaku pasar yang masih beralih ke US$ seiring dengan rencana pengurangan stimulus The Fed. “Pelaku pasar mengkhawatirkan efek samping selanjutnya dari hasil keputusan The Fed tersebut.” ujarnya.

Kepanikan yang berlebihan, kata dia, melanda hampir seluruh bursa saham global pasca dirilisnya keputusan The Fed tersebut. Sehingga tak ayal membawa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkoreksi ke level 4515,37 seiring terjadinya pelemahan bursa saham global.

Sementara itu, sepanjang perdagangan pekan kemarin, IHSG tercatat mengalami penurunan sebanyak -245,37 poin (-5,15%) atau lebih tinggi dari pekan sebelumnya yang turun -104,58 poin (-2,15%). Penurunan ini juga terjadi pada indeks utama lainnya di mana indeks LQ45 memimpin penurunan -6,84% dan diikuti indeks IDX30 dan JII yang masing-masing anjlok - 6,95% dan -6,80%.

Laju indeks sektoral pun tercatat ikut memerah dengan penurunan terdalam dialami indeks aneka industri, keuangan, dan manufaktur yang masing-masing terkoreksi -7,52, -6,55%, dan -5,65%. Reza menilai, dengan posisi akhir yang masih berada di kisaran 4480-4570 yang menjadi target support sebelumnya, IHSG belum memperlihatkan adanya potensi penguatan (rebound).

Dia pun memperkirakan, pada pekan depan IHSG akan berada pada rentang support 4480-4570 dan resisten 4945-4978. “Kami harapkan koreksi ini tidak berkepanjangan sehingga IHSG masih memiliki peluang untuk memperbaiki laju positifnya.” ucapnya.

Dalam kondisi tersebut, menurut dia, pelaku pasar dapat mencermati sektor industri dasar, konsumer, infrastruktur, properti, dan perdagangan. Sejumlah saham yang dapat diperhatikan antara lain PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI), PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB), PT Charoen Pokpand Indonesia Tbk (CPIN), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA), PT Global Mediacom Tbk (BMTR), PT AKR corporindo Tbk (AKRA), PT Mitra Adiperkasa (MAPI), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN), PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN). (lia)

Related posts