GERVIKAN Dapat Tingkatkan Produktivitas Perikanan Budidaya

NERACA

Bandung - Pemerintah terus berupaya untuk menggenjot produksi perikanan budidaya yang ada di dalam negeri. Berbagai cara dilakukan Pemerintah agar produksi perikanan budidaya terus meningkat. Salah satunya dengan program GERVIKAN (Gerakan Vaksinasi Ikan). Pada dasarnya gerakan ini mendorong penggunaan vaksin ikan secara nasional pada sentra budidaya ikan terutama kawasan minapolitan dan industrialisasi perikanan budidaya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, mengungkapkan untuk memacu produksi perikanan berbagai cara terus dilakukan. \"Hal ini disebabkan karena perikanan budidaya merupakan subsektor masa depan, karena Indonesia mempunyai 70 jenis perikanan,\" ujar Slamet usai acara Penyerahan Sertifikat Internasional dari World BioHaazTeec, USA Pada Swasta Pertaa dan Grand Launching 3 Jenis Vaksin Ikan di Bandung, Sabtu (15/6).

Menurut Slamet pada 2012 produksi perikanan budidaya mencapai 9,5 juta ton. Lalu proyeksi di 2013 ini mencapai 13 juta ton dan di 2014 sebesar 16,8 juta ton. Kenaikan yang sangat signifikan yakni mencapai 38% ini, kata dia, juga ditempuh dengan kebijakan berbasis Blue Economy (Ekonomi Biru).

“Gerakan ini akan dilakukan melalui demonstrasi cara penggunaan vaksin, penyediaan vaksin serta tenaga vaksinator yang bersertifikat. Gerakan ini, selain meningkatkan produksi melalui pencegahan penyakit juga meningkatkan kualitas produksi perikanan budidaya, karena kesehatan ikan terjaga,” ungkap Slamet .

GERVIKAN selanjutnya akan didorong untuk dapat dilakukan sendiri oleh para pembudidaya, sehingga produksi dan produktivitas serta pendapatan pembudidaya dapat meningkat. “GERVIKAN merupakan gerakan bersama. Tidak dapat tidak dapat dilakukan sendiri oleh Pemerintah saja, namun perlu partisipasi dan dukungan para pembudidaya, petugas vaksinator serta produsen vaksin,” terangnya.

Beberapa Pelatihan

Saat ini KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) telah melakukan pelatihan vaksinator di beberapa wilayah seperti Lampung dan Jawa Tengah, untuk mendukung pelaksanaan GERVIKAN. Selain itu penyediaan vaksin juga terus didorong melalui kerjasama dengan produsen vaksin.

Salah satu produsen vaksin yang telah memproduksi vaksin ikan adalah PT. Caprifarmindo Laboratories. Perusahaan ini telah memproduksi secara massal tiga vaksin ikan yang berasal dari isolat lokal yaitu vaksin anti Aeromonas hydrophilla, anti Vibrio sp, serta anti Edwardsiella ictaluri, yang dilaunching pada kesempatan ini.

“Vaksin anti Edwardsiella ictaluri, diproduksi dari isolat yang berasal dari Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi, salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) DJPB. Ini merupakan bukti adanya sinergi dan kerjasama antara swasta dan pemerintah, untuk bersama-sama mengatasi permasalahan dalam usaha budidaya yaitu pencegahan penyakit ikan melalui vaksinasi,” papar Slamet.

Pada kesempatan yang sama, diserahkan juga sertifikat Biosafety Level 3 (BSL-3) kepada PT. Caprifarmindo laboratories, sebagai bukti kesungguhan PT. Caprifarmindo Laboratories dalam mengelola unit usahanya dalam rangka menerapkan keamanan biologi pada tingkat yang tertinggi. Berbagai wabah penyakit bakterial yang menyerang berbagai jenis ikan air tawar dan laut dapat menyebabkan kerugian yang besar bagi pembudidaya.

Sekedar informasi secara umum ada dua permasalahan dalam budidaya perikanan yaitu pertama ketika komoditi yang dibudidayakan tidak dapat dipanen alias gagal panen, dan yang kedua ketika produk budidaya tidak terbeli atau untuk komoditi ekspor tidak diterima oleh pengimpor.

Beberapa referensi dan fakta lapangan menginformasikan bahwa potensi penyebab kegagalan budidaya perikanan saat ini dipengaruhi oleh tiga hal yaitu Penyakit infeksi virus, bakteri dan parasit, Benih yang tidak adaptif pada dinamika lingkungan dan penyakit, dekonstruksi lingkungan dan rangkaian operasional yang tidak ramah lingkungan. Tiga faktor penyebab kegagalan budidaya tersebut akibat tidak dilaksanakan sistim budidaya yang sehat dan aman.

Kesehatan Ikan

Peningkatan produksi perikanan budidaya yang berdaya saing dan aman di konsumsi hanya dapat dihasilkan dari kawasan budidaya yang sehat. Untuk menciptakan kawasan budidaya yang sehat dapat dilakukan dengan pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan pembudidayaan ikan melalui beberapa kegiatan yaitu ,Pertama Pengendalian obat ikan, bahan kimia dan bahan biologi (OIKB); merupakan salah satu upaya mengimplementasikan sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan pada proses pembudidayaan ikan, agar produk perikanan budidaya Indonesia diterima dan memiliki daya saing yang kuat di pasar global seperti UE, Jepang dan AS.

Kedua Standarisasi Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan sesuai Peraturan Pemerintah nomor 01/MEN/2007 tentang Pengendalian Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan khususnya pasal 13 yaitu Laboratorium diharapkan menjadi salah satu komponen penting dalam upaya pengendalian penyakit ikan, pengelolaan lingkungan dan pemenuhan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan. Laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan diarahkan dengan 2 peran utama yaitu pertama sebagai pihak penyedia data dan informasi dari hasil pengujian laboratorium untuk pengambilan keputusan dalam mencapai target produksi dan keamanan pangan, serta kedua dituntut berperan sebagai pihak yang independen dan kompeten.

Ketiga pengendalian residu. Salah satu indikator untuk menjamin mutu dan keamanan produk perikanan budidaya dalam rangka meningkatkan daya saing di pasar internasional adalah terkendalinya kandungan residu pada produk perikanan budidaya, sehingga kandungan residu obat ikan, kimia dan kontaminan tidak terdeteksi atau berada dibawah ambang batas yang dipersyaratkan oleh Uni Eropa dan buyer lainnya.

Keempat, pengendalian penyakit. Ikan masalah penyakit ikan telah menjadi salah satu masalah terbesar yang harus dihadapi para pembudidaya ikan di seluruh dunia pada beberapa tahun belakangan ini. Produksi ikan telah sangat dipengaruhi oleh adanya berbagai wabah penyakit ikan seperti wabah penyebaran virus Koi herpes virus (KHV), viras nervous necrosis (VNN), white spot syndrome virus (WSSV) maupun yang disebabkan oleh penyebaran bakteri seperti wabah Aeromonas hydrophilla dan Mycobacterium sp yang masih menjadi masalah yang serius terutama pada budidaya ikan air tawar dan Ikan hias, atau infeksi pathogen Vibrio sp yang dapat menyebabkan ikan laut ekonomis penting seperti Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) mengalami kematian.

Vaksinasi pada ikan adalah usaha meransang daya tahan tubuh ikan dengan memasukkan bibit penyakit yang dilemahkan dan diproses dengan bahan lain, atau usaha merangsang pembentukan antibodi sehingga terjadi kekebalan tubuh pada ikan. Beberapa vaksin yang tersedia dan dapat diaplikasikan pada pembudidayaan ikan yaitu Aeromonas hydrophila, Vibrio sp, Streptococcus agalactiae, Streptococcus iniae, Koi herves virus, Viral nervous necrosis, dan Iridovirus.

Related posts