Bank Masih Untung Walau Suku Bunga Tak Naik - Spread Masih Tinggi

NERACA

Jakarta - Institute for Development of Economic and Finance (Indef) menilai kalau perbankan tetap bisa meraih keuntungan meskipun tidak menaikkan suku bunga kredit pasca kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi enam persen, kemudian rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dengan asumsi inflasi 7,2% dalam APBN-P 2013. Peneliti Indef, Eko Listiyanto mengatakan, dampak dari ini semua, memungkinkan perbankan untuk secepatnya menaikkan suku bunga dana mereka, khususnya deposito.

Dia melanjutkan bahwa hal itu akan diikuti pula dengan kenaikan suku bunga kredit, untuk menutupi biaya terhadap kenaikan bunga deposito. \"Bank masih bisa untung walaupun hanya menaikkan bunga dananya tanpa menaikkan bunga kredit. Tapi memang untungnya tipis,” ungkap Eko di Jakarta, Rabu (19/6). Adapun inflasi yang diasumsikan 7,2% tahun ini, Eko mengungkapkan, bank otomatis menaikkan suku bunga depositonya hingga level setara atau mendekati persentase inflasi.

Tujuannya agar nasabah tetap untung dan tidak beralih ke bank lain. “Ini kan bicara soal pasar. Dan biaya yang dikeluarkan bank untuk membayar bunga deposito itu akan ditutupi dengan suku bunga kredit yang juga dinaikkan,\" terangnya. Meski begitu, secara rata-rata suku bunga kredit perbankan saat ini masih double digit atau di level 12%-13%. Sedangkan rata-rata suku bunga deposito perbankan berada di level 5%-6%.

Artinya, kata Eko, spread atau jarak antara bunga kredit dan bunga deposito perbankan masih relatif tinggi, yakni dikisaran enam persen. Menurut dia, dengan spread yang demikian tinggi, bank masih bisa memperoleh keuntungan meskipun hanya menaikkan bunga dana, tanpa menaikkan bunga kredit. \"Bank bisa menekan efisiensi di sektor lain. Tapi memang sepertinya kenaikan bunga kredit sulit dielakkan perbankan, karena bank memiliki target laba yang perlu dicapai,\" kata dia. Lebih jauh Eko mengatakan, dampak kenaikan suku bunga kredit akan memukul pertumbuhan sektor riil, termasuk laju pertumbuhan kredit perbankan itu sendiri.

Peran otoritas

Oleh karena itu, dirinya mengimbau Bank Indonesia (BI) agar menekan perbankan untuk tidak menaikkan suku bunga kredit terlampau tinggi. Di sisi lain, pemerintah selaku otoritas fiskal seharusnya bisa memberikan insentif yang dapat memudahkan dunia usaha untuk terus tumbuh, misalnya mempercepat perizinan, memberantas pungutan liar dan lain sebagainya.

Sementara itu secara terpisah, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah, mengatakan bahwa pihaknya belum mengetahui seberapa jauh kenaikan BI Rate akan atau telah direspon perbankan dengan menaikkan bunga dana dan kreditnya. \"Kami akan tunggu laporan dari bank. Namun sepertinya industri perbankan masih hitung-hitung akan menaikkan bunga kredit di sektor yang mana. Meskipun sebenarnya sebelum BI Rate naik, beberapa bank ada juga yang sudah menaikkan suku bunganya,\" jelas Difi.

Sebelumnya, sudah dua bank mengaku akan menaikkan suku bunga kreditnya sebagai dampak dari kenaikan BI Rate, yakni PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Mutiara Tbk. Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, bunga kredit tidak serta merta langsung naik begitu BI Rate dinaikkan. Namun, lanjut dia, bila ke depan permintaan kredit makin besar, otomatis bunga kredit akan naik mengikuti kenaikan BI Rate.

\"Saya perkirakan mungkin tidak besar, ya, bisa setengah persen atau satu persen,\" tegas Jahja, belum lama ini. Dia mengungkapkan, kenaikan bunga kredit akan terjadi hingga laju inflasi di dalam negeri normal. \"Kalau inflasi itu balik ke empat persen, saya perkirakan (suku) bunga bisa turun lagi. Tapi perlu waktu setahun,\" katanya, berkilah. Sementara Sekretaris Perusahaan Bank Mutiara, Rohan Hafas, mengaku kalau perseroan mengikuti tren dalam menyesuaikan BI Rate. Meski begitu, dirinya menyatakan kenaikan BI Rate ini akan memicu suku bunga kredit dan deposito secara keseluruhan. “Tapi sekali lagi, kita masih mengkaji lebih jauh rata-rata kenaikan (suku) bunga kreditnya. Yang pasti akan naik,” cetus dia.

Namun sikap malu-malu diungkapkan PT Bank Mandiri Tbk, di mana mereka masih menunggu keputusan pemerintah terkait kenaikan harga BBM bersubsidi. \"Kita masih tunggu naiknya berapa. Menurut rencana kan premium menjadi Rp6.500 per liter dan solar Rp5.500 per liter. Tapi realisasinya belum,\" kata Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin. Apabila sudah ada kepastian realisasi kenaikan harga BBM bersubsidi, sambung Budi, maka perbankan juga akan ikut memastikan suku bunga kredit. Ini diawali dengan bunga dana dan berlanjut ke bunga kredit. \"Nanti kalau harga BBM jadi naik, baru bunga dana (deposito dan tabungan) ikut naik. Bunga dana terjadi (naik), baru deh naik bunga kredit. Tahapannya begitu,” jelasnya. [ardi]

Related posts