Yuan Menguat, Harga Komoditas Makin Terpuruk

NERACA

Jakarta - Penguatan mata uang Yuan (Cina) dalam tiga bulan terakhir berpengaruh langsung terhadap harga komoditi agrikultur yang terus terperosok. Hal ini dikarenakan Cina menjadi pembeli terbesar untuk komoditi agrikultur tersebut, “Komoditi Agrikultur yang paling merosot ada tiga, yaitu jagung, gandum dan kedelai harga-harganya terkoreksi di bursa New York dan London karena memang Yuan menguat dan Cina adalah pembeli terbesar untuk ketiga komoditi ini. Penguatan ini menjadikan komoditi yang tercurrency dolar menjadi turun terutama untuk menukar USD dengan komoditi,”kata Research & Development Division Jakarta Future Exchange (JFX),Renji Betari kepada Neraca di Jakarta, Senin (17/6).

Selain itu, dia menjelaskan, sebelum mata uang Cina menguat, hubungan antara dolar dengan harga komoditas berbanding terbalik, yaitu jika dolar naik maka harga komoditas akan turun. Namun sekarang berubah karena adanya penguatan mata uang Yuan tersebut.

Dimana dampak yang langsung terasa bagi Indonesia karena penguatan Yuan ini adalah jika melakukan settlement fisik dengan harga dolar, maka akan langsung mengalami penurunan nilai jual komoditas dan hal ini telah dirasakan selama 3 bulan terakhir.

Dampak BBM

Selain penurunan nilai jual, lanjutnya, saham-saham perusahaan komoditas di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga terkoreksi cukup panjang dengan merosotnya harga komoditas tersebut. Sedangkan dampak ketidakjelasan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), menurutnya, tidak akan terlalu berdampak besar terhadap bursa komoditi,”Kenaikan BBM tidak akan terlalu berpengaruh karena harga minyak dunia sendiri sudah stabil tiga tahun belakangan ini. Jadi, jika terjadi kenaikan tarif BBM akan terjadi penyesuaian namun sedikit,”ungkapnya.

Saat ini volume transaksi terbanyak untuk komoditi agrikultur di JFX adalah kakao. Jumlah rata-rata transaksi kakao setiap bulannya mencapai 5.000 lot. Setiap lot berharga 5 ton kakao atau setara dengan Rp 120 juta. Maka jika dikalkulasikan setiap bulannya transaksi kakao mencapai Rp 600 miliar.“Dapat dikatakan mencapai 70% dari transaksi fisik biji kakao secara nasional dilakukan di bursa ini dalam setahun terakhir,”ujarnya.

Sebagai informasi, awal Mei lalu, harga kakao mengalami penurunan yang tidak terlalu tajam untuk kakao pengiriman Juli 2013. Dimana harga kakao di buka dengan harga Rp 23.000/kg. Harga tersebut turun Rp 40 jika dibandingkan dengan harga penutupan sehari sebelumnya.

Sementara itu, kontrak untuk Juli mencapai harga tertinggi mencapai Rp 23.170/kg dengan harga terendah Rp 23.000/kg. Untuk kakao pengiriman September 2013, harga kakao di buka dengan harga Rp 23.120/kg. Harga tersebut turun Rp 70 jika dibandingkan dengan harga penutupan (7/5) yang mencapai Rp 23.190/kg. Sementara itu, kontrak September mencapai harga tertinggi Rp 23.340/kg dan harga terendah Rp 23.120/kg.

Kenaikan kakao akan dialami untuk pengiriman Desember 2013, harga kakao di buka dengan harga Rp 23.440/kilogram. Harga tersebut naik Rp 140 jika dibandingkan dengan harga penutupan (7/5) yang mencapai Rp 23.300/kg. Sementara itu, kontrak Desember mencapai harga tertinggi mencapai Rp 23.440/kg dan harga terendah Rp 23.360/kg. Namun jika melihat dari seluruh sektor, emas tetap primadona dengan transaksi hingga triliun rupiah setiap tahunnya.

Walaupun semester I ini harga emas terus merosot, menurut Renji emas tetap menjadi pilihan investor untuk berinvestasi. “Awal pekan ini, harga emas berada di level Rp 470 ribu/gram, padahal pada Januari sempat mencapai harga tertinggi yaitu Rp 542 ribu/gram. Sedangkan bulan lalu (Mei), sempat anjlok ke level paling bawah di semester ini yaitu Rp 446.800 atau bisa dikatakan ada koreksi 18%, namun transaksi emas tetap paling banyak dicari untuk investasi,”jelasnya. (nurul)

Related posts