Selalu Rugi, Telkom Dinilai Tepat Lepas TelkomVision

NERACA

Jakarta – Pemerintah sepertinya tidak mau dibebani untuk terus menyuntik modal terhadap perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selalu rugi. Maka mensiasatinya, BUMN yang sakit tersebut akan di lepas ke publik. Alasan ini pulalah, Menteri BUMN Dahlan Iskan menyabut positif akuisisi yang di lakukan CT Corp terhadap TelkomVisioan, anak usaha dari PT Telkom Tbk.

Kata Dahlan Islan, wajar jika Telkom melepas anak usahanya karena selama ini tidak pernah meraih keuntungan dalam penjualan, “TelkomVision itukan umurnya sudah 16 tahun, nah selama 16 tahun belum pernah sekalipun pun untung. Mereka tidak pernah mengalami untung dan selalu rugi terus,”tegasnya di Jakarta, Selasa (18/6).

Menurutnya, permasalahan tersebut di luar tanggung jawabnya karena menurutnya perusahaan televisi berbayar tersebut adalah sepenuhnya tanggung jawab dari induk perusahaan yakni Telkom, “Inikan hanya anak usaha beda dengan BUMN. Anak usaha itu di luar tanggung jawab saya. Kalau Telkom yang kenapa-kenapa baru saya ikut selesaikan,\" cetusnya.

Hal senada juga diakui Dirut Telkom, Arife Yahya, penjualan Telkomvision dikarenakan berdasarkan hasil kinerjanya yang tidak sesuai dengan harapan. Di mana belum bisa mencapainya value yang tinggi, “Dijual bukan karena tidak bagus, kinerjanya bukan tidak baik, tapi bukan seperti yang kita harapkan. Yang kita harapkan value tinggi, dan net profit bagus. Itu belum bisa kita capai,ungkapnya.

Arif menjelaskan, dirinya realistis bahwa pengelolaan dalam media itu yang paling pertama yang terpenting adalah kontennya. Karena, khusus TelkomVision partner akan lebih fokus ke konten, sedangkan Telkom akan fokus ke infrastrukturnya.\"Kita sudah mengelola TelkomVision selama 16 tahun, jadi sudah cukup waktu. Dan kita harus realistis bahwa dalam media itu nomor satu yang terpenting kontennya. Khusus telkomvision partenernya akan lebih fokus ke konten dan Telkom akan fokus ke infrastrukturnya,\" tuturnya.

Selain itu, Arif menuturkan bahwa value TelkomVision masih di atas Rp1 triliun. Dimana dana tersebut diperuntukkan pada bisnis seluler dan broadbrand. Serta, mengembangkan bisnis di tempat-tempat yang telekomunikasinya bertumbuh baik. Sedangkan untuk IT dan media, Arif menyebutkan bahwa memberikan untuk partnership.\"Untuk IT dan media, Telkom kan image-nya kan Time kita cenderung untuk partnership,\" katanya.

Proses Akuisisi

Sebelumnya, CT Corp dikabarkan akan membeli 80% saham TelkomVision. Dimana proses akuisisi telah memasuki Conditional Sales and Purchase Agreement (CSPA) alias perjanjian pengikatan jual beli (PPJB).

Direkktur Keuangan PT Telkomunikasi Indonesia Tbk, Honesti Basyir pernah bilang, proses akuisisi CT Corp terhadap Telkomvision sudah tahap CSPA, “Prosesnya sendiri saat ini masih Conditional Sales and Purchase Agreement (CSPA,”ujarnya.

Menurutnya rencana tersebut adalah langkah perseroan mencari partner strategis untuk Premium PayTV, sesuai dengan roadmap pengembangan bisnis media khususnya PayTV. \"CT Corp sebagai mitra strategis masuk membawa ekspertis media, konten dan modal diharapkan bisa melejitkan kinerja Telkomvision, sementara Telkom akan lebih fokus dibidang infrastruktur, broadband, dan digital media,”jelasnya.

Dia menambahkan, nantinya sinergi dua korporasi besar ini diharapkan meningkatkan scale, skill, dan scope tidak hanya dibidang Pay TV, saham Telkom memang menurun menjadi minoritas dengan komposisi 80:20. Oleh karena itu, dengan masuknya CT Corp diharapkan dalam tiga tahun akan meningkat value perusahaan jauh lebih besar.

Hasrat CT Corp mengakuisisi juga pernah dilakukan terhadap saham grup Bakrie melalui PT Visi Media Asia Tbk (VIVA). Disebutkan, CT Corp mengklaim salah satu penawar tertinggi terhadap pembelian saham VIVA sebesar US$ 1,8 miliar secara tunai atau setara Rp17,46 triliun dengan kurs Rp9.700 per dolar. Bahkan sesumbar, mampu membeli 100% saham VIVA. Hanya saja, kesepakatan ini belum selesai. (bani)

Related posts