Pancaran Indonesia Resmikan Pabrik Baru Rp 100 M - Pasar Lampu Hemat Energi Kian Terang

NERACA

Jakarta - Prospek pasar bisnis lampu listrik hemat energi (LHE) di Indonesia akhir-akhir ini cukup menjanjikan. Bahkan, ke depannya bisnis tersebut masih bisa berkembang seiring banyaknya masyarakat yang memerlukan lampu untuk sarana penerangan rumah atau kantor.

Berdasarkan data PT PLN (Persero), hingga kini jumlah pelanggan rumah tangga PLN sebanyak 39 juta pelanggan. Apabila satu rumah membutuhkan sedikitnya tiga lampu HE, pemakaian lampu itu bisa mencapai 117 juta unit LHE per tahun.

Untuk menyambut pasar LHE yang makin berkembang ini, PT Pancaran Indonesia (PTPI) produsen LHE merek “Cahaya” meresmikan pabrik barunya dengan nilai investasi Rp 100 miliar. Peresmian pembangunan pabrik baru perakitan lampu ini dilakukan pada akhir pekan lalu, dihadiri oleh owner PTPI, Ho Ping; Ketua Asosiasi Industri Perlampuan Listrik Indonesia (Aperlindo), John Manoppo dan para tamu undangan lainnya.

Pabrik baru yang berlokasi di Kawasan Industri Pancatama, Cikande, Serang, Banten itu berada di lahan seluas 7.000 meter persegi. Pabrik yang dapat menyerap 1.000 tenaga kerja itu mampu berproduksi 6 juta unit LHE maupun lampu LED per bulannya atau 72 juta unit per tahun. \"Jumlah produksi masih bisa kami tingkatkan lagi apalagi permintaan meningkat,\" ujar Manajer Operasional PTPI Hendry Alwi.

\"Investasi senilai Rp 100 miliar digunakan untuk menambah beberapa lini produksi baru, membeli sejumlah mesin dan peralatan produksi, perluasan lahan dan berbagai sarana pendukung lain,\"ungkap Hendri lewat siaran pers yang diterima Neraca, akhir pekan lalu.

Hendry mengatakan, saat ini pihaknya terus mengadakan pelatihan kepada para tenaga kerjanya. \"Mereka belajar tapi tetap digaji,\" ujar Hendry sembari tersenyum.

Sebelum menjadi produsen, kata Hendry, PTPI sempat menjadi distributor LHE sepanjang beberapa tahun terakhir. Namun, mengingat besarnya potensi pasar di dalam negeri dan berbagai pertimbangan efisiensi bisnis, PTPI memutuskan untuk mendirikan pabrik LHE pada 2009.

Peluang Pasar

Di tempat yang sama Ketua Asosiasi Industri Perlampuan Listrik Indonesia John Manoppo mengungkap maraknya pengalihan lampu pijar ke lampu hemat energi membuka peluang pasar bagi industri perlampuan listrik. Namun, peningkatan pemakaian lampu hemat energi itu tidak didukung dengan perkembangan industri komponen lampu sehingga industri nasional justru makin terpuruk di tengah serbuan produk impor terutama dari China.

Menurut John, pemakaian lampu hemat energi di Indonesia tahun 2010 mencapai 200 juta unit. Dari total jumlah lampu hemat energi itu, sebanyak 161.247.699 lampu di antaranya diimpor dari sejumlah negara, terutama China. Adapun industri nasional hanya mampu menjual sekitar 40 juta lampu, padahal kapasitas produksinya bisa mencapai 200 juta unit.

Pada tahun ini, konsumsi lampu hemat energi diperkirakan mencapai 261.250 unit. Hal ini seiring pertumbuhan jumlah pelanggan PT Perusahaan Listrik Negara yang diperkirakan mencapai 38 juta pelanggan. ”Kami berharap, dari total konsumsi itu, impor lampu hemat energi maksimal 180 juta, sisanya atau sekitar 80 juta unit diharapkan diisi industri dalam negeri,” ujarnya.

Untuk itu, perlu ada dukungan pemerintah melalui regulasi, antara lain, dengan penerapan verifikasi produk elektronik impor, termasuk lampu hemat energi di lima pelabuhan oleh lembaga sertifikasi.

Kepala Divisi Niaga PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero, Benny Marbun, mengatakan, pemakaian lampu hemat energi oleh masyarakat Indonesia sudah cukup tinggi. Pemerintah menaikkan TDL secara otomatis tiap triwulan mulai Januari 2013. \"Untuk saat ini, sudah hampir tidak ada masyarakat yang menggunakan bola lampu pijar, umumnya sudah menggunakan lampu hemat energi,\" kata Marbun.

Marbun mengatakan, masyarakat telah menyadari pentingnya menghemat penggunaan listrik dengan beralih menggunakan lampu hemat energi tersebut. \"Selain masyarakat telah menyadari hal tersebut, kampanye PLN dan juga promosi dari para produsen juga meningkatkan penggunaan lampu hemat energi tersebut,\" kata Marbun.

Marbun menjelaskan, selain beberapa faktor tersebut harga yang cukup murah dari lampu hemat energi tersebut juga menjadi salah satu faktor banyak masyarakat yang menggunakannya. \"Namun, untuk manfaat tenaga listrik masyarakat harus lebih bisa menggunakan listrik untuk keperluan yang lebih produktif,\" kata Marbun.

Marbun menjelaskan, masih banyak masyarakat yang menyalakan lampu meskipun sesungguhnya tidak terlalu diperlukan. \"Seharusnya, apabila tidak diperlukan sebaiknya dimatikan saja karena hal kecil seperti itu juga akan berdampak pada pengurangan subsidi,\" ujar Marbun.

Related posts