free hit counter

Cermati Implementasi BLSM

Kamis, 20/06/2013

Kita menyayangkan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi saat ini. Pasalnya, momen kenaikan harga itu berdampak ganda di tengah masyarakat menyambut tibanya Ramadan sehingga memicu kenaikan harga barang-barang secara kumulatif, belum lagi setelah pengumuman harga baru dalam waktu dekat ini.

Asumsi inflasi yang sampai 7,2% sesuai data APBN-P 2013, lebih tinggi dari perkiraan APBN 2013 yaitu 4,9%.  Jelas, laju inflasi akan lebih besar lagi jika penyaluran kebutuhan pokok seperti beras, kedelai, gula, minyak, bawang, dan daging, tidak lancar. Pemerintah perlu dan harus mencermati pemenuhan kebutuhan pokok karena menjelang Pemilu 2014 biasanya diikuti intrik politik, yang tidak menutup kemungkinan adanya permainan pihak tertentu yang menghambat penyaluran kebutuhan pokok sampai ke rakyat kecil.

Adalah benar, menaikkan harga BBM akan meringankan beban subsidi, namun di sisi lain yang tetap memberatkan APBN adalah pembayaran bunga utang Rp 113,2 triliun dan pokok Rp 58,4 triliun, serta surat utang negara yang jatuh tempo Rp 71 triliun, sehingga total mencapai Rp 241 triliun.

Padahal kita berharap di  masa mendatang tak ada lagi kebiasaan mengutang yang justru memberatkan APBN, yang pada akhirnya berdampak pada pengurangan subsidi, salah satunya subsidi bahan bakar. Padahal, subsidi yang dapat dihemat sekitar Rp 40 triliun atas kenaikan harga premiun dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.500 dan solar semula Rp 4.500 menjadi Rp 5.500 per liter.

Sementara Wamenkeu Mahendra Siregar dalam keterangannya menyatakan, pengalokasian dana kompensasi Rp 29,12 triliun terinci atas bantuan sementara langsung masyarakat (BSLM) Rp 9,32 triliun, anggaran percepatan perlindungan sosial Rp 12,6 triliun, alokasi anggaran pengembangan infrastruktur pedesaan Rp 7,2 triliun. Pemerintah juga menyetujui alokasi bantuan siswa miskin (BSM) Rp 7,5 triliun dan anggaran raskin Rp 4,3 triliun untuk 15 bulan. Untuk BLSM diberikan Rp 150 ribu selama 4 bulan untuk 15,5 juta rumah tangga sasaran (RTS).Next