Akhir Pekan, IHSG Berpeluang Menguat

NERACA

Jakarta – Diluar prediksi, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia Kamis sore ditutup melemah anjlok 176,662 poin (3,68%) ke level 4.629,994. Sementara Indeks LQ45 jatuh 35,288 poin (4,43%) ke level 760,604. Tingginya tekanan jual sejak pembukaan perdagangan membawa indeks BEI terkoreksi. Investor asing melakukan transaksi jual bersih dengan nilai lebih dari satu triliun.

Analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono mengatakan, pasar saham bereaksi negatif dari pernyataan The Fed, “Aksi The Fed itu mendorong investor saham mengambil posisi lepas saham yang cukup besar,”ujarnya di Jakarta, Kamis (20/6).

Dia mengungkapkan, The Fed kemungkinan akan memperlambat pembelian surat utang menjadi US$ 65 miliar per bulan dari sebelumnya US$ 85 miliar. Meski demikian, dirinya memproyeksikan pelemahan IHSG BEI akan terbatas pada akhir pekan besok dan karena itu, indeks BEI akhir pekan diyakini kembali menguat dan bergerak di kisaran 4.570-4.650 poin.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada menambahkan, likuiditas pasar saham global, termasuk IHSG BEI menjadi lemah karena rencana The Fed yang akan mengurangi program pembelian obligasi AS.

Dia menambahkan dari dalam negeri sentimennya juga kurang baik sehingga mayoritas pelaku pasar saham melakukan aksi ambil untung, “Penaikan harga BBM subsidi telah dipastikan, namun pelaku pasar masih menunggu kejelasan selanjutnya terutama waktu pelaksanaannya,”ujarnya.

Pada perdagangan kemarin, saham-saham unggulan dengan kapitalisasi pasar yang gemuk jadi sasaran aksi jual dan imbasnya, IHSG kehilangan poin sangat tinggi. Meski demikian, masih ada satu sektor industri yang bisa menguat, yaitu sektor agrikultur.

Investor asing mendominasi perdagangan kemarin. Transaksi pemodal asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 1,25 triliun di pasar reguler dan negosiasi. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 182.201 kali pada volume 4,6 miliar lembar saham senilai Rp 6,787 triliun. Sebanyak 47 saham naik, sisanya 246 saham turun, dan 50 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan dengan kompak melemah di zona merah. Koreksi yang terjadi cukup dalam, rata-rata lebih dari dua persen. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Bukit Asam (PTBA) naik Rp 600 ke Rp 12.700, Surya Toto (TOTO) naik Rp 300 ke Rp 7.800, Roda Vivatex (RDTX) naik Rp 200 ke Rp 5.150, dan United Tractor (UNTR) naik Rp 150 ke Rp 17.950.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 2.000 ke Rp 80.500, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 2.000 ke Rp 48.550, Mayora (MYOR) turun Rp 1.500 ke Rp 30.200, dan Unilever (UNVR) turun Rp 1.450 ke Rp 27.550.

Penutupan perdagangan sesi pertama, IHSG jatuh 141,412 poin (2,94%) ke level 4.665,244. Sementara Indeks LQ45 terjun bebas 27,499 poin (3,46%) ke level 768,393. Investor asing berlomba-lomba jual saham merespons sentimen negatif yang beredar. Investor domestik juga ketularan dan ikut-ikutan melepas saham.

Sedangkan sembilan sektor lainnya terjebak di zona merah dengan koreksi rata-rata lebih dari dua persen. Indeks sektor finansial terjatuh paling dalam dengan koreksi 4,13%.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 90.786 kali pada volume 2,116 miliar lembar saham senilai Rp 3,136 triliun. Sebanyak 30 saham naik, sisanya 240 saham turun, dan 46 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Siantar Top (STTP) naik Rp 90 ke Rp 1.600, J Resources (PSAB) naik Rp 75 ke Rp 3.475, Matahari (MPPA) naik Rp 75 ke Rp 3.050, dan London Sumatera (LSIP) naik Rp 60 ke Rp 1.770.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.550 ke Rp 49.000, Mayora (MYOR) turun Rp 1.450 ke Rp 30.250, Semen Indonesia (SMGR) turun Rp 850 ke Rp 16.950, dan Indocement (INTP) turun Rp 600 ke Rp 22.700.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 96,24 poin atau dua persen ke posisi 4.710,42, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 2,99% ke level 779,83, “Indeks BEI bergerak melemah seiring dengan Bursa Asia yang terkoreksi diawal memfaktorkan sentimen negatif dari pernyataan The Fed yang mensinyalkan pengurangan stimulus dan koreksi di pasar saham dan obligasi AS,\" kata analis Samuel Sekuritas, Yualdo Yudoprawiro.

Dia menambahkan, Bursa AS juga mengalami pelemahan tadi malam sekitar 1,3% setelah pernyataan The Fed yang mensinyalkan pelonggaran kuantitatif (QE) akan dikurangi mulai akhir 2013 dan dihentikan seluruhnya di akhir 2014.

Secara terpisah, Direktur Utama BEI, Ito Warsito menambahkan tingkat volatilitas yang tinggi di pasar saham cenderung dipengaruhi oleh sentimen eksternal menyusul kebijakan bank sentral AS yakni The Fed mengrangi program pelonggaran kuantitatif.

Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng melemah 433,65 poin (2,07%) ke level 20.553,24, indeks Nikkei-225 turun 173,98 poin (1,31%) ke level 13.071,24, dan Straits Times melemah 47,97 poin (1,49%) ke posisi 3.165,82.

Related posts