Pertumbuhan Properti di Indonesia Terus Naik - Didukung Ekonomi Yang Stabil

Bisnis properti di Indonesia tak ubahnya dengan berjualan kacang goreng, dengan permintaan sangat tinggi bidang properti membuat para investor terus berdatangan ke Indonesia, apalagi dengan didukung pertumbuhan ekonomi yang sangat stabil, membuat Indonesia menjadi incaran para investor properti.

NERACA

Indonesia saat ini tengah menikmati pesatnya pertumbuhan ekonomi disaat pada umumnya negara-negara di dunia sedang dilanda krisis keuangan, terutama negara-negara Eropa dan Amerika. Dengan pertumbuhan ekonomi diatas 6%, saat ini Indonesia merupakan termasuk negara triliuner dari segi PDB dan tergabung dalam kelompok 20 negara terkaya didunia dari sektor PDB.

Dengan total PDB sebesar 1 triliun USD dan pendapatan perkapita sebesar 3000 USD lebih, menjadikan Indonesia masuk dalam negara berpendapatan kelas menengah di dunia. Aliran investasi asing atauforeign direct investmentke Indonesia semakin meningkat dan merupakan yang terbesar di Asia Tenggara.

Meningkatnya aliran investasi tersebut, pemerintah Indonesia juga telah mencanangkan sebuah program terutama di sektor infrastuktur yaitu MP3EI. Megaproyek MP3EI diharapkan dapat memberikan efek nyata bagi perekonomian nasional disaatboominginvestasi yang terjadi di Indonesia saat ini.

“Salah satuboominginvestasi yang berkembang pesat di Indonesia saat ini adalah investasi di sektor properti. Indonesia masih menjadi negara tujuan untuk investasi di bidang properti,” Menurut Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Real Estat Indonesia (REI) Setyo Maharso.

Hal itu terlihat dari banyaknya investor dari negara lain yang berminat menanamkan modalnya dalam bidang properti di negara ini. Geliat pertumbuhan investasi di sektor properti tidak hanya terjadi di Jabodetabek saja. Banyak daerah-daerah diluar pulau Jawa yang sektor propertinya mulai berkembang, seperti Riau, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara. Pada pameran REI sebelumnya di Pekanbaru menghasilkan Rp 60 Milliar, Palembang Rp 90 Milliar, dan di Manado Rp 195 Milliar.

Permintaan Tertinggi

Tak heran, banyak kalangan pengamat properti meramalkan bahwa Kurang dari sepuluh tahun ke depan, sektor properti di Indonesia bakal turut berperan sebagai salah satu sumber kekuatan ekonomi dunia. Indonesia pada tahun 2021 digadang-gadang menjadi negara dengan nilai kontribusi industri properti terbesar ke tujuh di dunia, mengalahkan Korea Selatan, Kanada, dan Jepang.

Indonesia pun tercatat sebagai salah satu negara yang mengalami akselerasi industri properti yang tinggi, selain Tiongkok, India, Rusia, dan Brasil. Di tahun 2012 Indonesia akan menempati urutan urutan ketujuh setelah China, Amerika Serikat, India, Russia, Brazil dan Inggris.

Namun sebaliknya, beberapa negara yang saat ini tergolong negara maju, justru mengalami kemunduran kontribusi industri properti. Melihat potensi tersebut, Bank Indonesia masih optimis menilai peluang invesatasi properti di Indonesia untuk tumbuh lebih besar lagi. Selain itu, menurut Bank Indonesia potensi risikobuble propertydi Indonesia masih sangat jauh.

“Pengembangan pusat belanja, trade centre, dan ruko akan menurun. Sebaliknya, subsektor perumahan meningkat. Begitu pula subsektor apartemen, terutama untuk segmen menengah, dan ruang perkantoran. Yang paling tinggi peningkatan subsektor perumahan, dipicu penurunan bunga KPR,” tuturnya.

Berbeda dengan sebelumnya, sekarang konsumen apartemen makin banyak menggunakan kredit pemilikan apartemen (KPA), seperti konsumen rumah biasa memakai KPR.

Kebutuhan apartemen masih lebih tinggi dibanding pasokan. Masalahnya, terletak pada limitasi lokasi. Kadang di sebuah lokasi, unit yang dibangun terlalu banyak dalam waktu bersamaan. Akibatnya terkesan pasok apartemen menengah oversuplai.

“Coba, kalau dibangun lebih menyebar, di lokasi-lokasi yang belum banyak apartemen tapi stok lahannya sudah tidak mungkin dibangun landed residential, pasti laku,” lanjutnya.

Sementara peningkatan pasar gedung perkantoran lebih karena selama lima tahun terakhir tidak ada pasok baru. “Padahal, kebutuhan ruang kantor baru muncul, antara lain dari perusahaan-perusahaan tambang, perkebunan, dan bisnis terkait,” tuturnya.

Related posts