Indonesia Tempati Posisi Kedua di Dunia - Soal Penderita DBD

Saat ini infeksi virus dengue atau lazim dikenal sebagai DBD merupakan permasalahan kesehatan global. Terutama di area tropis dan sub-tropis. Indonesia sebagai negara tropis dan sub-tropis menjadikan negara yang menempati peringkat kedua soal DBD.

Semakin meningkatnya penderita DBD di Indonesia menjadikan tantangan sendiri untuk mengatasi dengue. Dengan tercatat sebagai angka tertinggi kedua di dunia setelah Brasil dan angka tertinggi di Asia Tenggara berdasarkan kasus dengue yang dilaporkan, pemerintah terus berupaya menurunkan laju kasus dengue di Indonesia.

DKI Jakarta masih tercatat sebagai salah satu provinsi dengan prevalensi DBD tertinggi. Meski telah terjadi tren penurunan dilihat dari incident rate 202 per 100.000 penduduk di tahun 2010 menjadi 68,47 per 100.000 di tahun 2012, sebagai Ibu Kota negara sekaligus wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia. \"Jakarta harus tetap waspada karena DBD pada umumnya terjadi di perkotaan dan penyebarannya dipengaruhi oleh tingkat urbanisasi serta tingginya lalu lintas manusia,” papar dr. Dien Emawati, M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

Mengingat besarnya dampak yang ditimbulkan dari keberadaaan penyakit ini bagi kesehatan dan perekonomian, diperlukan suatu upaya efektif dan berkesinambungan dalam hal pengendalian dan pencegahan DBD.

Hingga saat ini belum tersedia pengobatan spesifik untuk demam dengue, sehingga upaya pencegahan masih merupakan cara terbaik untuk mengurangi beban akibat penyakit ini. Jumlah kematian dari dengue dapat diturunkan melalui pendekatan sistem deteksi dini dan tatalaksana yang tepat untuk kasus-kasus berat.

“Sementara pencegahan dapat dilakukan melalui tatalaksana vektor terpadu dan pengendalian vektor berbasis wilayah, termasuk pengelolaan air bersih, dan program-program edukasi dan komunikasi untuk mencapai perubahan perilaku.” menurut Dr.dr. Hindra.

Nyamuk Aedes aegypti yang menyebarkan dengue merupakan vaktor yang perlu diwaspadai. Untuk itu pemerintah melalui Dinas Kesehatan telah membentuk Kader Jumantik (Juru Pemantau Jentik) di setiap wilayah dalam upaya pengendalian laju kasus dengue melalui pemberantasan vaktor ini.

Kader Jumantik, lanjut dia, merupakan ujung tombak pemberdayaan masyarakat dalam upaya menekan laju kasus dengue dengan memutus rantai penularan siklus hidup nyamuk. Melalui pelatihan peningkatan kapasitas ini, diharapkan para Kader Jumantik se-Jakarta dapat mengajak masyarakat di sekitarnya untuk secara proaktif menjaga sanitasi lingkungan. \"Diharapkan itu dapat menekan kasus penularan oleh nyamuk secara optimal,” tutur dr. Dien Emawati lebih lanjut.

WHO menyatakan bahwa program peningkatan kapasitas sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan implementasi strategi global pencegahan dan pengendalian dengue masih banyak terabaikan. Oleh karena itu melalui peringatan ASEAN Dengue Day yang dicanangkan pertama kali di tahun 2011, dilakukan berbagai inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat tentang dengue dan pencegahannya.

Related posts