Ego-Kreativitas dan Realitas Pasar

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Kebijakan Industri dan Perdagangan

Dalam dunia bisnis dan dunia kewirausahaan sikap ego yang dibanding dengan kreativitas adalah modal dasar untuk mencapai kemajuan. Mereka bisa disebut para pejuang yang gigih untuk membuat sukses bisnisnya. Kita membutuhkan jiwa dan semangat kewirausahaan yang seperti itu. Siang malam selalu berfikir dan bekerja keras agar bisa mencapai apa yang diimpi-impikan,yaitu sukses dan sukses menjadi wirausahawan yang berhasil di bidang yang digelutinya. Tapi sosok wirausahawan yang seperti perlu dicuci lagi otaknya dan disadarakan bahwa di atas langit masih ada langit. Artinya menekuni dunia bisnis tidak hanya dengan mengandalkan ego dan kreativitas.

Ada satu faktor lagi yang penting, yakni harus mau dan mampu melihat realitas pasar. Dalam sistem ekonomi yang terbuka, pasar itu sangat luas dan besar. Para pemasok apakah dia seorang produsen atau pedagang harus bisa dengan cermat dan jeli melihat potensi dan peluang pasar atas segala macam jenis produk/jasa yang di tawarkan dan persaingannya pasti sengit karena semua pelaku ingin mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya atas produk/jasa yg ditawarkan.

Semua memilki kesempatan yang sama untuk bisa menangkap peluang yang ada tanpa kecuali. Dalam sistem yang terbuka, pasar ibaratnya adalah sebuah penghela proses bisnis. Kita harus menyadari bahwa sekarang ini faktor permintaan telah menjadi pemacu utama berputarnya roda perekonomian dan pasar adalah institusi yang menggerakkanya.

Realitas pasar tidak bisa didikte oleh ego dan kreativitas. Realitas pasar juga punya jati diri sendiri tapi perannya menentukan karena dia bisa menjadi penuntun gerak dan derap langkah para pemasok. Dia kadang-kadang unik,sederhana dan kadang-kadang sophisticated. Adanya kalanya harga tidak bisa menjadi ukuran.

Pendek kata kompleksitas karakter pasar itu sangat beragam. Konsep dasar tentang produk,harga, tempat dan promosi sudah tidak optimal lagi untuk menjamin bahwa kalau empat faktor tadi dipenuhi pasar pasti dapat dikuasai. Perilaku konsumen juga sangat beragam dari yang paling rasional sampai tidak rasional dalam membeli sebuah produk/jasa yang ditawarkan di pasar.

Oleh sebab itu, dalam kondisi dimana pasar telah menjadi faktor penting dalam pergerakan dinamika ekonomi, maka ego dan kreativitas harus bersahabat dengan realitas pasar, kalau eksistensi produk/jasa yg dihasilkan bisa mendapatkan tempat di pasar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Akhirnya, ego, kreativitas dan realitas pasar harus bisa dikompromikan, dipadukan dan disinergikan untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

Bagaimanapun pasar adalah faktor dari sekian banyak faktor yang harus selalu diperhitungkan karena perananya bisa menjadi pemandu untuk mengkapitalisasi ego dan kreativitas pada saat yang bersamaan. Menjadi number one penting, tapi melihat realitas pasar adalah hal yang tak kalah penting. Lebih-lebih pada 2015 Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan mulai berlaku dan kepada para wirausahawan berbasis UMKM harus bersiap diri.

BERITA TERKAIT

Kawasan Produksi dan Pasar

Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Industri dan Perdagangan Apakah ini yang akan kita bentuk sebagai episentrum kedigdayaan ekonomi Indonesia di masa…

Xiomi Redmi S2 Resmi Diperkenalkan Di Pasar Indonesia - Bidik Kalangan Menengah

Smartphone Xiaomi Redmi S2 akhirnya secara resmi telah diperkenalkan dan membidik segmen menengah dan entry-level. Dukungan fitur kamera AI atau…

Tips Bisnis Fashion Di Bulan Puasa dan Lebaran

Bulan Ramadan menjadi salah satu bidikan untuk mendulang untung bagi pengusaha fashion . Pada bulan puasa tersebut, hampir semua umat…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

BI Kembali ke Khittah-nya

  Oleh: Firdaus Baderi Wartawan Harian Ekonomi NERACA   Menurut rencana pekan ini, jabatan Gubernur Bank Indonesia akan diserahterimakan dari…

Kawasan Produksi dan Pasar

Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Industri dan Perdagangan Apakah ini yang akan kita bentuk sebagai episentrum kedigdayaan ekonomi Indonesia di masa…

Kurangi Ketergantungan pada US$

  Oleh: Nailul Huda Peneliti INDEF Kurs rupiah mencapai titik terendahnya setelah 2015. Pada awal bulan ini rupiah mencapai Rp14.100…