Integrasi Pelabuhan Mampu Tekan Biaya Logistik Hingga 20%

NERACA

Jakarta – Konsep Pendulum Nusantara atau pengintegrasian antar pelabuhan akan mampu menekan biaya logistik. Pasalnya saat ini biaya angkutan dari Jakarta menuju daerah Indonesia Timur lebih mahal dibandingkan dengan biaya logistik dari Jakarta menuju Singapura. Hal ini seperti yang diungkapkan Juru Bicara Komite Pengawas Independen Pembangunan Terminal Kalibaru, Faisal Basri di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Faisal menjelaskan bahwa untuk mengirim barang dari Jakarta-Sorong membutuhkan dana US$2.000 per kargo, sedangkan pengiriman barang dari Jakarta ke Singapura hanya US$250 per kargo. Besaran tarif logistik per kargo ini yang membuat harga barang menjadi mahal.

Pemerintah sendiri telah membuat program Pendulum Nusantara yang mengintegrasikan enam pelabuhan di enam wilayah untuk mendukung logistik lebih efektif dan efisien. Enam pelabuhan tersebut adalah Belawan, Batam, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makassar, dan Sorong.

Jika konsep Pendulum Nusantara ini berjalan baik, biaya logistik yang selama ini mengambil 30% total biaya produksi dapat turun menjadi 10%. \"Biaya logistik dapat turun 20%, Apalagi kalau ada kenaikan BBM maka tidak akan ada pengaruhnya dengan konsep ini,\" katanya.

Dengan konsep ini, maka harga berbagai barang elektronik dan bahan bangunan di Indonesia bagian timur tidak akan berbeda jauh dengan Jakarta. Tugasnya sebagai komite pengawas untuk memastikan proyek ini berjalan dengan baik sesuai rencana.

Pengamat Transportasi Yamin Jingca mengakui bahwa mahalnya biaya logistik dikarenakan 3 faktor, yakin muatan, kapal, pelabuhan dan infrastruktur. \"Kita harus menegaskan pemerintah untuk segera membangun infrastruktur khususnya infrastruktur transportasi.\" ujarnya.

Permasalahan akses darat pun masih menjadi faktor mahalnya biaya logistik, karena akses transportasi geometrik jalan yang masih bermasalah. \"Sekarang banyak kontainer menumpuk di pelabuhan, karena masih banyak pelabuhan yang dibangun tidak singkron dengan akses transportasinya,\" katanya.

Pengusaha Ragu

Pengusaha pelayaran menyangsikan penerapan sistem Pendulum Nusantara mampu menekan biaya logistik laut hingga 50%. Pelabuhan justru menjadi lokasi pengeluaran biaya logistik terbanyak dibandingkan dengan operasional perusahaan pelayaran.

\"Kami mempertanyakan pada komponen mana dari biaya logistik angkutan laut bisa turun 50% dengan adanya Pendulum Nusantara. Biaya logistik terbesar selama ini ada di pelabuhan,\" ujar Wakil Ketua Umum Indonesian National Shipowners Association (INSA) bidang Angkutan Kontainer, General Cargo, dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Asmary Hery.

Pendulum Nusantara adalah sebuah sistem terintegrasi di mana operator pelabuhan dan para pemangku kepentingan menyediakan rute pelayaran sepanjang jalur barat-timur Indonesia yang beroperasi seperti pendulum. Rute yang dimaksud akan melewati enam pelabuhan utama, yakni Belawan, Batam, Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Sorong.

Dia mencontohkan, perjalanan kapal dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta ke Pelabuhan Belawan, Medan yang menghabiskan biaya logistik mencapai Rp 6 juta. Dari total biaya tersebut, sebesar 60% habis di pelabuhan.

Sementara dia menyebutkan rata-rata biaya perusahaan pelayaran hanya mencapai Rp 2 juta. Komponen biaya terdiri dari bahan bakar minyak (BBM), kru kapal, perjalanan kapal, perawatan, tarif pelabuhan.

Perihal itu, Ketua INSA, Carmelita Hartoto meminta tidak ada lagi kenaikan tarif di pelabuhan yang membebani perusahaan pelayaran dan penggunanya dalam skema moratorium tarif pelabuhan. \"Tarif pelabuhan selama ini terus naik kecuali tahun 2005, itu pun dengan paksaan,\" tambah dia.

Selain itu, Asmary menambahkan, penerapan konsep Pendulum Nusantara akan optimal bila terdukung sarana infrastruktur, seperti pelabuhan yang memiliki kedalaman 12 meter, investasi kapal baru berkapasitas 3000 teus dan lainnya. \"Kalau mau bisa efektif seharusnya infrastruktur semua pelabuhan sama,\" lanjutnya.

Sekarang ini hanya Pelabuhan Tanjung Priok yang memiliki kedalaman 12 meter. Medan dengan kedalaman 9,5 meter-10 meter, sementara pelabuhan lain hanya sekitar 7 meter sampai 8 meter.

Menanggapi tuduhan tersebut, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan Bambang S Ervan menyatakan bahwa pihaknya akan tetap menjalankan program pendulum nusantara. Ia beranggapan bahwa konsep ini merupakan upaya menekan biaya logitik yang selama ini memberatkan sehingga menyebabkan harga yang mahal.

\"Biasa kok jika sebuah kebijakan ada yang pro dan kontra, itukan dinamikanya. Selain itu, keberatan dari berbagai pihak sebagai masukan buat kita jika nantinya diperlukan perbaikan terhadap kebijakan yang dikeluarkan. Walaupun demikian konsep Pendulum Nusantara, yang saat ini memasuki tahap persiapan tetap kita jalankan,\" ucapnya.

Terkait prasarana pendukung mulai dari pelabuhan, akses menuju pelabuhan dan juga armada yang nanti akan dioperasikan tetap menjadi perhatian dari pihaknya untuk diperbaiki. \"Untuk inilah kami mengharapkan dukungan dari pihak-pihak terkait seperti INSA, Pelindo dan pelaku usaha maritim lainnya agar usaha menakan tingginya biaya logistik ini dapat tercapai,\" katanya.

Related posts