Pengusaha Lokal Harus Adu Kuat Dengan Asing - Bisnis Jasa Pertambangan Sambut AEC 2015

NERACA

Jakarta - Setidaknya ada 131 perusahaan jasa usaha pertambangan yang akan bekerja keras untuk bisa menguasai pasar jasa pertambangan di masa mendatang. Hal ini demi mempersiapkan Asean Economic Community (AEC) yang akan segera berlangsung di 2015. Hal tersebut seperti diungkapkan Ketua Asosiasi Jasa Pertambangan (Aspindo) Tjahyono Imawan di Jakarta, Selasa (18/6).

Ia mengatakan 131 perusahaan tersebut akan menyambut AEC dengan meningkatkan kualitas pelayanannya. \"Tantangan kita ke depan adalah pasar bebas melalui Asean Economic Community. Perusahaan jasa pertambangan luar negeri akan masuk dan bersaing di pasar jasa pertambangan Indonesia. Kita harus kompetitif dengan meningkatkan kompetensi dan profesionalisme,\" kata Tjahyono.

Tjahyono mengungkapkan, institusinya saat ini tengah menyusun sertifikasi usaha jasa pertambangan yang diharapkan berlaku pada tahun depan. Dengan sertifikasi itu, profesionalisme dalam hal pemenuhan kaidah teknis tambang, aspek komersial, dan best mining practice akan diukur berdasarkan standar global.

Dengan sendirinya, Aspindo berharap akan terjadi peningkatan kompetensi perusahaan usaha jasa pertambangan yang setara dengan kualitas pengembangan tambang internasional. \"Dengan adanya peningkatan kompetensi dan profesionalisme tersebut, perusahaan usaha jasa pertambangan Indonesia optimistis mampu menjadi tuan di negara sendiri. Pasar bebas bukan merupakan ancaman, kami siap bekerja sama dengan investor tambang asing,\" katanya.

Tjahyono menambahkan bahwa pihaknya bertekad meningkatkan profesionalisme terutama dalam hal kompetensi, kualifikasi, dan pemanfaatan komponen lokal demi kontribusi nilai tambah yang lebih besar.

Tekad tersebut dipacu pula oleh optimisme investasi sektor usaha jasa pertambangan yang bakal menembus Rp10 triliun-Rp12 triliun tahun ini. Hal ini menandakan konsistensi sektor usaha jasa pertambangan dalam memberikan kontribusi dan nilai tambah bagi kemajuan ekonomi nasional. \"Tentu saja hal ini akan berdampak besar pada peningkatan nilai tambah usaha jasa pertambangan dalam tahun ke depan,\" ujarnya.

Investasi Meningkat

Tjahyono mengungkapkan, investasi sektor jasa usaha pertambangan terus meningkat dari tahun ke tahun. Tercatat, pada 2011 sekira Rp12 triliun dibandingkan pada 2010 sekira Rp9,7 triliun. Hingga triwulan ketiga tahun lalu, investasi itu mencapai Rp10 triliun.

Sementara itu, nilai pajak usaha jasa pertambangan pada 2011 tercatat Rp2,1 triliun, dan tahun lalu lebih dari Rp2,3 triliun. Di samping itu, nilai pembelanjaan nasional dan lokal usaha jasa pertambangan pada 2011 tercatat Rp9,8 triliun, dan naik menjadi lebih dari Rp14 triliun pada tahun lalu.

\"Kami sudah memperkenalkan beberapa produk lokal komponen material tambang. Nilai tambah komponen lokal ini akan makin bertambah apabila perusahaan jasa usaha pertambangan mampu memproduksi sendiri komponen lokal dan membatasi belanja impor,\" kata dia.

Tjahyono menambahkan, dengan sertifikasi kualifikasi usaha jasa pertambangan. Sertifikasi tersebut diharapkan mampu menjawab peningkatan profesionalisme sehingga sektor usaha jasa pertambangan mampu menjawab tuntutan pertambangan nasional saat ini yakni lebih banyak memberikan manfaat bagi kepentingan nasional dan menjadi perusahaan yang berkomitmen dalam hal good mining practice.

\"Profesionalisme sektor usaha jasa pertambangan itu juga membutuhkan kontrol yang ketat terkait implementasi regulasi dari pemerintah. Hal ini memberikan jaminan keberusahaan dan terciptanya iklim investasi pertambangan yang baik. Jika tidak, sektor pertambangan akan terus diganggu dan usaha jasa pertambangan tidak dapat berkembang,\" ucap dia.

Menurut Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Kemendag Iman Pambagyo, AEC harus dijadikan momentum perekonomian Indonesia untuk berkembang dalam sektor jasa dan perekat untuk ke berbagai sektor. Secara umum, sektor jasa di Indonesia kini mengalami pertumbuhan. \"Sektor jasa tumbuh sebanyak 7%,\" ucapnya.

Sektor jasa, ia melanjutkan, juga telah memerangi kemiskinan sebanyak 80 persen. \"Jadi bila melihat perekonomian, maka peran sektor jasa diperlukan,\" tuturnya.

Dia menambahkan, integrasi jasa telah memberikan kontribsi 45% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. \"Namun jumlah itu masih sangat kecil. Hal ini menunjukkan sektor jasa (harus) dikembangkan,” tuturnya.

Sayangnya, masih ada negara yang belum menyadari pentingnya sektor jasa. Iman menyebutkan, negara semacam Cina bahkan belum menyadari pentingnya sektor jasa.

Related posts