IPO BUMN Jalan di Tempat - AKIBAT SITUASI PASAR TIDAK KONDUSIF DAN HAMBATAN BIROKRASI

NERACA

Jakarta – Ketika Kementerian BUMN menargetkan sekitar 7 (tujuh) BUMN dapat go public pada 2013, ternyata realisasinya hingga Juni baru tercatat satu BUMN (Semen Baturaja) yang mampu menjual sahamnya ke masyarakat, sementara BUMN di negara Asia lainnya justru tumbuh lebih cepat. Pasalnya, banyak alasan yang membuat BUMN menunda IPO (initial public offering) mulai dari kondisi pasar dalam negeri yang tak menentu hingga keharusan mendapatkan izin DPR sebagai mitra pemerintah.

Menurut pengamat pasar modal dari FE Univ. Pancasila, Agus Irfani, masih cukup sulit untuk berharap perusahaan BUMN melaksanakan penawaran saham ke publik. Alasannya, bukan hanya karena proses izin DPR yang memakan waktu cukup panjang, namun lebih kepada internal perusahaan BUMN tersebut. \"Dari internal mereka tampaknya tidak ingin \"kemerdekaan\" atau \"kerajaan\"nya di pantau oleh publik,”ujarnya kepada Neraca di Jakarta, Selasa (18/6).

Karena itu, menurut dia, perlu dibutuhkan kekuatan moral dari presiden atau melalui DPR untuk menyampaikan isu yang mendesak perusahaan BUMN untuk go public. \"Kehendak BUMN sangat besar, tetapi hanya sampai pada kementerian BUMN dan kehendak masyarakat.\" jelasnya.

Sejauh ini, dia menilai, kebijakan DPR untuk tidak melepas perusahaan BUMN yang murni strategis dapat diterima. Namun, perusahaan-perusahaan BUMN yang membutuhkan peningkatan tata kelola perusahaan (good corporate governance) hingga kini masih banyak. Untuk itu, harus didorong untuk melaksanakan IPO sehingga dapat memacu pihak manajemen perusahaan agar tata kelola perusahaan BUMN tersebut menjadi lebih baik.

Sementara pengamat pasar modal dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Guntur Tri Harianto mengatakan, meski sempat terdepresiasi cukup dalam, pasar modal Indonesia saat ini sudah kembali terapresiasi dengan kembali mengalami penguatan (rebound). Karena itu, hal tersebut akan mendukung kinerja saham maupun perusahaan yang akan melakukan penawaran saham umum perdana. Tidak terkecuali bagi badan usaha milik negara (BUMN).

Birokrasi Perizinan

Selain pasar yang sudah mulai terapresiasi, perusahaan BUMN memiliki bisnis yang prospektif dan respon masyarakat terhadap perusahaan BUMN sejauh ini juga cukup positif. Sebut saja PT Mandiri Tbk, PT Semen Indonesia Tbk. \"Hampir semua perusahaan BUMN yang telah IPO dapat mencatatkan kinerja yang cukup baik.\" ucapnya.

Namun sayangnya, kata dia, untuk perusahaan BUMN masuk ke pasar modal tidak mudah. Selain mengukur kinerjanya, juga dipengaruhi dengan kondisi internal perusahaan BUMN. \"Pemerintah atau kementerian BUMN memang ingin bisa secepatnya, namun itu kembali kepada internal perusahaan karena banyak hal yang perlu dilakukan bukan sebatas apakah mereka berminat melakukan pencatatan saham atau seperti apa.\" jelasnya.

Dia menilai, dari beberapa perusahaan BUMN yang direncanakan, PT PLN dan Pegadaian merupakan perusahaan BUMN yang akan mampu menarik perhatian pasar jika mereka melakukan IPO. \"Pegadaian dan PLN merupakan perusahaan yang dekat dengan masyarakat dan responnya positif. Ini akan mendukung kinerja pencatatan sahamnya apabila mereka IPO.\" ucapnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Asosiasi Profesi Pasar Modal Indonesia (APPMI), Saidu Solihin, kendala yang dihadapi BUMN untuk melakukan IPO adalah perijinan dan proses yang panjang.“BUMN jika akan IPO tidak mudah, karena butuh proses panjang dan memang ada strategi dari pemerintah yaitu butuh persetujuan anggota DPR,”tandasnya.

Baginya, para pelaku pasar tentu saja menginginkan sebanyak mungkin perusahaan BUMN melakukan IPO dan listing di bursa. Hal ini karena menurutnya hampir semua perusahaan memang memiliki kinerja yang bagus.“BUMN ataupun swasta yang bergerak di sektor tambang, kita pasti inginnya mereka IPO karena transparansi kinerja mereka bisa diketahui. Selain itu IPO juga bisa meningkatkan dana mereka untuk lebarkan sayap usaha. Ini juga akan menarik investor asing tentunya”, jelas dia.

Dia juga menambahkan, pelaku pasar pasti menginginkan perusahaan BUMN tersebut jika akan listing tentunya di bursa Indonesia. Hal-hal yang menjadi pertimbangan mereka untuk melakukan IPO agar menjadi perusahaan terbuka tidak terlalu dipahami Saidu, hanya saja dampaknya yang didapat perusahaan BUMN tersebut akan sangat banyak misalnya penerapan good governance.

Dia juga menambahkan bahwa perusahaan BUMN dengan sektor-sektor seperti infrastruktur dan teknologo dinanti oleh pasar. Karena memang kedua sektor ini diminati dan jika BUMN masuk ke pasar dari sektor ini akan memberi variasi di pasar modal. lia/nurul/bani

Related posts