Eterindo Bagun Pabrik Sawit Rp 150 Miliar

NERACA

Jakarta - Guna meningkatkan produksi, perusahaan sawit PT Eterindo Wahanatama Tbk (ETWA) menyiapkan dana sebesar Rp150 miliar untuk membangun pabrik pengolahan sawit di Kalimantan. Adapun dana tersebut berasal dari pinjaman perbankan dan kas internal perseroan, “Untuk bangun pabrik sendiri, diperkirakan akan menelan dana investasi sebesar Rp135 miliar. Sedangkan sisanya untuk biaya infrastrukturnya, dan pembelian tanah,\" kata Direktur Utama ETWA, Immanuel Sutarto di Jakarta, Kamis (20/6).

Lebih lanjut dia mengungkapkan, pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 45 ton per jam dan masih dapat berkembang hingga 60 ton per jam. Menurutnya, pembangunan akan dimulai pada pertengahan tahun ini.

Nantinya, pabrik tersebut diperkirakan akan selesai akhir 2015 dan pembangunannya sendiri akan membutuhkan waktu selama satu setengah tahun. Kata Immanuel, pabrik tersebut kan dibangun di lahan seluas 40 hektare (ha) di Kalimantan. Pendirian pabrik tersebut akan berada di dekat perkebunan kelapa sawit milik perseroan di Kalimantan.

Selain itu, hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUSPT) memutuskan untuk tidak membagikan dividen untuk tahun buku 2012. Karena itu, perolehan laba bersih 2012 sebagai laba ditahan, “Alokasi laba bersih kami 2012 akan digunakan sebagai laba ditahan, hal tersebut guna memperkuat ekuitas dan mendukung ekspansi bisnis perseroan,\"kata Immanuel.

Sepanjang 2012, perseroan mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 47% menjadi Rp38,5 miliar dari Rp72,6 miliar. Penurunan tersebut disebabkan karena di 2011, perseroan memperoleh keuntungan dari kenaikan nilai wajar properti investasi. \"Kami memperoleh keuntungan sebesar Rp40,3 miliar yang merupakan one-off non cash gain-non operasional,\" jelasnya.

Sementara itu, peningkatan pendapatan 10,8% menjadi Rp1,002 triliun, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya Rp904,2 miliar. Kenaikan pendapatan ini didukung oleh meningkatnya volume penjualan biodisel sebesar 61,6% sebagai hasil percepatan pelaksanaan peraturan mandatori dan roadmap kandungan biodiesl pada sektor transportasi bersubsidi dari 5,0% menjadi 7,5% yang dilaksanakan sejak Februari 2012.

Belum lama ini, perseroan telah mendapatkan tambahan pinjaman menjadi US$10 juta dari sebelumnya US$3 juta dengan jangka waktu pinjaman 1 tahun. Nantinya, tambahan pinjaman sebesar US$7 juta itu untuk refinancing pinjaman perseroan di PT Bank Chinatrust Indonesia sebesar Rp40 miliar. Selain untuk refinancing, pinjaman juga untuk digunakan tambahan modal kerja perseroan.

Pinjaman tersebut telah ditandatangani pada 23 April 2013 dan dapat diperpanjang secara otomatis dan terus menerus untuk periode satu tahun berikutnya sehak setiap tanggal berakhirnya perjanjian induk fasilitas kredit tersebut. Kecuali bank memberikan pemberitahuan kepada debitur 30 hari sebelumnya perjanjian kredit tersebut akan diakhiri. (bani)

Related posts