Ancaman Inflasi Kerek Kupon Obligasi

NERACA

Jakarta- Ancaman kenaikan inflasi yang diperkirakan akan terjadi pasca dinaikkannya Bahan Bakar Minyak (BBM) dinilai akan memukul beban emiten yang menerbitkan obligasi. “Optimis pertumbuhannya masih positif. Tapi tentunya dengan kenaikan yield yang harus ditanggung oleh emiten.” kata analis obligasi dari Lembaga Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa di Jakarta, Senin (17/6).

Menurutnya, koreksi yang terjadi di pasar obligasi telah berlangsung sejak bulan Mei. Dari sebelumnya yang hanya sekitar 1%-2%, kemarin sempat mencapai 3,89%. Hal tersebut ditengarai adanya sejumlah isu yang muncul dari dalam dan luar negeri. “Sebetulnya dari sisi yield masih normal, hanya saja kalau kita bicara harga koreksinya cukup cepat sekarang.” ucapnya.

Pasar obligasi domestik saat ini, lanjut dia, dipengaruhi oleh dua sentimen utama. Pertama, dari sisi domestik, yaitu terkait dengan kepastian soal harga BBM, kenaikan inflasi, dan pelemahan nilai tukar rupiah. Sementara dari sisi global, terkait kelanjutan stimulus the Fed yang sangat mempengaruhi optimisme pelaku pasar. “Begitu ada sinyal stimulus berakhir, pasar akan merespons negatif. Imbasnya yield SUN untuk tenor 10 tahun saat ini sudah menyentuh level 6,5%.” jelasnya.

Meskipun demikian, prospek penerbitan obligasi pada tahun ini menurut dia masih cukup positif, dengan pertumbuhan sekitar 20%. Tidak terkecuali dengan penyerapannya ke depan. Terlebih dengan adanya upaya pemerintah menaikkan BI rate untuk menekan kredit dan mengendalikan peredaran rupiah sehingga menekan pelemahan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Jika pelemahan rupiah dapat ditekan, terlebih mengalami penguatan maka akan mendorong kepercayaan investor asing untuk masuk ke pasar domestik. Mengingat currency risk akan mengecil sehingga akan mendorong aliran dana asing (inflow) kembali. Dia pun memperkirakan penerbitan obligasi korporasi pada tahun 2013 akan mencapai Rp50 triliun hingga Rp60 triliun.

Sementara itu, Direktur Utama Bahana Securities, Eko Yuliantoro mengatakan, dari penerbitan obligasi yang ditangani perusahaan, seperti PTPN X misalnya, mengalami kenaikan tingkat suku bunga. Dari sebelumnya berada di kisaran 7%-8%, saat ini mencapai 9% sebagai dampak dari antisipasi kenaikan inflasi akibat dinaikkannya BBM. “Untuk obligasi, tidak terlalu berkaitan dengan IHSG, namun dengan tingkat inflasi. Mengantisipasi kenaikan BBM yang menjadi faktor pendorongnya sehingga diperkirakan bunga akan meningkat. Tapi kita sudah price in ke investor.” jelasnya.

Menurutnya,meskipun tercatat mengalami koreksi, kondisi pasar domestik saat ini masih cukup likuid. Dengan prospek dan kesehatan keuangan perusahaan, penerbitan obligasi masih akan mampu menyerap investor dengan baik. Demikian juga dengan minat penerbitan obligasi. Hal tersebut tercermin dari maraknya perusahaan yang akan menerbitkan obligasi pada semester pertama ini. Pihaknya mencatat, selain PTPN X, penerbitan obligasi juga dilakukan oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM), PT PLN, dan PT Pegadaian. “Setelah ini juga akan ada perusahaan infrastruktur.” ujarnya. (lia)

Related posts