Nilai Tukar Rupiah Tak Jauh Berbeda - Prediksi BI Tahun Depan

NERACA

Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Agus Dermawan Wintarto Martowardojo, mengatakan bank sentral memproyeksikan nilai tukar rupiah pada 2014 mendatang akan tak jauh berbeda dengan tahun ini, yaitu di kisaran Rp9.500-Rp9.700 per dolar AS. Pasalnya, nilai tukar rupiah tahun depan akan dipengaruhi, antara lain, Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) yang diprediksi lebih baik dibandingkan di 2013.

Sementara tahun ini, nilai tukar rupiah juga ditopang oleh proyeksi NPI yang bakal membaik di semester II 2013, di mana akan terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang segera diumumkan pemerintah. Lebih lanjut Agus Marto mengatakan, dia juga memperkirakan transaksi modal dan keuangan akan tetap mencatat surplus, seiring prospek perekonomian domestik yang juga kuat. “Tak hanya itu saja. Berbagai pendalaman pasar valas akan terus dilaksanakan dan akan berkontribusi positif pada pergerakan nilai tukar di tahun 2014,” ungkap dia di Jakarta, Kamis (20/6).

Di sisi lain, pihaknya memprediksi tingkat inflasi 2014 akan berada pada 4,5% plus minus satu persen. Perkiraan itu ditopang prospek peningkatan sisi penawaran yang cukup tinggi. Hal tersebut pada gilirannya akan memenuhi permintaan domestik dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Sedangkan inflasi 2013 sendiri, BI memproyeksikan akan meningkat di angka 7,69% atau di atas asumsi APBN-P 2013 sebesar 7,2%. Hal itu disebabkan pengaruh penyesuaian harga BBM bersubsidi. \"Namun kami melihat inflasi tahun 2013 ini masih berpeluang 7,2% atau lebih tinggi lagi,\" terang Agus Marto.

Bank sentral melakukan penjagaan ekstra dengan menahan tekanan nilai tukar rupiah lebih dalam sehingga hanya melemah 25 poin terhadap dolar AS pada Kamis (20/6) kemarin. Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak melemah menjadi Rp9.945 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp9.920 per dolar AS. Adapun kurs tengah BI tercatat mata uang rupiah bergerak melemah menjadi Rp9.927 per dolar AS dibanding sehari sebelumnya (Rabu, 19/6) di posisi Rp9.910 per dolar AS. Dosen FEUI, Lana Soelistianingsih mengatakan, mata uang rupiah kembali bergerak melemah namun masih dijaga ekstra keras oleh BI.

\"Pasar obligasi domestik juga tampaknya akan mengalami tekanan kenaikan imbal hasil (yield) walaupun BI terus standby membeli,\" kata dia. Lana menambahkan, pasar keuangan Indonesia juga tidak diuntungkan dari belum jelasnya kebijakan harga bahan bakar minyak (BBM) setelah APBN-P 2013 disetujui dalam rapat Paripurna pada 17 Juni lalu. Sementara Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra menambahkan, dolar AS melonjak terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah paska pertemuan Bank Sentral AS (The Fed) yang menyatakan bahwa risiko perlambatan ekonomi dan pasar tenaga kerja AS telah berkurang.

Penguatan dolar AS, lanjut dia, juga ditopang komentar Gubernur The Fed, Ben Bernanke, bahwa jika bank sentral mungkin akan mulai mengurangi pembelian obligasi pada akhir tahun ini dan mengakhirinya pada pertengahan tahun 2014 seandainya ekonomi Paman Sam terus membaik sesuai proyeksi. \"The Fed cukup optimis terhadap pertumbuhan ekonomi AS, peningkatan pasar tenaga kerja, sektor perumahan, dan inflasi yang menuju dua persen akan menjadi acuan untuk mengurangi program stimulus moneter,\" tukas Ariston. [ardi]

Related posts