BBM Segera Naik, Kadin: Daya Beli Masyarakat Tak Terganggu

NERACA

Jakarta - Kendati Bahan Bakar Minyak (BBM) akan mengalami kenaikan, akan tetapi kalangan dunia usaha meyakini kenaikan harga BBM yang tinggal menunggu keputusan dari pemerintah tidak akan mengganggu daya beli masyarakat Indonesia.

Hal tersebut seperti dikatakan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto dalam Focus Group Discusion tentang arah kebijakan industri nasional di Jakarta, Rabu (19/6).

Menurut Suryo, para pengusaha akan menaikkan harga produknya sekitar 10% lantaran kenaikan BBM yang secara langsung mempengaruhi produksi. Namun, kenaikan tersebut tergantung pada sektor dari dunia usaha. \"Ini tidak akan mengganggu daya beli masyarakat karena naiknya nggak tinggi kaau dihitung penjumlahan 15% pengeluaran BBM ditambah 10% dari 15% maka penaikan hanya 4,5% dari harga jual yang sudah ada,\" katanya.

Bambang juga menghimbau kepada pengusaha agar tidak menaikan harga yang cukup tinggi. \"Ya kita minta harga jual produk jangan tinggilah,\" ucapnya.

Pandangan berbeda diungkapkan Kepala Ekonom Danareksa Sekuritas Purbaya Yudhisadewa. Ia mengatakan pemerintah harus mewaspadai daya beli masyarakat yang turun akibat rencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebentar lagi. Sebab, rencana menaikkan harga BBM bersubsidi ini akan menimbulkan kenaikan inflasi hingga 7,5% secara tahunan.

Asumsinya, setiap kenaikan harga BBM 10 persen, akan menimbulkan tambahan inflasi 0,7 bps. Jika pemerintah jadi menaikkan harga BBM bersubsidi untuk premium Rp 2.000 per liter dan solar Rp 1.000 per liter, ada asumsi inflasi bertambah menjadi 2,5 pada akhir tahun.

Adapun target inflasi pemerintah di akhir tahun ini sekitar 4,9% sehingga kemungkinan inflasi bisa mencapai sekitar 7,5% di 2013. \"Tentu ini (kenaikan harga BBM bersubsidi) pasti ada dampak, khususnya terhadap daya beli masyarakat. Biasanya setiap harga BBM naik, ekonomi cenderung stagnan dalam 6-9 bulan ke depan,\" kata Purbaya.

Saat ini, kekhawatiran terhadap inflasi yang melonjak akan menjadi fokus pemerintah dan Bank Indonesia untuk bisa menjaga inflasi sesuai targetnya. Sebab, bagaimanapun, pemerintah telah mengantisipasi kenaikan harga BBM bersubsidi ini dengan mewaspadai kenaikan harga bahan pangan di segala sisi.

\"Jika inflasi sekitar 7,5%, BI pasti merespons akan menaikkan suku bunga acuan BI (BI Rate). Namun, saya tidak tahu kapan BI akan mengubah BI Rate-nya,\" lanjutnya. Saat ini pun, pemerintah juga masih gamang untuk menaikkan harga BBM bersubsidi, termasuk dalam sisi waktu yang tepat. Sebab, dalam dua bulan ini, risiko inflasi semakin tinggi akibat ada liburan panjang sekolah, rencana puasa Ramadhan, dan jelang Lebaran.

Kompensasi BLSM

Sementara itu, pemerintah punya cara agar daya beli masyarakat tetap terjaga meskipun terjadi kenaikan BBM untuk premium dari Rp4.500 menjadi Rp6.500 dan solar dari Rp4.500 menjadi Rp5.500 adalah dengan memberikan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Nantinya pemerintah akan memberikan bantuan senilai Rp150 ribu/bulan selama 4 bulan kepada 15,5 juta keluarga miskin.

Wakil Presiden Boediono mengatakan, BLSM/Balsem mekanismenya mirip program bantuan langsung tunai (BLT) yang dulu pernah dibagikan pemerintah. \"Ini sebenarnya mekanismenya mirip BLT dulu, tapi ada perbaikan-perbaikan yang sudah kita lakukan. Terutama dalam hal sasarannya. Seperti diketahui, ini didasarkan oleh survei objektif oleh BPS yang kemudian diupdate dengan konsultasi dengan pemda terutama di tingkat desa dan kelurahan, dan akhirnya kita mendapatkan daftar penduduk Indonesia sampai dengan 40% dari segi tingkat sejahteranya,\" tutur Boediono.

Menurut Boediono, tidak ada aspek politis dalam pembagian Balsem ini, karena penerimanya adalah berdasarkan survei yang objektif. Selain itu. ujar Boediono, masyarakat sudah sangat cerdas sehingga tidak menganggap pemberian Balsem ini akan mempengaruhi pilihan politik mereka di 2014. \"Karena itu kami batasi 4 bulan saja. Barangkali tidak perlu dikhawatirkan karena itu berarti kita menghargai kecerdasan masyarakat kita yang sudah sangat rasional dalam memilih,\" ujar Boediono.

Mantan Gubernur Bank Indonesia ini mengatakan, Balsem sangat diperlukan masyarakat miskin pasca harga BBM subsidi dinaikkan. Balsem akan membantu daya beli masyarakat miskin.

Dari 40% rumah tangga miskin, pemerintah mengambil 25% yang paling miskin atau jumlahnya 15,5 juta untuk diberikan Balsem ini. \"Saudara sekalian menjelang nanti hari H-nya (BBM naik), tentu presiden akan memutuskan kapan, menunggu persiapan dari program-program (kompensasi) ini, maka kita harapkan masyarakat tenang sajalah. Jadi artinya tidak usah kita borong-borong BBM sebelumnya,\" ujarnya.

Selain Balsem, program kompensasi yang akan diberikan pemerintah pasca kenaikan harga BBM subsidi adalah tambahan jatah beras miskin (raskin), beasiswa miskin, serta program keluarga harapan (PKH).

Related posts