Kerangka Acuan AEC Siap, Namun Pelaksanaan Kurang - Laporan CARI

NERACA

Kuala Lumpur - Berdasarkan laporan yang dikeluarkan CIMB ASEAN Research Institute (CARI) menyimpulkan bahwa persoalan pokok yang menghambat pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC) adalah ambisi politik yang tidak sesuai, kurangnya kemampuan serta minimnya keinginan berpolitik dari beberapa negara anggota. Hal ini berdasarkan atas kajian pihak independen yang menyangkut masalah integrasi AEC, termasuk perdagangan bebas, koordinasi kepabeanan, kebijakan dan undang-undang tentang persaingan, ketentuan investasi, pergerakan arus jasa, dukungan untuk UKM serta standar maupun hambatan non-tarif dalam kegiatan perdagangan, dilihat dari data dan temuan yang ada.

Laporan yang berjudul “Masyarakat Ekonomi ASEAN: Status Pelaksanaan, Tantangan dan Hambatan”, disampaikan oleh Dr Jörn Dosch, staf senior CARI dan juga Guru Besar Hubungan Internasional di Monash University. Dalam laporan disebutkan bahwa kerangka acuan politik, hukum, institusi dan teknis AEC yang dibutuhkan untuk mengatur integrasi regional sudah tersedia namun pelaksanaannya mundur jauh dari jadwal dan tujuan yang telah ditetapkan. Dalam hal perdagangan bebas, perdagangan di antara sesama negara ASEAN (dilihat dari persentase keseluruhan perdagangan AMS/ASEAN Member States) hanya naik 4,4% sejak 1998, atau tidak beranjak dari angka 25% selama kurun 2003-2011. Kesepakatan perdagangan bebas masih belum banyak dimanfaatkan.

Namun periode 2009-2012 tercatat ada kemajuan dalam hal integrasi kepabeanan di ASEAN. Sementara itu, untuk bidang kebijakan dan undang-undang persaingan, yang dianggap “tidak memiliki tujuan penting”, sulit diharapkan penyusunan kerangka aturan regional. Sebagaimana dikemukakan dalam laporan, negara-negara anggota ASEAN diharapkan terlibat lebih aktif dalam proses integrasi, dan ekspektasi atas AEC 2015 masih membutuhkan sejumlah penyesuaian.

\"Integrasi perekonomian tidak dapat berjalan jika tidak ada kesepakatan yang sifatnya mengikat. Jika negara anggota diperbolehkan kapan saja menyudahi kesepakatan atau diperkenankan untuk tidak mau menjalankan langkah yang telah disepakati, integrasi sulit sekali terwujud,\" jelas Dr Dosch, yang menganggap “gaya” ASEAN menjadi dilema bagi ASEAN. Dia juga menyebutkan negara anggota berusaha mencapai visi pembentukan masyarakat ekonomi, visi yang dampaknya luas dan tidak jauh berbeda dengan integrasi negara-negara Eropa, tapi mereka tidak bersedia mengubah Gaya ASEAN dalam menjalin kerja sama yang sejak lama dianut.

Komitmen AEC

Laporan tersebut menilai kendala terbesar dalam implementasi AEC adalah kurang kuatnya kemauan politik negara-negara anggota ASEAN. \"Pengambilan keputusan dan hambatan dalam implementasi muncul di tingkat pusat negara anggota ASEAN. Jadi, yang menghambat proses pembentukan masyarakat ekonomi adalah negara anggota,\" urainya.

Sementara Dato\' Sri Nazir Razak, Group Chief Executive CIMB Group, menambahkan dunia usaha di kawasan ASEAN berharap AEC dapat segera terwujud. Laporan ini bukan bentuk kritik terhadap pemerintah yang telah berusaha keras. Adapun tujuan penyusunan laporan adalah untuk mengkaji apa kendalanya, dan untuk mencari tahu di mana kesenjangan dapat dikejar. \"Tapi bukan saatnya lagi kita hanya beretorika. Gaya ASEAN tidak boleh hilang dari budaya kita, tapi komitmen untuk melakukan integrasi harus didasarkan pada kesepakatan yang mengikat,\" lanjut Nazir Razak. [rin]

Related posts