Romo, Kumbakarna dan Semar - Oleh: Yusrin, Pemerhati Sosial dan Budaya

Melodrama dan opera sabun yang ditayangkan dalam layar besar “Indonesia” sepertinya tidak selesai-selesai dan tidak jauh dari persoalan korupsi dan korupsi. Aktor-aktor atau pemeran utama “korupsi” silih berganti. Belum selesai sebuah judul melodrama tamat, telah muncul pula film berikutnya dengan aktor “korupsi” yang lain pula.

Tema-tema “film” dalam layar besar didominasi oleh korupsi, iklan pencitraan tokoh dan partai politik, intrik dan manuver dalam parlemen, konflik horizontal dan intoleransi yang semakin meningkat.

Dalam layar yang lebih kecil, dalam skala provinsi, kabupaten/kota bahkan kecamatan, kita melihat iklan pencitraan dalam bentuk baliho, poster-poster, spanduk-spanduk atau merk-merk toko/warung yang disponsori oleh salah satu kandidat yang bertarung dalam pilkada baik pemilihan gubernur, pemilihan walikota, pemilihan bupati dan tidak lama lagi calon anggota legislatif dan Dewan perwakilan Daerah (DPD) memenuhi hampir seluruh ruang publik.

Tidak ada satu ruang publik pun yang bersih dari poster-poster. Bahkan poster-poster itu saling bersaing dan tumpang tindih diselang-selingi oleh poster tokoh lain. Semua tokoh dalam poster itu menjual “kecap nomor satu”. Dan lebih mirisnya lagi, bahkan poster tokoh calon anggota legislatif periode yang lalu masih belum dibersihkan dan masih tertempel dengan rapi.

Satu-satunya tema yang menghibur, mengurangi tekanan hidup yang semakin keras karena tidak adanya perubahan ekonomi yang signifikan dalam era Reformasi ini adalah sepakbola. Meski, prestasi sepakbola kita tidak dibuat di lapangan rumput hijau, tetapi justru di luar lapangan yaitu perselisihan para pengurusnya. Titik terang telah muncul menyusul rekonsiliasi dari kedua kubu yang berseteru.

Romo

Romo, Father atau Ayah adalah figur yang kita perlukan dalam membenahi Indonesia yang karut marut ini. Dimanakah Ayah kita atau Bapak kita selama ini? Tidakkah ia sibuk, capek, lelah dan “stress” memikirkan nasib anak-anaknya?

Seorang Ayah atau Bapak adalah kepala keluarga. Ia adalah arsitek, kapten, nahkhoda, masinis atau pilot yang memimpin perjalanan “kehidupan” keluarga atau bangsa. Dalam keadaan bagaimanapun, ia harus berani mengambil keputusan. Meski, keputusan yang diambilnya harus “mengorbankan” atau “menciderai” salah satu anak-anaknya. Ia bukan hanya menurut apa yang diinginkan oleh anak-anaknya. Ia bukan hanya perlu menyenangkan anak-anaknya. Membawa anak-anaknya bermain-main, tetapi ketika anak-anaknya tidak mau pulang, ia tidak sanggup membawanya pulang ke rumahnya.

Machiavelli pernah berujar:”Manusia lebih mudah melupakan kematian ayahnya daripada kehilangan bagian warisannya.” Figur ayah yang tidak memiliki kepemimpinan yang baik akan segera dilupakan oleh anak-anaknya dan berganti dengan merebut harta warisan yang ditinggalkannya.

Apa yang dikatakan oleh Machiavelli, jangan-jangan akan terjadi di negeri tercinta kita, kalau kita tidak memiliki figur “Romo” yang memimpin dan mengayomi anak-anaknya. Ia tahu kapan waktunya harus lebih tegas dan kapan waktunya ia harus lebih lunak dalam menghadapi anak-anaknya.

Bukan seperti negara kita, dimana negara kalah dan takut dengan perilaku sekelompok orang yang bertindak anarkis atas nama organisasi dan bendera tertentu dan merusak keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kumbakarna dan Semar

Melihat perilaku politisi yang seperti kutu loncat, kita merasa prihatin. Tidak ada keterikatan secara ideologi, program atau platform dari partai yang membesarkannya dan ia meloncat ke partai lain ketika ia merasa tidak ada kesempatan untuk dicalonkan lagi.

Di tengah miskinnya tokoh idealis, jujur, berani dan berkarakter kita harus belajar dari tokoh kumbakarna. Pada waktu pecah perang besar Alengka, Negara Alengka diserang oleh balatentara Rama untuk membebaskan Dewi Sinta yang disekap Rahwana atau Dasamuka. Kumbakarna maju berperang, ia berperang bukan membela keangkaramurkaan Rahwana atau Dasamuka tetapi membela negara Alengka.

Beberapa kali Kumbakarna menyarankan Dasamuka atau Rahwana untuk menyerahkan Dewi Sinta kepada Rama, namun di tolak oleh Rahwana. Dengan hati hancur, Kumbakarna maju berperang dan ia telah tahu ia akan binasa dalam perang itu, namun ia berangkat juga berperang demi tanah leluhurnya dan martabat negaranya.

Di tengah “rimba belantara” negara tercinta kita, langkanya keteladanan yang dapat dijadikan panutan. Dimana ambisi pribadi mengalahkan akal sehat, dimana peraturan kelompok dipaksakan dalam negara. Setiap kelompok, organisasi atau individu ingin memaksakan kehendaknya tanpa mengindahkan hierarki peraturan yang lebih tinggi.

Sekali lagi, kita harus belajar dari tokoh Semar. Semar adalah penjelmaan Bathara Ismaya yang turun ke madyapada untuk menjadi pamong satria agung. Para satria yang berbudi luhur akan mendapat bimbingan langsung dari Semar. Betapapun hebatnya sang satria, wejangan dari Semar tetap diharapkan.

Semar adalah figur yang waskitha ngerti sadurunge winarah. Semar tahu betul peta sosio kultural di Triloka atau tiga dunia yaitu dewata, raksasa dan manusia. Jagad gumelar (makrokosmos) dan jagad gumulung (mikrokosmos) mendapat pengawalan dari Semar, Sang panakawan minulya.

Menurut Magis Suseno (1996) Semar dengan Panakawan lainnya melambangkan rakyat Jawa. Dalam diri Semar muncul suatu paham yang kuat dan mendalam di antara masyarakat Jawa yaitu berbeda dengan kesan lahiriahnya, rakyatlah, bukan lingkungan kraton, yang merupakan sumber kekuatan, kesuburan dan kebijaksanaan masyarakat Jawa yang sebenarnya. (Purwadi, 2004).

Dengan bahasa lugas, Semar adalah jelmaan dewa yang menjadi rakyat jelata. Ia memberikan nasehat-nasehat kepada para Satria. Yang tidak melaksanakan nasehatnya pasti tidak akan selamat.

Melihat situasi negeri kita, kita memerlukan Semar yang akan memberikan wejangan kepada pemimpin-pemimpin kita agar melakukan sebuah pertobatan nasional yang betul-betul tobat nasional. Akhirkata, selamat hari Ayah International, 16 Juni, meski di Indonesia ada hari Ibu tetapi tidak ada perayaan hari Ayah. (analisadaily.com)

Related posts