Pasar Fluktuatif, 25 Emiten Baru Ramaikan Pasar Saham

NERACA

Jakarta- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) optimistis dapat menjaring 25 perusahaan yang melepas sahamnya ke publik melalui mekanisme pencatatan saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) hingga awal semester kedua 2013. “Terakhir yang sudah IPO sebanyak 13 emiten, sehingga kalau mulus dan tidak ada hambatan bisa lebih dari 25 yang pakai buku Desember. Maksimal sampai Juli sebanyak 25 emiten.” jelas Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen di Jakarta (19/6).

Menurutnya, ada sebanyak empat emiten yang siap mencatatkan sahamnya dan enam perusahaan lainnya yang masih dalam kajian BEI untuk IPO. Selain itu, BEI juga telah menerima pengajuan calon emiten yang melantai dengan menggunakan buku laporan keuangan kuartal pertama 2013, antara lain Rumah Sakit Siloam dan anak usia Firtst Media, Linknet.

Disebutkan Hoesen, secara rata-rata calon emiten akan melepas sahamnya di atas 10%. Meskipun melepas saham ke publik dalam jumlah kecil, BEI mengapresiasi keinginan emiten-emiten tersebut untuk melantai. “Persiapan mereka panjang, maka harus kita apresiasi,” ucapnya.

Untuk meningkatkan likuiditas saham, kata dia, hingga kini pihak otoritas masih mengupayakan adanya peraturan terkait jumlah saham yang beredar, di mana nantinya setiap emiten wajib melepas sahamnya ke publik minimal 15%. Selama ini, batas minimal pelepasan saham ke publik hanya 10%.

Aturan Free Float

Berdasarkan aturan I-A BEI tentang pencatatan saham dan efek bersifat ekuitas selain saham, jumlah minimal lembar saham yang dilepas ke publik adalah 50 juta lembar saham atau 35% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan, tergantung mana yang lebih kecil. Dengan aturan tersebut, calon emiten berpotensi hanya melepas 50 juta saham saja.

Pihaknya juga tengah mengupayakan agar revisi aturan ini dapat berlaku surut. Artinya, aturan ini dapat diterapkan tidak hanya oleh emiten yang baru melakukan IPO, tetapi juga harus dijalankan oleh emiten yang telah mencatatkan sahamnya di BEI. Selain menjaga likuiditas pasar, peraturan tersebut juga diharapkan dapat memperbesar volume perdagangan di BEI. “Terkait dengan kepemilikan dalam peraturan I dan I-A bisa selesai akhir tahun ini. Usulan kita IPO-nya lebih banyak lagi, 20% dan setelah IPO bisa dijaga 15%. Karena semakin banyak emiten dengan kualitas baik bisa dinilai baik oleh investor.” jelasnya.

Pembatasan pelepasan saham publik pada saat penawaran saham perdana (initial public offering-IPO) sebelumnya telah menuai banyak komentar. Salah satunya, pengamat pasar modal dari FE Univ. Pancasila Dr. Agus S Irfani. Dia mengatakan, aturan tersebut tidak bisa menjadi jaminan pencatatan saham perusahaan melalui mekanisme IPO dapat terserap pasar dan menjadikan saham tersebut likuid.“Ada beberapa faktor bahwa proses IPO itu berhasil dan diserap pasar diantaranya, berdasarkan informasi kerja yang fundamental, prospek bisnis dari emiten yang jelas dan kelayakan terhadap nilai pasar.” jelasnya.

Menurutnya, meningkatkan kapitalisasi dan likuiditas pasar modal, bukan sekedar membatasi nilai IPO, tetapi mengetatkan persyaratan untuk go public dengan jelas dan transparan. Kendati demikian, regulasi pembatasan saham IPO ini diapresiasi oleh Direktur eksekutif AEI Ishakayoga. Menurutnya, dengan pembatasan besaran IPO adalah untuk meningkatkan likuiditas saham, “Semakin banyak saham yang lepas, maka akan mempengaruhi likudititas efek,” tuturnya.

Dia menyebutkan, saham LQ45 adalah saham-saham dengan likuid yang mempengaruhi kapitalisasi pasar modal. Dimana emiten yang masuk telah melakukan pelepasan saham public diatas 25% dan sebaliknya saham-saham tidur kebanyakan adalah saham-saham dengan besaran IPOnya dibawah 25%. (lia)

Related posts