Aturan LCGC Untungkan Pihak Luar

Aturan mobil murah atau LCGC justru akan memperbesar volume penjualan mobil di Indonesia dan hanya akan memperkaya produsen luar. Belum lagi dampak negatif lain yang ditimbulkan aturan tersebut, dengan demikian pengesahan aturan LCGC dinilai banyak kalangan tidaklah tepat.

NERACA

Akhirnya yang selama ini ditunggu-tunggu oleh pelaku industri otomotif dan oleh masyarakat yang menginginkan kendaraan roda empat dengan harga terjangkau, yaitu peraturan resmi mengenai LCGC (Low Cost Green Car) kini tercapai, namun dengan adanya peraturan ini akan menguntungkan produsen mobil luar.

“Kami melihat seharusnya pemerintah harus mengkaji ulang program ini, pemerintah belom jelas peraturan yang akan dipakai mengenai pajak barang mewah yang sebesar 20% itu nantinya akan di apus, ini akan menguntungkan para produsen luar,” komentarnya kepada Neraca, Pengamat Otomotif, Suhari Sargo.

Menurutnya produsen luar memang sudah siap dari segi teknologi, selama ini kan teknologi yang dipakai oleh produsen luar memang sudah cukup bagus, mereka memang sudah siap untuk program ini, mungkin para produsen otomotif luar akan memproduksi mobil murah akan tinggi.

“Mereka akan senang dengan adanya LCGC karena ini akan membuka industri otomotif semakin maju, ini akan menambahkan kapasitas produksi, dan ini akan menguntungkan para produsen luar, pendapatan mereka akan semakin meningkat,” tuturnya.

Jika melihat dengan adanya program ini akan membatasi produksi kendaraan roda dua itu tidak benar, kita melihat dari segi segmen saja sudah sangat berbeda pengguna mobil dan motor, kebanyakan pengguna motor dari masyarakat menengah kebawah. Bukan hanya itu tempat tinggal pengguna motor berbeda yang mayoritas tinggal di tempat padat penduduk yang tidak ada tempat untuk menaro mobil.

Menurutnya mungkin pemerintah ingin memperbesar volume penjualan mobil di Indonesia. Pemerintah ingin membela konsumen agar mobil bisa didapat dengan uang yang lebih sedikit. Sehingga konsumen akan lebih mampu beli mobil, volume penjualan membesar.

Dari segi komposisi nilai devisa yang tinggi dalam ongkos pembuatan mobil, tentu penaikan volume ini menguntungkan pihak luar, baik negara asing maupun perusahaan asing yang menguasai industri mobil nasional. Keuntungan bagi pihak dalam negeri didapat tidak sebesar yang diperoleh oleh pihak asing, karena kenyataan saat ini dalam struktur ongkos mobil porsi nilai asing lebih besar dari pertambahan nilai yang dibuat di dalam negeri.

Bila kebijakan mobil murah ini bisa diikuti dengan kebijakan mendorong usaha mempertinggi nilai tambah nasional, itu baru kita bisa acungkan jempol buat pemerintah saat ini. Bila tidak, artinya pemerintah belum punya akal yang cerdik untuk mendorong usaha peningkatan nilai tambah dalam negeri.

Mungkin juga pemerintah ingin meningkatkan laju pertumbuhan industri mobil dibandingkan dengan industri sepeda motor. Penggunaan mobil secara teknis transportasi lebih dibela dibandingan dengan penggunaan sepeda motor. Pengadaan mobil murah akan memecah segmen pemakai motor secara berarti.

Komponen Luar Akan Banjir

Infrastruktur industri komponen dalam negeri sudah hampir seluruhnya dikuasai oleh pemilikan asing. Industri pribumi lokal tidak bisa berkembang karena tidak mampu masuk ke standard kerja yang ditetapkan pembeli OEM yang nota bene adalah milik merk asing seluruhnya.

Jangan harap industri komponen lokal Indonesia bisa ujug ujug dipercaya oleh pembuat mobil tanpa mampu menunjukkan bukti kesetaraan mereka dengan pembuat mobil dalam hal kompetensi dan teknologi. Tanpa teknologi industri komponen tidak mungkin bisa bersaing lebih reliable, lebih murah, lebih efisien, lebih cepat, lebih ajeg, lebih konsisten, lebih menarik, serta yang harus dimiliki untuk bisa bersaing.

Dengan demikian, tidak jelas hubungan antara kebijakan mobil murah terhadap peluang tumbuhnya industri komponen baru, karena pembuat mobil tidak mau berurusan dengan pihak pihak yang tidak kompeten, opportunistik, yang kagetan masuk industri lalu lari lagi kalau ada masalah.

Sialnya, peluang ini sering dilihat salah oleh pihak yang belum mengenal medannya. Sehingga program mobil murah digambarkan sebagai peluang untuk mulai investasi baru di industri komponen tanpa sikap dan persiapan yang tepat. Ini sangat berbahaya, karena program mobil murah sama sekali tidak menjanjikan pelindungan dan pembinaan industri yang terstruktur yang sering diharapkan oleh pemain baru.

Dalam regulasi ini ditetapkan acuan insentif khusus untuk dua jenis kendaraan tersebut, yaitu terbagi dalam tiga pilihan, 100%, 50%, atau 25%. Semua tergantung dari ketentuan yang sudah ditentukan sebelumnya.

Seperti kita ketahui, istilah LCGC mencuat tahun lalu ketika Astra Toyota dan Daihatsu memperkenalkan dua ‘mobil murah’ mereka yaitu Astra Toyota Agya dan Astra Daihatsu Ayla di ajang Indonesia International Motor Show 2012 (IIMS). Sejak saat itu masyarakat dibuat penasaran mengenai harga resmi kedua mobil tersebut, karena Pemerintah tidak kunjung menerbitkan Peraturan Resminya.

Pemerintah yakin program ini akan memperkuat struktur industri otomotif nasional. Oleh karena itu, program tidak membatasi teknologi yang digunakan. Selain untuk menciptakan jenis kendaraan yang ramah lingkungan, juga membuka kesempatan untuk di ekspor ke negara lain.

“Pro dan kontra mengenai peraturan mobil murah ini pasti ada, terutama bagi warga perkotaan, karena akan menambah kemacetan di kota-kota besar di Indonesia. Tapi sebetulnya program ini ingin juga menyasar konsumen di daerah yang menginginkan kendaraan roda empat dengan harga terjangkau,\" tuturnya.

Related posts