Bluescope Berencana Bangun 4 Pabrik Baru - Investasi Dana Hingga US$8 Juta

NERACA

Jakarta – Salah satu produsen baja yaitu Bluescope Indonesia berencana membangun 4 pabrik baru di Indonesia. Presiden Direktur PT NS Bluescope Indonesia, Choeng Ku Wei menyatakan bahwa pembangunan pabrik ini merupakan upaya perusahaan untuk meningkatkan pertumbuhan industri baja.

“Rencana ini merupakan ekspansi bisnis perusahaan dalam 3 tahun ke depan. Investasinya antara US$5 juta-US$8 juta. Kemungkinan besar, di tahun ini akan terserap sebesar US$4 juta,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Nantinya, 4 lokasi pabrik ini akan dibangun di Semarang, Pelembang, Makasar dan Pekanbaru. Dalam dua tahun ke depan, produsen baja asal negeri Kanguru ini juga akan membangun masing-masing tiga pabrik tiap tahun. Lokasinya juga akan dicari di beberapa kota yang kondisi ekonominya tumbuh cukup baik. Salah satu kota yang diincar Bluescope untuk pabrik berikutnya adalah Manado, Sulawesi Utara.

Dengan begitu, dalam tiga tahun ke depan Bluescope akan membangun setidaknya 10 pabrik baru. Rencana penambahan pabrik ini termasuk pembangunan pabrik untuk anak usaha Bluescope yaitu PT NS Bluescope Lysaght Indonesia yang telah beroperasi sejak tahun 1973 dengan nama PT BRC Lysaght Indonesia.

Selain itu, pihaknya juga akan meningkatkan akses ke pasar manufaktur dan material rumah tangga di lingkup ASEAN. Pasalnya hal ini sejalan dengan upaya perusahaan yang bekerjasama dengan Nippon Steal and Sumitomo Corporation (NSSMC). \"Kami akan membawa berbagai jenis produk baru dalam meraih pangsa pasar yang lebih luas di segmen bangunan dan konstruksi serta segmen material peralatan rumah tangga,” tuturnya.

Cheong menilai, joint venture dengan NSSMC ini diharapkan mampu membantu peningkatan akses terhadap pelanggan lokal dan regional, termasuk juga sejumlah perusahaan asal Jepang yang beroperasi di kawasan ASEAN. \"Kami akan berusaha untuk menjadikan joint venture ini sebagai strategi bisnis baru yang mampu mendukung industri konstruksi Indonesia,\" tukasnya.

Ia menambahkan, sejauh ini perusahaan telah mampu memberikan dukungan pada pertumbuhan industri baja di Indonesia. \"Ini dalam mengantisipasi perdagangan bebas mendatang ASEAN Economc Community (AEC) 2014, joint venture tersebut akan berperan dalam memenuhi kebutuhan pasar ASEAN,\" imbuh dia.

Sementara itu, langkah bisnis yang akan ditempuh BlueScope ini ia meyakini, bisa memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting di industri baja. \"Selama ini BlueScope dan NSSMC sudah melaksanakan 65 proyek kerjasama sejak 1970. Kami ingin berkomitmen dalam berkontribusi bagi pelanggan berbasis global,\" papar Cheong.

Permintaan Meningkat

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indonesia Iron and Steel Association (IISIA) Edward Pinem menilai bisnis baja di tahun ini tetap prospektif lantaran pertumbuhan industri manufaktur positif tahun ini. Imbasnya, pelaku industri bisa berekspansi. \"Jadinya, permintaan baja akan meningkat untuk memenuhi rencana bisnis mereka,\" katanya.

Ia pun memprediksi penjualan baja domestik tahun ini tumbuh 7% menjadi 10 juta ton dibanding tahun 2012 yang sebesar 9,4 juta ton. Permintaan dari sektor manufaktur dan infrastruktur menjadi penopang permintaan baja tersebut.

Ini masih ditambah dari pembangunan proyek-proyek infrastruktur yang masih terus berlangsung di tahun 2013 ini. Sudah pasti, proyek ini membutuhkan pasokan baja. Belum lagi dari industri otomotif yang masih tetap positif di tahun ini. Maklum, industri otomotif membutuhkan pasokan baja lebih banyak seiring kenaikan pasar otomotif domestik tahun ini.

Kendala terbesar yang bisa menghambat laju bisnis industri baja nasional justru di pasar global. Soalnya, selama tahun 2012, kondisi ekonomi global yang lesu membuat permintaan baja dunia menurun sementara produksinya tetap tinggi. Alhasil, harga baja dunia jadi mengendur yang berimbas ke harga baja domestik. \"Kami berharap ekonomi global membaik di tahun 2013,\" ucapnya.

Edward memprediksi, pertumbuhan industri baja nasional tahun lam cuma 4%. Jauh dari hasil yang dicapai tahun 2011 yang bisa menyentuh angka pertumbuhan 13%. Persoalan bahan baku besi bekas atau sekrap yang tertahan di beberapa pelabuhan mulai awal 2012 menjadi salah satu penyebab utama terhambatnya pertumbuhan industri besi baja sepanjang 2012.

Related posts